Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Sekitar kurang lebih dua minggu lalu, saya bertemu dengan adik angkatan yang luar biasa tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Sebuah pertemuan yang memang sudah saya setting dari jauh-jauh hari yang sempat batal hingga dua kali, hingga akhirnya kami dipertemukan oleh sebuah nikmat bernama kesempatan. Kami bersepakat bertemu di sebuah kedai susu, sebut saja Kalimilk *haha* di tengah derai hujan yang menghiasi suasana sore saat itu.

Saya terakhir kali bertemu dengannya sekitar bulan November 2014 di tempat yang saya pikir semua orang tak menginginkannya, yap, saya bertemu dengannya di RS Panti Rapih dan sekitar dua minggu lalu saat dia menyapa dan menyalami saya, sosoknya tidak banyak berubah. Dia tetap saja seorang yang saya kenal sebagai sosok yang penuh semangat, optimis, dan punya banyak proyek yang sedang dibangunnya. Dulu saya tidak begitu dekat dengannya, tapi semoga dengan sebuah semangat ‘kerja’ di masa sekarang hingga nanti, kami bisa sedekat segelas susu hangat dan genggaman tangan.

Pembicaraan mengalir begitu saja, hingga saat itu saya bergumam bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana rentang waktu yang lama dibasuh dengan sebuah pertemuan yang tak lama. Bahagia itu sederhana, sesederhana ketika saya sangat ingin bertemu dengan semua sahabat saya satu persatu dan mendengarkan setiap kisah mereka. Sangat sederhana bukan?

Bahagia yang terasa sederhana itu akhirnya saya sadari bahwa saat itu saya dalam sebuah keadaan yang menerima, menerima kenyataan yang sesuai dengan ekspektasi saya sekaligus berada di antara rasa syukur. Lalu bagaimana bisa bahagia itu tidak sederhana?

“Mbak, coba pegang deh tanganku!”

“Kok ada getarannya? Kaya ada mesinnya.”

Dia yang di depan saya lantas tersenyum dan berkata, “Iya Mbak, jadi pembuluh arteri dan vena disambung, di jantungku juga. Ada di tiga bagian.”

Obrolan kami berlanjut hingga di scene tertentu saya dibuat kaget dengan penyampaian cerita yang ringan namun begitu berat sampai di telinga saya.

“Ini bekas luka jarum sewaktu cuci darah, Mbak. Jarumnya kira-kira sebesar pulpen itu. Karena harus 2x dalam seminggu, luka bekas jarum sebelumnya belum sembuh udah harus ditusuk lagi. Kalau sekarang aku udah pasang selang di perut trus ada semacam kran gitu untuk cuci darah mandiri, sehari 2x.”

Di tengah rasa penasaran, saya akhirnya berani bertanya kekuatan macam apa yang membuatnya bisa sangat menerima dan tetap begitu bersemangat menjalani hari-hari dengan aktifitas yang tidak sedikit serta saya masih kagum mendapati dia berucap “Aku bersyukur, Mbak. Teman-temanku dengan kondisi HB yang rendah kaya aku mereka harus transfusi. Mereka udah gak pipis, sedangkan aku masih bisa meski sedikit gak ada segelas aqua.”

Baginya, proses menerima adalah sebuah perjalanan rasa yang panjang, menjadi kuat dengan penuh semangat adalah usaha yang tiada pernah kita tahu seberapa banyak air mata yang dikeluarkan untuk meminta pada Sang Pemilik Daya untuk dianugerahkan pundak yang kuat dan langkah yang tegap. Kita tak pernah tahu, seberapa hebat orang-orang terdekatnya menghiburnya dengan tanpa air mata yang terlihat.

“Aku juga harus meng-cut mimpi dan cita-citaku, Mbak. Tapi bukan berarti aku diam aja, harus ada mimpi lain yang menggantikan dan usaha untuk mewujudkannya, yang penting terus bersyukur kan ya?”

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azabku sangatlah pedih.” (QS. 14:7).

Sebelum kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kami, saya dihampiri pertanyaan, “Aku masih cantik kan Mbak?” Sambil ia tertawa kecil dan menunjukkan foto-foto para CKD Survivor yang secara usia masih muda tetapi terlihat (jauh) lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Cerita dalam kehidupan kita adalah sebuah takdir yang bahkan kita sendiri tak mampu menerka pun merabanya. Selagi ada kesempatan, jangan biarkan menyerah pada keadaan atau merutukinya. Untuk bersyukur pun, terkadang kita hanya ingat ketika kita mendefinisikan sesuatu itu sebagai keadaan yang bahagia, khusus ini saya pun sering berada di posisi ini. Semoga bisa semakin berbenah diri dan senantiasa mampu mengambil saripati di setiap kejadian dalam kehidupan kita maupun cerita di sekeliling kita.

Jadi, bahagia itu sederhana ataupun tidak sederhana hanyalah bagaimana kita memandang dan menerima keadaan pada saat kita mendefinisikan bahagia itu sendiri.

Terus semangat dan berkarya, kawan!

