hari ayah, kapan ya?

Setiap pagi – jika berada di kos- setelah jalan-jalan pagi, saya sempatkan untuk menonton kartun SpongeBob. Lupa waktu itulah yang saya dapati karena kemarin (23/7) banyak menu pilihan film kartun, tidak seperti biasa pikir saya. Menonton saya akhiri pukul delapan lewat karena saya janji pada seorang teman untuk mengunjunginya di ma’had. Di ma’had pun kotak hitam seperti di kos saya juga menyala. Saya lupa nama acaranya, yang terekam dalam ingatan saya dalam acara itu didominasi oleh anak-anak. Spesial sekali pikir saya. Saya baru menyadari ketika teman saya nyeletuk “pantas kalau acaranya anak-anak mulu, wong hari ini hari anak nasional”. Ooo…hari anak nasional.

Nuansa penuh dengan nuansa anak. Atmosfir keceriaan dan kegembiraan. Inilah dunia anak. Kenapa suasana seperti ini hanya ada satu tahun sekali? Kenapa anak-anak jaman sekarang harus dewasa lebih cepat meski umur mereka masih dalam zona anak? Kemana dunia anak yang pernah tersuguh ketika saya menikmati masa kanak-kanak saya?

Anak tetaplah anak yang mempunyai jenjang dunia yang seharusnya terpisah dengan orang dewasa. Masa kanak-anak adalah masa perkembangan dan pembentukan pola-pola pikir dan bersihnya imajinasi. Awal lahirnya sebuah peradaban baru di masa yang akan datang.

Semoga hari anak nasional ini memberi semangat baru bagi mereka. Semoga hari anak nasional menjadi sebuah penghargaan terhadap kehadiran mereka di tengah masyarakat layaknya para ibu yang merayakan hari ibu setiap satu tahun sekali sayangnya belum ada hari ayah. Untuk para ayah dan para calon ayah jangan ngiri yaaa….

Kota berhati nyaman, 24 Juli 2009

Ibu..!

Kamis (23/7), pukul 08:29:40 saya menerima pesan singkat dari seorang teman tepatnya Bapak Kepala Suku alias Ketua Generasi saya. Pelan-pelan dan sangat hati-hati saya membaca pesannya karena kata awal yang terangkai adalah “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”, saya lanjutkan membaca pesan di HP saya. Ada perasaan takut saat membacanya dan akhirnya saya dapati bahwa ada teman seperjuangan saya selama 3 tahun tengah diuji Allah dengan kepergian ibunya hari itu juga tepatnya pukul 06.50WIB, di semarang. Saya jadi teringat dengan ibu di rumah dan menelponnya, sekedar basa-basi bertanya kabar walau baru satu hari berpisah. Saya teringat ketika kelas dua, saya bersama teman-teman pergi ta’ziyah ke rumah teman kami. Ketika kami datang jenazah belum diberangkatkan jadi kami pun menyaksikan pemberangkatan dan memberi penghormatan terakhir. Saat itu benar-benar berarti keberadaan seorang ibu bagi saya walaupun sebelumnya ibu sangat berarti dan setelah kejadian itu saya semakin “ngeman” dengan ibu saya. Masih ada harapan dalam benak saya untuk nikmat umur panjang yang barakah agar kawan seperjalanan ayah terus mendampingi saya. Saya jadi teringat ketika ibu bermain angka dalam usianya, berapa sisa waktunya jika jatah usianya 50 tahun, 60 tahun atau 70 tahun. Saat itu saya tidak memberi komentar tetapi dalam hati saya ada kesedihan jika waktu perpisahan itu datang. Semoga Allah memberimu kesempatan lebih untuk bisa menyertaiku, ibu..!

Kali ini ijinkan saya bertutur tentang makhluk bernama ibu dengan mengutip tulisan dari Salim Akhukum Fillah dalam buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” dan “Agar Bidadari Cemburu Padamu”.

Menjadi ibu. Bagi kita adalah mimpi-mimpi yang dilatih dengan kerinduan, cinta dan asahan rasa.Seruak cita itu adalah fitrah paling indah yang dikaruniakan Allah. Kecenderungan, rasa, kemuliaan! Ibu..! Mulia cukup dengan telapak kaki perjuangan. Karena tak seorang pria pun memilikinya, memiliki kedudukan ini : surga di telapak kaki. Tak satu pria pun. Demi Allah, tak satu pria pun..!

Ibu..!

