Ich, Du und Liebe #2

Tidak selalu uang mengambil peran dalam kehidupan karena ada mutiara yang paling berharga yang tak akan tergantikan mesti uang selalu mengambil peran. Itulah kebersamaan…!!!

Ada ketulusan tanpa mengharap imbalan dan hanya dengan kata saya membungkusnya sebagai bingkisan [untuk] ‘besar’.

Terimakasih [untuk] ‘besar’,

Untuk sepasang mata yang selalu bersinar lembut penuh harap dan semangat meski tak setiap hari kulihat

Untuk waktu yang kau luangkan untuk sekedar berkata, “jaga diri baik-baik…”, “hari ini, warnai dunia lagi…”, “try to get your masterpiece!!!”, “make me proud, p**…”

Untuk curhat-curhat dan cerita-ceritamu yang membuatku merasa ‘penting’ dan dipercaya

Untuk mendukung setiap pilihan yang kuambil dan kujalani dalam hidup ini

Untuk selalu ada untukku, dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun keadaanmu

Untuk petuah-petuah dan saran yang berharga yang tidak pernah menggurui

Untuk teladan yang menakjubkan dalam tindakan yang tak sekedar kata-kata belaka

Untuk menjadi ‘partner kerja’ untuk menemaniku begadang tiap malam demi “sail my hopes”

Untuk semangat tetap memilih bertahan menghadapiku ketika aku menjelma menjadi perempuan paling menyebalkan sedunia di masa-masa sukarku

Untuk setiap usaha untuk membuatku nyaman menjadi diri sendiri, dicintai dan diterima apa adanya

Untuk cukup meyakinkanku bahwa ketulusan tak hanya ada di negeri dongeng…

Untuk seikat kata-kata indah pelipur hati, peredam emosi…

Terimakasih [untuk] ‘besar’ . . .

Ketika tak ada yang menjagamu
Ketika tak ada yang mendampingimu
Semoga Allah menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya

Never Ending Asia–The Spirit of Java–Kota Bersemangat
06 November 2009

“Bis ans Ende der Zeit”

Bis ans Ende der Zeit
Ich habe Sehnsucht nach Dir
Und wenn Sie den gleichen
Dann Zeig mir deine Liebe
Ich gebe dir alles, was Geld nicht kaufen kann
Und ich bin gleich von Ihnen versprechen Seite

Anatomi Emosi

Medium journey yang cukup menyenangkan sebenarnya tapi tidak untuk saya. Menentang jalanan yang lengang seakan-akan jalanan itu milik saya terasa amat biasa saja. Pukul empat pagi membelah kota ponorogo dan mata saya menyapa aktivitas belakang layar sebelum hiruk pikuk kota membuka suara. Tentang seorang anak yang membantu ibunya menyapu daun-daun yang jatuh di aspalan kota. Tentang penjual yang meramaikan pasar di pagi buta. Tentang rumah-rumah yang masih menutup pintunya. Tentang kehidupan pagi yang amat bersahaja, sedikit mengalihkan fluktuasi emosi saya seharusnya tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Kendaraan terus melaju, sesekali saya mengeluarkan kepala dan tangan saya, ingin jujur pada pagi bahwa emosi saya serba tak pasti. Cuaca hati saya tak seindah pemandangan di depan mata saya. Menarik nafas panjang lalu luh mencuri kesempatan untuk keluar. Minggu luh sedunia untuk saya.

Merasai kehilangan di saat yang tak tepat, itulah yang saya rasakan. Ketika semua file yang tersimpan dalam notebook hilang tanpa bekas layaknya ombak menghapus jejak di pantai. Di saat saya benar-benar membutuhkannya. Bagaimana saya mendapatkannya lagi? Mengusahakan bekerja 2 kali? Mengulang semua tulisan dan semua pekerjaan saya? Atau lebih memilih diam? Kehilangan, sarana yang benar-benar berkesan bagi saya untuk memaknai arti keberadaan semua yang saya miliki. Entah rasa apa yang saya punya sekarang, emosi atau kecewa?

Ucapan semangat terasa tak punya kekuatan lagi untuk membuat saya kembali ke keadaan semula. Mengharapkan kembali semua yang hilang, bukan sesuatu yang berguna justru sangat sia-sia, saya tahu itu. Tetapi sangat sulit bagi saya terutama saat ini.