Ohya, ingin kenalan dengan sosok yang saya ceritakan? Yuk, nonton video di bawah ini ya 🙂

Cerita Ramadhan Hingga Mudik Lebaran Bersama Sahabat Vermint

Ramadhan tahun ini benar-benar berkesan untuk saya. Bagaimana tidak, segala lika-liku, tantangan, hingga cerita manisnya bak legitnya madumongso berpadu nastar dengan selai nanas *hahaha*

Akhir Mei lalu menjelang Ramadhan, saya sempat sakit demam plus-plus lalu berakhir dengan radang tenggorokan yang cukup menyita perhatian orang-orang di sekitar saya, karena perubahan suara yang membuat saya juga lumayan takjub 😀 Mulai dari serak-serak basah kemudian suara timbul tenggelam yang puncaknya suara tidak muncul sama sekali hingga kembali ke serak-serak basah yang jika saya bersuara di ruang ber-AC atau tempat yang tenang maka suara saya akan sangat menyita perhatian.

Radang tenggorokan yang tetap bertahan hingga Ramadhan datang dan bagi saya bukanlah hal yang mudah menjalani puasa dengan kondisi yang tidak fit sempurna.  Dalam kondisi seperti itu biasanya ketahanan tubuh juga naik turun. Apalagi saya memiliki alergi, salah satunya  jika terkena debu, hidung saya akan mbeler-mbeler dan jadi anak ingusan *hahaha 😀

Efek lain yang timbul dari radang tenggorokan yaitu, batuk yang membuat perut terasa kencang, kadang juga hingga kram perut. Badan yang rasanya selalu meriang. Duh, rasanya sedap. Semoga bisa jadi penggugur dosa apalagi bisa tetap menjalankan puasa bagi saya sudah nikmat luar biasa. Kedatangan bulan Ramadhan nikmatnya jauh lebih besar dan jauh lebih membahagiakan daripada rasa sakit yang (mungkin) tak seberapa.

Ramadhan tahun ini, dengan adanya sakit yang berlapis membuat saya melakukan persiapan yang lebih matang daripada sebelum-sebelumnya. Tak hanya persiapan ruhiyah, tetapi juga persiapan lahiriyah. Mas partner yang benar-benar totalitas menyiapkan stok buah-buahan, kurma, madu, dan cemilan 😀 Sedangkan saya tinggal santai-santai aja sambal mengingat instruksi Mas Partner. Nggak ding, Alhamdulillah, saya juga menyediakan stok Vermint untuk menjaga daya tahan tubuh. Terasa manfaatnya menjadi Sahabat Vermint untuk saya. Karena Vermint adalah supplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, Alhamdulillah membantu dan menemani saya menjalani puasa di bulan Ramadhan dengan bahagia, lancar, tenang, dan jauh dari loyo-loyo meski dengan batuk-batuk yang sering datang dan pergi, badan panas-dingin, perut kram, dan mual-mual.

Ngomong-ngomong tentang Vermint, saya punya pengalaman yang menyenangkan. Saya memiliki beberapa alergi dan sistem pencernaan yang kurang bagus khususnya siklus BAB *hehehe ^^v Nah, setelah resmi menjadi Sahabat Vermint saya akhirnya menyadari saya bisa BAB tiap hari lalu saya sempurnakan dengan FC juga. Bagi orang lain bisa saja itu biasa aja, tapi bukan bagi saya. Bagi saya itu luar biasa. Bahkan saya selalu berkabar soal itu pada sahabat saya, Aulia. *hahaha…ups*

Ramadhan dan lebaran pastilah tidak bisa dipisahkan lagi hingga sebagian besar warga ibukota seperti saya yang pastinya akan menjalani mudik lebaran. Mudik lebaran ini hukumnya wajib bagi saya dan Mas Partner. Apalagi mudik yang akan saya dan Mas Partner jalani itu tak hanya mudik ke Ngawi (rumah orangtua kami) tetapi juga ke Tulungagung, rumah Embah dari Ayah Ibuk saya. Yap, double mudik. Awalnya saya merasa berat untuk mudik karena komdisi tubuh yang naik turun, lalu memantapkan niat dan hati untuk mudik ditemani oleh Vermint, sahabat setia yang membantu menjaga daya tahan tubuh tetap dalam kondisi baik. Alhamdulillah mudik ke Ngawi lancar dan saya pun tetap dalam keadaan sehat.

IMG-20160625-WA0010

Mudik lanjutan setelah Jakarta-Solo, ini di tengah perjalanan mudik Solo-Ngawi dengan motor dan sista cantik kesayangan 😀

Ketika sampai di rumah, tantangan justru bertambah. Jika di Jakarta masih lumayan hujan tercurah, tetapi di Ngawi benar-benar kering, panas, dan membuat debu leluasa terbang kemana-mana. Jadilah saya semakin harus bertanggungjawab menjaga daya tahan tubuh agar di sepuluh hari terakhir bisa mencapai titik maksimal untuk tamu special yang kemuliaannya tak ada tandingannya. Selain sayur, buah, kurma, dan madu, Vermint masih menjadi sahabat saya mempersembahkan yang terbaik. Nah, akhirnya, Vermint tak hanya menjadi sahabat saya saja, tetapi juga menjadi sahabat ibuk dan ayah saya. Setelah mengonsumsi Vermint beberapa hari, Ibuk merasa tidak cepat lelah seperti biasa, panas-panas di telapak kaki juga banyak berkurang dan kolesterol setelah dicek juga dalam keadaan normal. Kata Ibuk, badan bisa jadi lebih segar. Beda lagi cerita dari Ayah, beliau memiliki alergi yang hampir sama dengan saya, setelah beberapa hari menjadi sahabat Vermint, Ayah saya jarang mbeler-mbeler lagi jika kena debu. Jadi, bersemangatlah keduanya menjadi sahabat Vermint.

