Berbicara mengenai sastra Islam di Indonesia, hampir
selalu
mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak
beranjak dari hal
yang itu-itu juga, yaitu pro dan kontra mengenai apa
yang disebut
sebagai `pengkotak-kotakan sastra’, serta masalah
definisi dan
kriteria sastra Islam. Uniknya, pihak yang tidak
setuju dengan
istilah atau konsep `sastra Islam’ justru didominasi
oleh kalangan
muslim sendiri.

Eddy A Effendi yang jebolan IAIN pernah menyusun buku
esai sastra
(tak diketahui terbit atau tidak) yang mengusung
judul: `Menolak
Sastra Islam’. AA Navis bahkan pernah berkata bahwa
sastra Islam
adalah sesuatu yang utopis untuk saat ini. [1]
Sementara Putu Arya
Tirtawirya dalam buku Antologi Esai dan Kritik Sastra
(1982)
menulis, “Sastra adalah sastra, saudaraku, tak perlu
dikotak-
kotakkan. Tak usah membuat kita pening.”

Sebaliknya, Abdul Hadi WM, dalam salah satu seminar
tentang sastra
profetik yang menghadirkan Suminto A. Sayuti, saya
serta Kuntowijoyo
sebagai pembicara, Mei 2000 lalu di Yogya, mengatakan
bahwa sastra
Islam itu ada, bahkan eksis. “Sastra Hindu saja ada,
mengapa sastra
Islam tak ada?” katanya.

Dalam makalahnya “Islam, Puitika Al Qur’an dan Sastra”
ia menambahkan
bahwa pandangan dan anggapan yang meragukan nisbah
Islam dengan
sastra dan kesangsian bahwa terdapat sastra Islam
dengan tema, corak
pengucapan, wawasan estetik serta pandangan dunia
tersendiri, pada
umumnya timbul untuk menafikan sumbangan Islam
terhadap kebudayaan
dan peradaban umat manusia. Sebagian anggapan
berkembang karena
semata kurangnya perhatian orang Islam dewasa ini
terhadap sastra dan
tiadanya apresiasi di kalangan ulama, pemimpin dan
cendekiawan
muslim. [2]

Di sisi lain, yang perlu dikritisi dari Abdul Hadi WM
adalah bahwa
dalam setiap pembicaraan dan tulisannya tentang sastra
Islam, ia
sering terpaku pada karya-karya lama dari Abdullah bin
Abdul Kadir
Munsyi, Hamzah Fanshuri atau Amir Hamzah. Ia juga
lebih banyak banyak
membahas karya-karya sastra Islam dari penulis luar
semisal Attar,
Jalaludin Rumi dan Muhammad Iqbal. Mengenai Sastra
Indonesia modern
memang ia pernah membahas karya-karya Kuntowijoyo,
Danarto, Sutardji
Calzoum Bachri serta Fudoli Zaini. Namun hampir tak
ada pembahasan
mengenai sastrawan muslim sesudah generasi tersebut.
Padahal
pandangannya mengenai perkembangan sastra Islam
mutakhir di Indonesia
saat ini sangat dibutuhkan. Apalagi kini banyak terbit
karya sastra
bernuansa Islam yang ditulis pengarang yang muncul
tahun 1990an.

Begitu pula dengan A. Hasjmy yang memiliki perhatian
yang besar
terhadap kesusastraan Islam. Ia lebih banyak membahas
karya para
pengarang hikayat Aceh atau lagi-lagi berhenti pada
angkatan Pujangga
Baru, hingga ia meninggal. Sementara Ali Audah yang
juga tertarik di
bidang tersebut, lebih sering membahas
sastrawan-sastrawan Islam dari
Timur Tengar atau Mesir.

Pembahasan tentang sastra Islam kontemporer di
Indonesia menjadi
sangat minim kalau boleh dikatakan nyaris tak ada.
Jangankan
pembahasan karya, apa itu sastra Islam saja sampai
saat ini masih
kabur alias tak ada rujukan yang jelas, baik dari para
sastrawan
sendiri, kritikus maupun ulama.