Saya tahu, ‘bersama kesulitan ada kemudahan’ dan kalimat itu pun diulang 2 kali dalam Al Quran. Saya tahu, janji Allah itu pasti layaknya matahari yang mencintai titah Tuhannya. Benar-benar pasti dan saya pun benar-benar percaya dengan kebenaran janji itu. Tetapi, kenapa Ya Rabbi masih terselip rasa tidak ikhlas dalam diri saya?
Ampuni saya Rabbi atas rasa yang berlebihan dalam diri saya yang membuat saya menyakiti diri saya dan orang yang setia membersamai saya.

Ich, Du und Liebe #1

Mungkin,
ini luh yang tak sengaja lahir hari keterbiasaan
jatuh satu-satu
dalam genggam jemari hari

Mungkin,
keberadaannya seakan anak jiwa
tangisnya akan merambatkan api ke dalam paru-paru kita
hingga kita lebur dalam bara yang sama
tetapi dalam tubuh yang berbeda

Mungkin,
ini pesan dari surga
layaknya getar jemari yang mengantar pesan
ke seluruh sel tubuh
dan kita
luruh dalam tubuh yang terpisah

Mungkin,
ini gerakan dari jantung hati
ketika darah mendesirkan gelombangnya
dan kita beriak tak berdaya

Mungkin,
ini penghias
layaknya tatapan mata yang membuka cakrawala jiwa
lalu kita dapati rumah yang kita cari
tapi dalam kelopak mata yang berbeda

Mungkin,
jika kita kehilangan fungsi
karena tidak kita dapati
aku, kamu atau pun kita
di seberang tatapan mata

Pasti,
jika ini lahir dari rahim Pemilik Cinta Sejati
dan kita menikmati,
dalam bentangan sajadah
dalam untaian ayat-ayat cintaNya,
dalam ketaatan di JalanNya,
dalam manis air mata kasih sayangNya

Sebuah kata halal
di mata dunia dan di mata akhirat
Itulah inginku…

Ngawi, 3 November 2009

Ingin Terus Memiliki Tapi…


Berawal dari obrolan pagi yang hangat tepatnya waktu dluha yang bersahaja dengan enam gelas jeruk hangat. Sabtu (24/10), saya yang telah selesai menghadiri acara salah satu UKM tercinta dan empat orang sahabat yang usai berjismu salim (olahraga) bertemu di tempat favorit kami, Humaniora Mandiri dalam ketidaksengajaan. Saya, Aa’ sundanis tampang punk berhati pink, Uni ranah minang, kucing pontianak, Paijo Asli Jogja dan si manis futsal lover berkumpul dan berbincang hal-hal yang sebenarnya sangat membuang waktu, tapi ada yang menarik perhatian saya ketika Aa’ bertanya kepada saya, ‘Sendirian Ka? Mana Induk Semang?’. ‘Pulang ke Tangerang’, jawab saya. Dari pertanyaan itu mulailah kami berbincang tentang arti sendiri, bersama, memiliki dan pada akhirnya kehilangan dan sesekali dibumbui guyonan. “Itu sudah hukum alam”, kata kucing.

Memiliki sahabat adalah anugerah dan bersahabat bukanlah hal yang mudah karena harus ada rasa pengertian dan saling percaya. Ada banyak hal yang berbeda di sela-sela kemiripan. Ada keterpautan. Saling membutuhkan. Bahkan juga ada pertengkaran. Tetapi lepas dari semua itu adalah adanya kesejiwaan. Kesejiwaan yang tak sekedar cocok dan nyaman tapi kesejiwaan dalam prinsip atau bahkan fundamental.

Ada kebersamaan ada pula kesendirian, kehilangan sementara begitulah kami membahasakannya. Kehilangan bukan berarti kehilangan jasad untuk rentang waktu yang lama tetapi kehilangan untuk sementara waktu karena jarak, karena kita punya kepentingan yang tidak memungkinkan untuk terus membersamai atau mungkin karena ada hal-hal lain yang lebih prinsipil. WaAllahua’lam. Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap suatu saat pasti rasa kehilangan itu akan menyapa. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi agar semua tetap terasa indah, sekalipun datang di waktu yang tidak tepat. Merasai sepi dan sendiri, hal yang kurang disenangi oleh beberapa orang tetapi terkadang kesendirian adalah kado terbaik dan
kehilangan bukan berarti tidak memiliki, hanya saja genggaman itu merenggang tapi masih kita miliki.