DSC_0002_1468139014

Mudik ke-3, Ngawi-Tulungagung bersama keluarga

Ada satu lagi cerita menyenangkan tentang Vermint. Tadi pagi, ada seorang sahabat yang berkunjung ke rumah. Sahabat saya ketika SMP sekaligus sahabat bahkan belahan jiwa Mas Partner dari SMA hingga sekarang. Dia bercerita bahwa pernah berkunjung ke pabrik pembuatan Vermint dan menceritakan betapa bersih pabrik hingga proses pembuatannya. Ah, makin antusias menjadi sahabat Vermint untuk berbagi manfatnya.

Menjadi sahabat Vermint itu bagi saya adalah sebuah usaha untuk menjaga nikmat sehat tetapi juga tidak melupakan dengan selalu memohon anugerah sehat yang titipkan Allah. Karena anugerah sehat itu datang dengan beragam cara dan berbagai perantara. Kewajiban kita adalah berusaha, iya kan? Iya kan? 🙂

Selain itu, kita juga harus memiliki hati yang bahagia, tentram, dan tetap optimis. Karena pernah ada yang mengatakan bahwa Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, jadi tetaplah berprasangka baik bagaimanapun keadaannya agar Allah titipkan bahagia di hati dan pikiran hingga sehatnya badan yang menunjang segala aktifitas kebaikan sebagai salah satu wujud syukur pada anugerah Allah. 🙂

imej vermint

 

Kisah Lampu Duduk di Sudut Ruangan

DSC_0004 (1)

Lokasi: Community Coffee Bintaro, Lantai 2

Jam berdentang ratusan kali. Ia, duduk terdiam. Tak peduli orang-orang yang berada di sekelilingnya, meski dalam satu ruangan. Begitu juga orang-orang itu, tak peduli akan kehadirannya walau dalam satu ruang yang sama juga. Mereka terus berbincang, berfoto, membentuk koloni, tertawa kencang, tertunduk di depan gadget atau hanya asyik menikmati hidangan.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih terlihat. Sama, di tempat itu di pojok ruangan. Ia hanya akan bertukar posisi jika sang pemilik ruang datang dan ingin pemandangan yang berbeda. Namun, tempatnya tetaplah di sudut ruangan. Orang-orang silih berganti dalam ruangan. Tetap saja tak ada yang menyapanya. Jangankan menyapa, menganggapnya ada itu suatu hal yang langka.

Jam berdentang ratusan kali. Ia, masih di sana. Menunggu ada yang menyapanya. Menunggu ada yang memberi salam dan bertanya kabarnya. Menunggu ada seseorang saja yang menyadari kehadirannya. Ia, menyukai saat jelang senja. Saat matahari mulai turun dari singgasana. Jelang senja memberi arti untuknya. Saat jelang senja, ia akan menyala berharap menarik banyak perhatian setiap hiruk pikuk di ruangan.

***

Saya berlama-lama menatapnya, sebuah lampu duduk yang berada di sudut ruangan. Saat saya menikmatinya, saya justru didatangi banyak ingatan tentang curhatan-curhatan atau pun cerita dari beberapa orang yang berkisah tentang terasing, (merasa) diasingkan, dikucilkan, tak dianggap hingga berkurangnya rasa percaya diri. Saya mendapatkan cerita secara langsung, maupun berupa kisah, atau bahkan hanya sebuah celetukan candaan.

Ada masa di mana seseorang atau bahkan saya yang tiba-tiba merasa seperti butiran milo. Suatu saat, ketika air panas datang maka larutlah sudah. Benar-benar ada yang seperti ini. Ada yang (merasa) tak dianggap karena bisa dengan banyak alasan yang ada. Atau dengan menarik diri dengan sengaja karena sikap orang-orang di sekitarnya.

Salah satu dari sekian banyak kesukaan saya adalah saya akan banyak diam di tempat yang benar-benar baru saya kunjungi. Saya diam bukan karena saya sombong tapi saya sedang berpikir dan melakukan pengamatan. Yaah, sambil menutupi sikap norak dan ndeso saya saja sih. 😀

Saya menyadari dan saya pikir ada orang-orang yang merasa bernasib sama dengan kisah lampu duduk di sudut ruangan. Namun, saat itu benar-benar menampar saya ketika saya terlalu jumawa karena sebuah pengakuan. Apa yang sudah saya lakukan? Ah, betapa sebenarnya saya seharusnya malu pada si lampu duduk di sudut ruangan itu. Ia, banyak terabaikan dari pandangan. Ia, banyak terlewat dari perhatian. Namun, ia adalah sebenar-benar penggembira karena terangnya. Yap, bermanfaat!

Seringkali, saya ataupun kita melupakan kehadiran seseorang atau (sedikit) meremehkan seseorang dengan sangat cepat dan mudah. Namun, kita terlupa dan mungkin pandangan kita tertutup bahwa sebenarnya ia yang kita anggap di barisan terakhir itu adalah orang yang paling aktif menebarkan manfaat. Ia bergerak tanpa pujian. Ia berkarya tanpa ingin dianggap ada. Terus menerus tanpa henti dan tanpa rasa penat di hati, pun tanpa menarik diri.