Sebenarnya cukup banyak beberapa sastrawan muslim yang
memberi
istilah sendiri pada karya sastra yang dibuatnya yang
mengarah
pada `sastra Islam.’. Istilah-istilah tersebut berakar
pada wacana
keimanan atau religiusitas yang dibawanya. Ada yang
menyebutnya
sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik
(Kuntowijoyo), sastra
sufistik (Abdul Hadi WM), sastra zikir (Taufiq
Ismail), sastra
terlibat dengan dunia dalam (M. Fudoli Zaini), sastra
transenden
(Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya. [3] Namun
selain Abdul
Hadi WM, tak satu pun yang mengidentikkan penyebutan
tersebut dengan
sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut, tak bisa
dinafikan,
merupakan tafsir lain dari sastra Islam.

Tulisan ini akan memaparkan beberapa hal tentang
sastra Islam,
terutama menyangkut definisi dan ciri hingga mengapa
sastra Islam
tetap diperlukan hingga saat ini.

Menurut saya, tulisan seperti ini dibutuhkan mengingat
banyak di
antara masyarakat muslim yang merasa perlu untuk
mengetahui apa dan
bagaimana sastra Islam itu. Tak sedikit pula di antara
mereke
berkeinginan menulis karya yang bernuansakan Islam,
menyumbangkan
sesuatu yang berarti bagi perkembangan sastra Islam di
Indonesia.
Mereka memerlukan semacam `acuan’ mengenai sastra
Islam. Belum lagi
khalayak yang merindukan kehadiran karya-karya yang
bernuansakan
Islam.

Polemik tentang sastra Islam selama ini membuat cukup
banyak kalangan
bingung dan terus mencari-cari informasi tentang hal
tersebut.
Apalagi perihal sastra Islam jarang disinggung oleh
para sastrawan,
kritikus bahkan ulama karena tidak atau belum dianggap
sebagai
sesuatu yang penting, sebagaimana yang disinggung oleh
Abdul Hadi
WM.

Padahal dalam konteks Islam, semua yang dilakukan
seorang muslim
seharusnya merupakan bentuk dari ibadahnya kepada
Allah, termasuk
dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang
dikatakan
Allah “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan untuk
beribadah kepadaku.” [4]

Islam juga merupakan sistem hidup yang lengkap yang
tidak memisahkan
antara kehidupan dunia dan akhirat. Segala yang kita
lakukan di dunia
akan memberi dampak di akhirat nanti. Secara khusus
pula dalam al
Quran, Allah menyuruh para sastrawan untuk beriman
dan beramal saleh.

Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang
sesat. Tidakkah
engkau melihat sesungguhnya mereka mengembara pada
tiap-tiap lembah.
Dan sesungguhnya mereka mengatakan apa yang tidak
mereka kerjakan.
Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan
banyak
mengingat Allah, dan mereka mendapat pertolongan
sesudah mereka
dianiaya. Dan orang-orang yang zalim itu akan
mengetahui ke tempat
mana mereka akan kembali. (QS Asy Syu’ara: 224-227)

Definisi dan Ciri Sastra Islam

Sastra dalam bahasa Islam (Arab) disebut adab. Mungkin
benak kita
akan langsung mengkaitkannya dengan kesopanan. Sudah
tentu untuk
menjadi manusia yang baik kita haruslah beradab. Namun
definisi adab
dalam sastra jauh lebih besar daripada itu.

Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang
dapat membentuk
ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya
terkandung ciri
estetika dan kebenaran. [5] Dalam Islam, sastra
haruslah mendorong
hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik.
Masyarakatlah yang
menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi
sastra Islam lebih
mengarah pada pembentukan jiwa.

