Rampai Bahasa: (Tak) Ingin Dipanggil Ummi-Abii

Sebelum akhirnya saya memutuskan menulis catatan ini saya benar-benar berpikir apakah perlu menuliskannya. Iya nggak, iya nggak, iya nggak. Akhirnya, saya menyerah pada kegalauan saya, menyerah pada kerancauan di sistem memori kebahasaan saya. Saat memutuskan untuk menuliskannya pun saya mengalami kebingungan bagaimana cara saya berkata. Saya galau, teman-teman 😀

Mungkin, bagi sebagian besar pasangan di belahan bumi ini, “Abi/Ummi” adalah panggilan sayang yang luar biasa hebat. Bahkan kita sendiri tidak akan kesusahan untuk mendapati sapaan tersebut. Bicara tentang sapaan sayang ini adalah pilihan setiap pasangan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Walaupun membuat galau, saya pun tidak ingin naif untuk tidak ingin benar-benar dipanggil “Abi/Ummi”, saya ingin, dan teman hidup saya juga ingin. Tetapi saya membuat aturan khusus untuk panggilan yang spesial ini.

Sapaan Sayang “Abi/Ummi”

Setiap pasangan pasti memiliki sapaan sayang. Apa pun sapaannya, tentunya memiliki nilai sejarah sendiri-sendiri. Sekarang pun saya juga memiliki sapaan sayang yang mungkin berbeda dari yang lain. Prinsipnya, romantis adalah ketidak-romantisan itu sendiri 😀 Banyak cara mengekspresikan rasa cinta pada pasangan. Salah satunya adalah dengan menetapkan sapaan sayang.

Baiklah, begini, awalnya saya selalu rancu memahami sapaan “Abi/Ummi” saat saya mendengar dan saat saya membaca kiriman tulisan status di lini masa. Kerancuan itu muncul ketika, misal, ada seorang ibu yang bilang ‘Ummi kangen kamu, Nak’, ‘Asiiik, Abi libur. Bisa berkumpul bersama di rumah.’ dan banyak contoh yang lainnya. Sisi kebahasaan saya seketika itu akan langsung merujuk pada si kakek atau nenek si anak yang dimaksud. Dalam hati pun saya benar-benar bangga, “Wah, kakek neneknya sebegitu rindu sama si cucu.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika bercakap-cakap langsung lalu ada yang bilang ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” rasanya makin rancu pikiran saya. Saya gagal paham di banyak percakapan. Bahkan perlu beberapa detik untuk memahami apa maksud si penutur. Ini bukan lebay, ini hal serius yang memang perlu diseriusi, menurut saya.

Mungkin akan banyak yang akan menilai saya “ribet banget sih, cuma panggilan.” Ya, mungkin saya ribet tapi saya hanya ingin mengaplikasikan teori yang saya pelajari. Itu saja. saat itu yang membuat saya rancu dan galau tingkat akhir adalah sepengetahuan saya “Abi/Ummi” artinya adalah Ayahku/Ibuku ada lekatan kepemilikan aku yang membuatnya bertambah spesial bukan kata yang general lagi “Ayah/Ibu”. Apalagi kalau sudah mendengar ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” saya akan lebih sangat rancu lagi.

Panggilan sayang “Abi/Ummi” saya pikir tidak melanggar syariat hanya saja bagi saya ini adalah prinsip ilmu. Ilmu bahasa: Bahasa Arab. Salah satu cara menghargai salah satu dari sekian banyak ilmu; bahasa adalah dengan menggunakan secara benar. Prinsip boleh beda. Saya akan memasang toleransi setinggi-tingginya. Tetapi kalau saya pribadi, saya tidak ingin serta merta menggunakan istilah bahasa asing tanpa ada landasan teorinya yang mungkin untuk mengikuti ‘gaya hidup islami’. Jadilah saya memiliki mimpi sepuluh besar. Untuk ini saya menuliskan mimpi saya bahwa kelak ketika saya dan teman hidup saya dipanggil “Abi/Ummi” oleh putra putri kami, mereka sudah tahu dan paham pada ilmu, dasar teorinya dan bagaimana menggunakan secara benar. Semoga terwujud ^^