Dalam sebuah diri, dalam sebuah jiwa sudah ada kelebihan yang Tuhan titipkan. Potensi dan kelebihan itu menunggu untuk terus diulang-ulang. Tak perlu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Bukan membandingkan, tapi jadikan orang lain sebagai semangat. Tak perlu menarik diri, tak perlu menenggelamkan diri di dasar lautan kenyataan, tak perlu merasa sedang berada di pojokan karena sungguh setiap diri yang berharga adalah yang paling bermanfaat dengan beragam cara, beragam jalan, dan berbagai rupa. Tak melulu menempuh dengan jalan yang sama. Ya, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

“Mungkin mereka bulan, tapi ingat kau MATAHARI. Cahaya mereka darimu.” -Tulus-

Jadilah dirimu dengan segudang kelebihanmu. Seperti kisah lampu duduk di sudut ruangan itu yang terus menyala meski tak banyak orang yang memedulikannya. Kita cukup berkarya dan semoga menjadi bagian dari insan yang paling banyak memberi manfaat untuk semesta. Bergembiralah dengan caramu!

 

Jangan Jadi Blogger Nyebelin

Well, sebenarnya tulisan ini sudah siap dari semalam (19/6) saat nunggu suami tarawih sudah saya susun sedemikian rupa sehingga (insyaAllah) enak dibaca, nggak bikin iritasi mata, dan tentunya semoga bermanfaat. Namun, baru bisa muncul di blog karena saya terkendala belum menemukan judul, semoga judulnya ‘klik’ dengan isi tulisan yang  sudah saya rapikan. 😀

13445379_998422840206334_5613665139417195702_n

Sedikit intro dulu ya 🙂
Tulisan ini saya tulis sesudah purna memenuhi undangan dari Mbak Wawa, Founder BloggerCrony Community, dalam rangka  #BloggerHangout yang merupakan acara rutin dari BloggerCrony Community. Tujuan diadakannya #BloggerHangout ini adalah untuk meningkatkan kualitas teman-teman blogger yang dinaungi oleh BloggerCrony. #BloggerHangout (19/6) kemarin adalah acara yang keempat dan pertama kali diadakan di Community Coffee Bintaro ditambah dengan konsep yang berbeda dari acara #BloggerHangout sebelumnya yang selalu diadakan di SCTV Tower dengan konsep potluck. Dari segi jumlah peserta, #BloggerHangout yang keempat pesertanya lebih banyak daripada sebelumnya. Spesial lagi, #BloggerHangout diadakan tepat di Bulan Ramadlan serta didukung oleh Toska PR dan Momeira Apparel.

Tema yang diangkat dalam acara kemarin adalah “Kepribadian Yang Mendukung Personal Branding” khususnya untuk para blogger dan seberapa penting personal branding bagi para blogger. Menarik bukan?

Karakter atau kepribadian (personality) seseorang itu layaknya sebuah ‘aura’ yang terpancar dari dalam diri. Karakter sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang dengan kadar yang berbeda. Oleh karena itu, setiap orang memiliki effort yang berbeda dalam usaha menguatkan karakter yang nantinya akan menjadi ciri khasnya atau sesuatu yang spesial maupun kesan yang akan diingat oleh orang yang pernah mengenalnya. Karakter yang sudah kita miliki adalah bagian dari brand. Menggambarkan siapa diri kita. Brand itu berupa keahlian, kemampuan, keterampilan, keunggulan yang ada pada diri kita dalam bidang yang kita tekuni.

Dari sana akan terlihat bahwa branitu harus dibangun yang artinya harus ada effort yang besar yang harus dikeluarkan, termasuk dalam membangun personal brand bagi diri kita. Modal utama dan pertama yang harus dimiliki dalam rangka membangun  personal brand adalah harus memiliki attitude yang baik serta  positive-thinking. Selanjutnya, Mbak Atiek menambahkan 3 tips cara membangun personal brand yaitu,

  1.  One Word
    Caranya adalah sejenak kita tutup mata, pikirkan, renungkan lalu putuskan satu kata sifat yang benar-benar mewakili diri kita. Misal, kalau saya kemarin ditanya kata sifat yang ada dalam benak saya adalah cerdas. Cerdas dalam segala hal, mengambil keputusan, wawasan, sikap, adab, tutur kata, emosi, dan kawan-kawannya. Setelah kita memutuskan satu kata sifat yang akan menggambarkan diri kita, saat itulah kita harus fokus membangunnya.
  2. Meningkatkan kelebihan pada diri
    Nah, ini adalah poin penting. Sebagian orang merasa tidak memiliki kelebihan kecuali kelebihan berat badan *hahaha, becanda 😀
    Setiap orang memiliki kelebihan, disadari atau belum disadari. Semoga segera menyadari kelebihan masing-masing yang Allah titipkan. Kelebihan ini banyak sekali ragamnya, misalnya jago berniaga, menulis, mendongeng, berbicara, bersyair, bernyanyi dan banyak hal lainnya. Nah, saat kita sudah menyadari apa kelebihan ditambah lagi itu bagian dari passion kita, mari fokus untuk terus berusaha meningkatkan kualitasnya.
  3. Quantity/Repitisi/Latihan
    Nah, sudah teridentifikasi apa kelebihan yang kita miliki? Langkah selanjutnya adalah latihan yang berulang-ulang dengan kuantitas yang banyak. Misalnya, service dari seorang blogger adalah melalui tulisan. Tulisan yang bagus dan berkualitas tidak terlahir begitu saja. Dibalik tulisan yang bagus ada proses yang panjang dalam banyak latihan. Kalau kata dosen matakuliah Komposisi Arab, menulis adalah sebuah keterampilan yang harus diasah dengan latihan. Sense of Writing (biasanya diucapkan dalam bahasa Arab) juga harus dihadirkan dalam sebuah tulisan agar tidak hambar. Yap, kunci utamanya adalah latihan. Tidak hanya menulis, saya pikir apapun keahlian yang kita miliki harus setiap saat dilatih, dilatih, dan terus dilatih.