Panggilan yang begitu menggetarkan, membiruharu, menggemakan rasa terdalam di diri setiap wanita. Selalu dan senantiasa. Ada nuansa cita, imajinasi dan gairah setiap kali kata tiga huruf plus dua titik dan tanda seru itu diteriakkan oleh sosok-sosok mungil yang menyambut kehadiran.

Ibu..!

Ini tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak-anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat mereka rasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.

Ibu..!

Panggilan yang meneguhkan status kemanusiaan dan kehormatan. Ibumu disebut tiga kali di depan, baru ayahmu menyusul kemudian. BegitulahRasulullah menegaskan. Ia juga panggilan yang membawa makna perjuangan. Pegalnya membawa kandungan, susahnya posisi berbaring dan sakitnya melahirkan. Tapi juga senyum manis di saat berdarah-darah mendengar tangis sang putra pecah.

Ibu..!

Banyak wanita yang kini enggan menjadi kata itu, maka kata itu pun enggan menjadi mereka. Betapa sulit meminta wanita bersedia punya anak, di singapura misalnya. Ketika mereka menolak janji-janji kata itu, kata Ust. Anis Matta dalam Ayah, menganggapnya sebagai gerbang menuju neraka, menganggapnya sebagai pintu penjara, kata itu justru enggan membantu mereka melepakan diri dari jeratan kesendirian, membasuh kulit mereka yang melepuh akibat sengatan matahari. Kata itu jadi enggan menyediakan dermaga tempat mereka menambat perahu hati, berlabuh dari galau kehidupan.

Ibu..!

Mungkin tak sesederhana itu. Karena posisi ibu adalah anugerah, yang keimanan pun bukan jaminan Allah pasti mengaruniakan kepada kita. Persis sebagaimana ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy dan lainnya. Ya, tapi mereka kan ummahatul mukminin, ibu dari semua orang beriman, kata kita. Pada posisi ini, memang. Tetapi mengandung, melahirkan, menyusui, menimang adalah bagian dari saat yang dinanti bersama hakikat kata Ibu..! Itu, yang juga tak dirasai oleh ‘aisyah sekalipun.
Atau terkadang, penantian panjang, kegelisahan, kecemasan dan kata seterusnya jika panggilan itu tak segera hadir adalah ujian lain dari Allah. Alasan kesehatan, kerawanan melahirkan pada usia tertentu, menjadi gurita kecemasan lain yang mencoraki ujian itu. Lalu Allah menjawab di antara doa hambaNya, istri Ibrahim dengan si shalih Ishaq, istri ‘Imran dengan si suci Maryam dan istri Zakariyya dengan si ‘alim Yahya. Setelah penantian panjang, doa yang mengiba dan rasa yang tersembilu.

Ibu..!

Lepas dari itu, sekali lagi, adalah menakjubkan setiap urusan orang mukmin. Persis kata Rasulullah, menakjubkan! Karena setiap halnya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika disinggahi nikmat, ia bersyukur maka kesyukuran itu baik baginya. Jika ditamui musibah ia bersabar, maka sabar itu lebih baik baginya. Jika syukur dan sabar itu dua ekor tunggangan, kata ‘umar, aku tak peduli harus mengendarai yang mana.

Menjadi ibu hakiki, yang melahirkan ataupun tidak, setelah ikhtiyar paling gigih, doa paling tulus dan tawakkal paling pasrah adalah kemuliaan tanpa berkurang sepeserpun. Tidak sedikit pun. Semuanya mulia.

Ibu..!

Kita akan berjumpa dan meniti kemuliaan-kemuliaan beliau, mungkin di waktu lain. Sekadar agar bidadari cemburu padamu, dengan menjadi kau takkan tersaingi olehnya selama-lamanya. Ya. Ibu, melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya…

Kepada para ibu selamat merayakan indahnya menjadi ibu dan para calon ibu semoga menjadi madrasah agung yang melahirkan generasi penerus pejuang nabi teladan.
Kepada para ibu yang telah mencium aroma surga, semoga Allah mengampuni dan melapangkan, semoga semua amanah telah dilaksanakan dengan baik dan allah menggantikannya dengan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai… Amiin…

Yogyakarta, 24 Juli 2009


Kado #1 ‘hanya lilin’


Tak ada kue tart, hanya lilin merah berdiri di atas gletser kesendirian, kilau apinya menantang, menerangi usia yang baru saja berganti. Usai nafas yang menghukum mati api, lilin tersungkur dan berganti tempat di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu, dalam sekejap usailah sudah.