Itulah obrolan singkat kami di waktu pagi, tanpa kami sadari tak hanya enam gelas jeruk hangat tetapi makanan yang tersaji di depan kami pun telah berpindah tempat ke perut kami beserta sarapan yang kami pesan. Sebelum bubar dan menuju dunia masing-masing, salah satu dari menutupnya dengan sebuah lagu “dear God –Avenged Sevenfold–“

Dan lebih sempurna lagi dengan doa pengikat hati untuk semua, dimana pun. Semoga dengan doa pengikat hati ini kita tidak akan merasai arti kehilangan.

Doa Rabithah

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami…

Rapatkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakkal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMu
Matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Rapatkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakkal padaMu
Hidupkan dengan ma’rifatMu
Matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya
Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam

Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…

[Doa Rabitah-Izzatul Islam]

“Terimakasih telah membersamaiku untuk memaknai kata kehilangan”

Ditulis di ‘Kandang Beruang’, Kandang Eksekutif Muda H39
24 Oktober 2009

Posting,
Ngawi Bersemangat, 3 November 2009

Ada Budaya Dalam Tumpukan Sampah

Manusia hidup dalam suatu komunitas yang dapat menghasilkan berbagai budaya. Budaya dapat berwujud materi dan non materi. Salah satu hasil budaya berwujud materi adalah sampah. Sampah adalah salah satu hasil dari budaya itu sendiri. Seringkali sampah hanya dipandang sebelah mata bahkan ada yang menganggapnya barang yang tak berguna. Banyak orang menganggap sampah hanyalah perusak keindahan, pembuat polusi udara dengan baunya yang tidak sedap dan sumber penyakit. Dengan keadaan seperti itu, sampah yang seringkali membuat orang tidak merasa nyaman pada kenyataannya ternyata masih ada orang-orang yang hidup dari sampah, memunguti barang-barang yang masih bisa memberi mereka penghidupan seperti sampah plastik, botol air mineral dan sampah anorganik lainnya.

Sampah-sampah tanpa kita sadari adalah hasil dari budaya kita. Sampah-sampah yang terbuang tanpa kita berpikir ulang bagaimana memberdayakan lagi hasil budaya yang telah terbuang. Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk daur ulang pada sampah-sampah itu yang pada akhirnya bisa kita manfaatkan lagi keberadaannya. Seperti pemanfaatan sampah plastik terutama kemasan-kemasan detergen dan kemasan makanan ringan menjadi tas-tas sederhana, penutup meja, karpet atau layar untuk menjemur padi (ini bisa ditemui di daerah pedesaan dan telah menjadi barang yang biasa digunakan dan dicari keberadaannya). Akhir-akhir ini, banyak kita temui slogan ‘go green’ sebagai wujud peduli pada lingkungan dan beberapa supermarket –terutama wilyah Yogyakarta– telah menggunakan tas-tas belanja yang bisa digunakan berkali-kali pakai. Selain itu, botol-botol mineral pun bisa didaur ulang untuk hiasan-hiasan rumah tangga seperti tudung saji bahkan botol-botol air mineral itu mulai digunakan untuk membuat alat musik tradisional berupa angklung. Tidak hanya plastik, buah duwet (bentuknya bulat kecil, berwarna ungu gelap, bisa ditemukan di ujung Jalan Sosio Humaniora, dekat bunderan dan tumbuh di halaman Fakultas Filsafat) serngkali terbuang bahkan terinjak tak berguna, akan tetapi buah itu bisa digunakan sebagai pewarna batik alami dan hasilnya tidak kalah bagus dengan pewarna kimia.

Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk menjadikan sampah yang berupa hasil budaya menjadi sebuah budaya baru yang lebih bermanfaat dan bernilai seni. Mari kita ciptakan suasana cinta budaya sendiri dengan ‘bahan mentah’ yang kita miliki sekalipun itu adalah sampah.

DIY, 31 Oktober 2009