Begitulah 3 tips atau cara membangun personal brand ala Mbak Atiek Moerino. Jika membicarakan personal brand saya pikir tidak akan terlepas dari keberadaan apa itu yang disebut dengan kepribadian atau personality. Iya kan? Nah, selanjutnya Mbak Ririn memberikan 10 tips bagaimana membangun kepribadian yang baik, khususnya untuk para blogger agar makin ciamik.

  1. Sopan santun itu penting
    Poin yang (sangat) penting ini bisa dilakukan dengan dimulai dengan hal-hal yang sangat sederhana. Contohnya, mudah berkata maaf, permisi, terimakasih. Jika terlambat datang ke sebuah acara, ucapkanlah maaf.
  2. Respect
    Misalnya: datang ke sebuah acara mengajak (beberapa) partner tanpa konfirmasi. Hal ini bisa membuat panitia merasa tidak maksimal dalam persiapan. Jika tidak bisa datang harus ada konfirmasi, bukan dengan tanpa kabar.
  3. Assective
    Berani berkata lugas dengan mengungkapkan pendapat atau pandangan dengan cara yang lebih baik. Misal, sebaiknya begini, sebaiknya begitu, sepertinya itu kurang pas. Pendapat atau saran yang kita susun dalam kalimat yang baik akan mendarat dengan mulus tidak hanya di pikiran tetapi juga di hati yang kita ajak bicara.
  4. Empati
    Simpati yang disertai dengan tindakan atau aksi nyata.
  5. Attentive
    Memiliki perhatian pada orang lain. Biasanya perhatian ini bisa ditunjukkan denganhal-hal yang sederhana. Saling sapa atau dengan memberi kado juga boleh banget. 😀
  6. Ketulusan
    Mengatakan apa pun atau bertindak dengan tulus, di depan mau pun di belakang sama, bukan sekedar basa-basi belaka.
  7. Optimis
    Kalau saya, optimis menjadi seorang blogger adalah optimis bisa berpartisipasi menyediakan konten bacaan yang berkualitas dan bermanfaat di tengah cibiran media ini begini, media itu begitu.
  8. Self-Confident
    Percaya diri ini penting dimiliki seorang blogger agar mudah belajar dan meningkatkan kualitas diri, menjalin dengan banyak komunitas dan bertemu dengan banyak orang/klien.
  9. Hospitality & friendly
    Dengan sebuah keramahtamahan yang kita suguhkan itu akan membuat orang lain nyaman di dekat kita.
  10. Attention to look
    Ini dia, penampilan itu penting meskipun bukan yang utama, karena hal yang utama adalah personality atau kepribadian kita. Penting karena penampilan itu seperti pintu pertama untuk menilai seseorang. Dalam berpenampilan tidak perlu memakai barang-barang mewah atau branded. Kita hanya butuh strategi kecil untuk berpenampilan yang bagus dan enak dipandang. Misalnya, menyesuaikan pakaian yang kita kenakan sesuai dengan acara atau agenda yang akan dihadiri jangan sampai salah kostum :D, padu padan warna dan motif, rapi, dan sesekali wangi bolehlah asal nggak berlebihan. Contohnya, memakai kaos kaki yang bersih, krudung dan baju yang disetrika rapi. Membuat penciuman dan pandangan orang lain nyaman itu juga ibadah lho, meski dengan berpenampilan sederhana, tidak berlebihan, apa adanya ya bukan adanya apa, itu sih masih asal-asalan. Yap, itu semua sudah lebih dari cukup.

Semoga bisa jadi bahan berbenah bagi kita semua, tulisan ini meski kemarin bertajuk untuk blogger tapi bisa banget diterapkan oleh siapa pun yang bukan blogger. Semoga kita para blogger bisa jadi blogger yang nyenengin ya, bukan blogger yang nyebelin…hehehe
Semoga membawa manfaat bagi kita semua yaaa… 🙂

Baju Momeira

Oleh-oleh dari #BloggerHangout dipersembahkan Momeira Apparel

Community Coffee 3

Bersama para blogger keren, sumber foto dari Buncha

Community Coffee 4

Sumber foto dari Buncha

nb: 1. Foto-foto kegiatan menyusul ya, karena selama kegiatan saya sibuk nyatat *bukan pencitraan…hahaha* karena sudah ada fotografer dan videografer. 2. Ulasan tentang Community Coffee Bintaro akan diposting terpisah. ^^

AIA Sakinah Assurance: Tenang, Optimal, dan Bahagia

 

AiA

Adakah yang memiliki pengalaman berasuransi? Nah, kali ini saya ingin sedikit cerita tentang pengalaman berasuransi, bukan saya secara langsung sih, tapi pengalaman orangtua…hehe