Sederet angka dan huruf bertuliskan namamu. Mengingatkanku pada hari spesialmu. Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku pada sensasi keabadian akan ingatan. Hanya fotomu yang mampu melakukannya. Rolex, Gucci dan kawan-kawannya tak mampu lakukan itu.

Aku tak mampu melewatkannya denganmu tahun ini. Kau merayakannya seorang diri. Kesendirian adalah kado yang hadir dalam setiap kesempatan, katamu. Jadi ‘Selamat Ulang Tahun’ hanya bisa terucap tanpa hadir bertatap. Hanya dengan perantara namun kau bahagia menerimanya.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu setiap hari. Meski kau bilang “aku sendiri” tapi doa-doa itu mampu jadi penghangat bagimu. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Ada kalanya kesendirian adalah kado ulang tahun yang terbaik.

Bertambah nominal usia dan berkurangnya kesempatan tak menjadi jaminan kita paham segala-galanya. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Akan kuucapkan sekali lagi Selamat Ulang Tahun…
Semoga kita rasakan indah berulang tahun setiap hari….

Ngawi, 21 Juli 2009


ganti baju

Pagi ini, sengaja saya menyelesaikan semua kewajiban itu lebih awal. Lalu saya bergegas ke dag untuk menikmati panorama pagi dari ketinggian. Jalanan yang sepi berubah menjadi sangat ramai dan didominasi oleh para pelajar yang ingin berangkat ke madrasah agung.

Pagi ini, sedikit mengingatkan saya tentang ‘dresscode‘ yang pernah saya kenakan. Kemeja kuning dengan baju luarannya sepanjang lutut berwarna hijau ditambah dasi mungil sebagai hiasannya. Waktu mengajak saya bergegas untuk mengenakan kemeja putih dan rok merah. Cukup lama saya mengenakan ‘putih-merah’ ini, selama 6 tahun. Pergi ke sekolah kadang diantar kadang bersepeda dengan teman-teman. Masa yang indah karena dalam episode ini terakhir kali saya bersepeda ke sekolah. Masa yang menyenangkan. Waktu terus mengantar saya pada episode kehidupan yang baru, ‘putih-biru’ menyambut. Sedikit dewasa pada sesi ini. Belajar ‘mempermainan’ angka dalam rumus-rumus, berkata dengan bahasa asing dan memiliki teman dari penjuru kota yang bersemangat ini. Waktu lagi-lagi tak ingin menunggu dan mengajak saya hijrah ke kota budaya ‘solo the spirit of java’, dunia ‘putih abu-abu’ mengucap welcome atas kedatangan saya. Episode ini mengajak saya ‘belajar’ lebih serius walaupun realita harus memaksa saya untuk jujur mengakui bahwa saya tak serajin dalam angan saya. Ini adalah episode spesial karena jauh dari orangtua dan tinggal di asmadera. Belajar tentang banyak hal, dari segala sesuatu yang ada di bangku sekolah hingga maddah kehidupan yang terkadang harus ditelan mentah-mentah diproses hingga bisa matang berbuah hikmah untuk bekal hidup selanjutnya. 3 tahun cukup sebentar untuk saya, karena di kota budaya persahabatan, cita, cinta, duka, luka dan rindu tergenggam. Waktu seolah musuh yang memaksa saya untuk berpisah dari apa yang sudah saya nikmati dan waktu pun telah memilih tempat pemberhentian selanjutnya yang ‘fullcolor’ di kota never ending asia. Kota yang indah katanya. Memang indah, lebih indah dari kota budaya, lebih lengkap mulai dari etnik hingga makanannya. Tempat pariwisata bahkan musiumnya.

Waktu yang selalu jadi jembatan masa dan berani memberi hal-hal baru, menawarkan banyak pilihan walau tak semua akan jadi realita tetapi waktu telah berjasa karena kita bisa bermimpi. Memiliki bagian terbesar dalam hidup, melahirkan sejarah yang akan menggantung hati-hati para pemiliknya. Katanya, sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia tapi tidak melekat utuh pada realita. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh. Sejarah lahir dari rahim waktu. Lagi-lagi waktu memberi keluangan untuk ‘ganti baju’, membuka lembaran baru, menapakinya dengan jejak baru. Sekarang -mungkin- sebuah keberuntungan ketika saya dan Anda bisa ‘ganti baju’ di setiap episode dalam hidup ini. Selamat ‘ganti baju’ tahun ini…..

Ngawi bersemangat, 21 Juli 2009

Untuk ’embun malamku’ yang baru saja ‘ganti baju’
selamat menikmati ‘abu-abuer zone’
in the real excellent school