Sekitar akhir tahun 2014, ayah dan ibu saya (sedikit) direpotkan oleh pihak asuransi. Uang yang seharusnya diterima di akhir tahun 2014 hilang melayang tanpa kabar. Kantor asuransi yang berada di kota orangtua saya tinggal, di Ngawi, sudah tutup. Tinggal papan nama saja. Lalu, orangtua saya ikhtiyar mencari alamat kantor asuransi yang bersangkutan di Madiun. Hasilnya, kantor yang di Madiun juga sudah tutup. Tidak sampai di situ saja usaha yang dilakukan, saya juga mencoba mencari kantor asuransi tersebut di Jogja. Saya cari alamatnya melalui bantuan Google yang semua orang mengakui keserbatahuannya. Ada beberapa alamat yang saya dapat waktu itu. Kantor pertama yang saya tuju adalah kantor di daerah Jalan Kusumanegara, bahkan sampai bolak-balik 4 kali untuk benar-benar memastikan pun kantor asuransi tersebut sudah tidak ada. Alamat kantor yang saya dapatkan itu sudah berubah menjadi toko mainan. Hingga akhirnya, ayah saya mengatakan kalau kantornya memang benar sudah tutup. Setelah segala usaha telah dilakukan, akhirnya memang harus pasrah dan menerima kalau memang belum rejeki.

Nah, sejak saat itu ayah dan ibu saya tidak pernah mengambil jasa asuransi lagi karena takut berakhir dengan nasib yang sama, meskipun sebenarnya juga masih membutuhkan. Beberapa bulan belakangan ini, saya pun juga berfikir tentang asuransi. Jadilah saya cari-cari informasi, tanya sana tanya sini, bahkan ikut beberapa sosialisasi dari penyedia jasa.

Seperti halnya jodoh, menentukan pilihan akan menggunakan jasa asuransi juga membutuhkan kemantapan hati dan kecocokan lhoo… *hahaha* 😀 Caranya dengan menggali info sedetail mungkin, profil penyedia jasa hingga testimoni pengguna jasanya. Ya, hampir sama kan ketika akan memantapkan hati melangkah untuk meminang? 😀

Saya pun demikian, ada usaha yang saya keluarkan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya misal saya ikut sosialisasi yang diadakan oleh AIA dan semakin saya tahu lebih dalam maka pilihan hati saya condong ke Asuransi AIA Sakinah Assurance. Semakin saya kepo semakin lagunya Mas Anang terngiang berdendang “Jodohku, maunya ku dirimu”. 😀

DSC_0002 (1).jpg

Acara Blogging & Beyond bersama Blogger Perempuan, Valuklik, dan AIA di Institute Coffee, Jakarta Selatan.

Saya menemukan hal yang berbeda lebih tepatnya konsep yang diusung oleh Asuransi AIA Sakinah Assurance yaitu mengangkat tentang filosofi persahabatan sejati. Terlihat sederhana bukan? Namun, bagi saya filosofinya yang dimiliki begitu besar. Sahabat sejati itu akan berusaha ada di kala sedih maupun senang. Nggak ilang-ilangan. Bisa menghadirkan kenyamanan dan menjaga kepercayaan. Memiliki sahabat sejati itu anugerah lhoo. Siapa yang nggak kepengen? Saya yakin semua menginginkannya. Nah, penjelasan tentang konsep persahabatan sejati yang dimiliki Asuransi AIA Sakinah Assurance saya buat di gambar agar lebih mudah dibaca dan dinikmati.

Untitled-1

Selain memiliki filosofi yang nggak main-main, penyedia asuransi yang satu ini memiliki alamat kantor yang jelas di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan serta memiliki customer service yang selalu on dan siap melayani dan tentu saja dengan pelayanan yang ramah dong ya… 🙂

AiA Sakinah

Sumber gambar di sini.

Asuransi AIA Sakinah Assurance juga memberikan manfaat berupa manfaat proteksi dan investasi. Manfaat proteksi yaitu, 100% santunan meninggal, +100% santunan meninggal kecelakaan, +100% santunan meninggal kecelakaan saat menjalankan ibafah haji ataupun umrah. Serta manfaat investasi berupa 100% nilai dana investasi yang terbentuk dari kontribusi yang diinvestasikan. Selain itu masih ada manfaat tambahan lainnya, berupa asuransi kesehatan, asuransi perlindungan terhadap penyakit, dan asuransi perlindungan terhadap cacat tetap total.

Nah, penasaran? Coba deh main-main ke ‘rumah’ AIA Sakinah Assurance agar kebingungan-kebingungan untuk menentukan pilihan bisa (sedikit) tercerahkan. ^^

Mengatur Waktu Untuk Mencapai Target Ramadlan Yang Maksimal

Kata pepatah Arab, al Waqtu Kassyaifi bahwa waktu itu seperti pedang. Jika direnungkan secara mendalam memang benar waktu itu bagai pedang yang tajam. Begitu sangat berharganya waktu bagi kita maka kita pun dituntut untuk berlomba-lomba dalam meraih dan menjemput kebaikan. Lebih-lebih ini bulan Ramadlan, satu di antara dua belas bulan yang paling mulia bagi para muslim yang memang benar-benar harus dimanfaatkan untuk menjemput keberkahan dan menciptakan kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Nah, bicara soal waktu, sering kali kita bahkan saya sendiri sering terlena dengan hal-hal yang menyenangkan dan akhirnya berujung pada menunda-nunda tugas atau kewajiban, padahal waktu yang ada sangat terbatas, bukan?

Saya percaya setiap orang memiliki strategi yang berbeda-beda dalam menyiasati akan terbatasnya waktu yang dimiliki dengan segudang aktifitas agar semua rencana dalam satu hari itu bisa diselesaikan dengan baik. Saya pun demikian, masih sering kesulitan mengatur waktu, lebih jika moody ‘ah, nanti ajalah.’, ‘ah, besok ajalah.’, dan tak terasa kesempatan yang datang sudah lewat begitu saja.

Banyak usaha yang harus dilakukan untuk mencapai target-target di bulan Ramadlan, terutama target pribadi ditambah juga dengan bertambahnya undangan untuk berbuka puasa bersama dari penyelenggara yang berbeda, saya biasanya sih begitu. 😀 Apalagi ini Jakarta, ditambah dengan jarak tempuh yang sangat dipengaruhi oleh kemacetan, ketinggalan kereta atau bus yang ditunggu tak kunjung datang. Di sanalah seringnya saya merasa mendapat tantangan yang lebih saat menjalani Ramadlan tahun ini.

Sejak tinggal di Jakarta beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk menambah aksesoris di tangan saya. Yap, saya memutuskan memakai jam tangan untuk menyiapkan estimasi waktu misal saya harus bepergian menghadiri acara atau ada janji. ‘Kenapa gak pake HP aja sih?’ pernah ada yang tanya begitu, kalau saya sih menengok waktu melalui jam tangan itu terasa lebih elegan *hahaha 😀 apalagi jika jam tangan yang dipakai itu sesuai dengan karakter saya yang nggak bisa diam dan suka jalan-jalan. Saya biasa menggunakan tipe jam expedition wanita selain ada sentuhan wanitanya juga ada kesan sporty dan free spirit. Jam expedition wanita juga mudah didapatkan salah satunya di MatahariMalll.com. Jangan terlalu underestimate bahwa jam tangan untuk wanita ya gitu-gitu aja, pinky-pinky. Oh, it’s no big deal, jam expedition wanita banyak modelnya, bisa dipilih sesuai dengan gaya, karakter, daaaaaan budget. *hihihi

Dengan adanya jam tangan yang terus menempel, bagi saya akan sangat mudah mengatur waktu dan merencanakan kegiatan beserta target yang harus dicapai dalam satu hari. Ketika di bulan Ramadlan ini banyak aktifitas di luar, bagi saya jam tangan sangat membantu saat harus hitung-hitungan kapan harus move on lagi dari satu tempat ke tempat lain karena saya hampir selalu lupa waktu jika sudah bertemu dengan teman, yes, keasyikkan ngobrol. *hahaha 😀

Jam tangan yang senantiasa menempel bisa menjadi pengingat bagi kita bahwa waktu terus berjalan bahkan waktu itu berlari sedangkan kita tidak bisa dengan seenaknya menunda-nunda aktifitas yang harus kita lakukan. Secara tidak langsung, jam tangan yang kita kenakan akan memaksa kemudian menjadikan diri kita terbiasa sebagai pribadi yang menghargai waktu dan orang lain. Menjadikan kita pribadi yang tepat waktu tak hanya urusan dunia tetapi juga urusan ibadah terutama di bulan penuh berkah agar aktifitas yang kita lakukan bisa lebih efektif dan maksimal. Biar makin dekat dan disayang Allah. Nah, itu cerita pengalaman saya dengan sebuah jam tangan. Semoga bermanfaat ^^

67294_XWJ00000100000567_1_swiss-expedition-e-6653-m-stainless-–-ring-orange-–-chronograph

Sumber gambar di sini

 

Menemukan Benang Merah: Anak Muda, (Konser) Musik, dan Rokok

940916_1676174505971221_1145406261032620270_n

Gambar diambil dari FB Smoke Free Agent

“Mangan ra mangan sing penting kumpul.” (Makan gak makan yang penting kumpul), semboyan itu pastilah sudah tak asing lagi di benak kita. Sebuah semboyan yang menyatakan betapa asiknya berkumpul atau bercengkrama meskipun tak harus diakhiri dengan makan-makan. Biasanya semboyan itu akan lebih sering menempel pada gaya kumpul-kumpul ala anak muda.

Bicara tentang anak muda, sejenak saja kita akan teringat tentang beberapa iklan rokok yang bertebaran di layar televisi, maka kita akan menemukan hal yang mendominasi dari hampir semua iklan rokok itu adalah tentang semangat kaum muda. Iklan rokok yang biasa muncul di layar televisi biasanya akan mengangkat isu kekinian yang tak jauh dari hingar bingar kaum muda, seperti semangat traveling, gambaran sebagai lelaki sejati, tantangan, dan lain-lain. Sebagaimana slogan yang diangkat oleh masing-masing merk rokok dalam iklannya, contohnya “Ekspresikan Aksimu”, “My Life My Adventure”, “Selera Pemberani”, “Pria Punya Selera”, “Go Ahead”, “Emang Bikin Bangga”, “Enjoy Aja”, “Buktinya Merahmu”, “Ga Ada Loe Ga Rame”, “Talk Less Do More”, “Asiknya Rame-Rame”, dan “Other Can Only Follow”. Nah, jargon yang diusung sangat dekat dengan semangat anak muda. Selanjutnya, selain media periklanan melalui televisi, mereka pun melebar sayap menebar iklan rokok melalui konser musik yang notabene dekat dengan anak muda.

Eksistensi Anak Muda dan Konser Musik

Harus diakui bahwa anak muda di Indonesia memang tidaklah sedikit jumlahnya. Mereka berasal dari beragam golongan, budaya, dan kalangan yang membaur hidup di masyarakat. Peluang itulah yang ditangkap oleh produsen rokok untuk menjadi lebih dekat dengan anak muda dengan melakukan banyak pendekatan melalui berbagai media salah satunya adalah konser musik.

Indonesia memiliki kebebasan dalam hal berekspresi salah satunya melalui musik. Melalui musik segala macam rasa bisa diungkapkan dengan lebih indah dan mengena. Terlebih, perkembangan musik di Indonesia yang syair-syairnya sangat dekat dengan kehidupan anak muda, sebagai contoh tentang cinta, patah hati, persahabatan, berbagi semangat hingga cinta yang tak direstui. Karena tema-tema musik yang dekat dengan anak muda itulah akhirnya musik menjadi trend anak muda atau salah satu gaya hidup dengan ragam genre musik yang mereka gemari. Selain itu musik juga digunakan anak muda sebagai cara untuk mengidentifikasi dirinya sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial dan musik juga digunakan sebagai sarana menjalin interaksi dengan sesama maupun dengan orangtua.

Selain tema musik dan jenisnya yang dekat dengan dunia anak muda, para penyanyinya pun juga dijadikan idola. Penyanyi dan musik sebuah perpaduan yang semakin indah bagi para penikmatnya ketika mereka bisa semakin dekat secara langsung dengan penyanyi idolanya. Maka konser musik menjamur di mana-mana untuk menjaga interaksi antara sang idola dan para fans-nya agar semakin dekat dan lebih dekat lagi.

Sebuah pagelaran konser musik sudah pasti membutuhkan banyak dukungan berupa materi ataupun non-materi. Dukungan materi berupa dana biasanya akan diperoleh melalui penjualan tiket jika konser berbayar. Jika konser tak berbayar maka kebutuhan pendanaan ini harus diperoleh dari para sponsor. Kebutuhan akan sponsor ini dimanfaatkan oleh para pengusaha rokok. Tidak hanya menjadi sponsor yang ikut mendanai, tetapi juga turut serta memfasilitasi acara konser musik yang terselenggara. Fasilitas-fasilitas itu berupa kuis live tweet dengan menggunakan tagar khusus, lomba foto booth, aneka merchandise, hingga menghadirkan Sales Promotion Girl (SPG) yang aduhai cantik dan menarik dipandang mata dengan menawarkan rokok yang dibawa. Jika sudah selengkap itu, bagaimana mungkin perhatian para anakmu akan teralihkan?

Tidak berhenti pada saat acara konser berlangsung, saat konser musik selesai gelombang euforia para anak muda pada konser musik ini akan masih terasa. Hal ini dapat dilihat dengan sebuah unggahan foto pasca acara yang biasanya dengan hestek “latepost”. Seperti halnya beberapa waktu lalu hestek “UrbanGiGs” menjadi trending topic di dunia media digital di berbagai akun media sosial seperti Instagram.

Lalu, Apa Benang Merahnya?

Dari uraian di atas, sebenarnya sudah sangat jelas apa benang merah yang menghubungkan antara anak muda, konser musik, dan rokok. Benang merah tersebut adalah sebuah ikatan kedekatan emosional dan ikatan psikologis. Ikatan kedekatan emosional yang didasari pada rasa suka terhadap musik dan penyanyinya serta faktor ikatan psikologis anak muda yang masih naik turun dalam menemukan jati diri, siapa dirinya hingga menemukan kenyamanan terhadap dirinya sendirinya. Peluang itulah yang digunakan para pengusaha rokok memanfaatkan konser musik sebagai ‘kendaraan’ yang tidak hanya mendekatkan anak muda pada idolanya tetapi juga menanamkan kesan tentang musik yang disponsorinya melalui fasilitas-fasilitas yang tersedia. Selain itu, melalui konser musik para pengusaha bisa lebih mudah dalam mengenalkan jargon-jargonnya melalui hestek yang akhirnya terasa wajar dan biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya “Go Ahead”, “Talk Less Do More”, “UrbanGiGs”, dan kawan-kawannya. Jika jargon sudah membumi, maka akan lebih mudah untuk mengenal produk yang akhirnya akan menjadi stigma bahwa merokok itu adalah hal yang keren seperti jargon-jargon yang sudah melekat di memori otak para anak muda.

Cara kerja otak anak muda itu bak spoon yang memiliki daya serap tinggi pada banyak hal, maka seharusnya kita sebagai orangtua bisa lebih jeli dalam melihat dan mendampingi mereka. Begitu juga, para panitia yang menyelenggarakan konser musik yang sangat sudah bekerja keras dan sangat membutuhkan banyak dukungan materi dan sponsor, tentunya tidak hanya melihat dari sisi have fun saja, tetapi juga mampu memilih dan memilah pihak-pihak yang akan memberikan sponsor demi mendukung semangat anak muda yang tak aktif tanpa zat adiktif.

Yuk, saatnya jadi generasi muda yang tangguh dan berani bilang #CUKUP ! karena musikku bukan kendaraan promosi.