Definisi seni dan sastra Islam menurut Said Hawa dalam
bukunya Al
Islam III, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada
akhlak Islam.
Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al
Faruqi, Seni Islam
adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), di mana
semua bentuk
kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga
menyatakan
bahwa ekspresi dan ajaran Al Quran merupakan bahan
materi terpenting
bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian
seni Islam dapat
dikatakan sebagai seni Qur’ani. [6]

Harun Daud berkata, “Tujuan kesusastraan adalah untuk
mendidik dan
membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang
menyelamatkan. Bukan
untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra
atau karya seni
dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya
pengakhiran realita
itu sendiri.” [7] Sementara menurut Shanon Ahmad
bersastra dalam
Islam haruslah bertonggakan Islam, yaitu sama seperti
beribadah untuk
dan karena Allah. [8]

Dalam Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam 13
Desember 1963 di
Jakarta—yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan
Manifes
Kebudayaan 17 Agustus 1963—para seniman, budayawan
muslim beserta
para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan
bahwa yang
disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan)
Islam ialah
manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia
muslim dalam
mengabdi kepada Allah untuk kehidupan ummat manusia.
Seni Islam
adalah seni karena Allah untuk ummat manusia (l’art
par die et l’art
pour humanite) yang dihasilkan oleh para seniman
muslim bertolak dari
ajaran wahyu Illahi dan fitrah insani.

Setahun sebelumnya, Majelis Seniman dan Budayawan
Islam yang di
antaranya terdiri dari Hamka, M. Saleh Suady dan
Bahrum Rangkuti
dalam bab tentang sikap Islam terhadap kebudayaan dan
kesenian
mengatakan, bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan
kesenian pada
khususnya tidaklah semata bertujuan `seni untuk seni’
atau `seni
untuk rakyat’ tetapi harus diluhurkan menjadi: `seni
untuk kebaktian
ke hadirat Allah’ yang dengan sendirinya mencakup
tujuan memajukan
kesenian yang bermanfaat lahir batin untuk peri
kemanusiaan. [9]

Apakah sastra Islam harus lahir dari tangan seorang
muslim?
Jawabannya ya. Kalau ada karya yang menyentuh atau
menyinggung aspek
keislaman, namun ditulis oleh non muslim, maka karya
tersebut tak
dapat dikatakan sebagai sastra Islam, namun bisa
disebut sebagai
karya yang bersumberkan Islam. Mengenai hal ini akan
diuraikan
kemudian.

Lantas, ciri-ciri apa lagi yang menandakan sebuah
karya sastra masuk
kategori sastra Islam?

Tidak sulit untuk mengenalinya. Sebuah puisi, cerpen
atau novel
Islam, misalnya, tidak akan melalaikan pembacanya dari
dzikrullah.
Ketika membaca kita akan diingatkan kepada ayat-ayat
kauliyah mau pun
kauniyahNya. Ada unsur ammar ma’ruf nahyi mungkar
�dengan tanpa
menggurui tentunya–ibrah dan hikmah. Ia kerap
bercerita tentang
cinta. Baik cinta pada Allah, RasulNya, perjuangan di
jalanNya. Cinta
pada kaum muslimin dan semua mahluk Allah: sesama
manusia, hewan,
tumbuhan, alam raya dan sebagainya.

Ciri lainnya, karya sastra Islam tidak akan pernah
mendeskripsikan
hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa
`indahnya’
kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni
atau aliran
sastra apa pun. Ia juga tak membawa kita pada
tasyabbuh bi’l kuffar,
apalagi jenjang kemusyrikan.

Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki
ruhiyah Islam yang
kuat dan wawasan keislaman yang luas. Penilaian apakah
karya tersebut
dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat
pada karya
semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses
pembuatannya hingga
dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi
pengarangnya adalah
suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada
umat dan
Allah. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau
muslimah pengarang
adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara
tersendiri.

Menurut saya, dalam aplikasinya, segala tema, teknik
dan gaya
penceritaan dapat diangkat dalam karya sastra Islam.
Malah, adalah
suatu kesalahan bila suatu karya tidak diolah dan
dihadirkan secara
kreatif sehingga menjelma khutbah. Faktor estetika
tentu tak bisa
diabaikan.

Jadi sekali lagi, sebuah karya tak bisa dikatakan
Islam hanya karena
ia mengambil setting pesantren, mengetengahkan tokoh
ulama, dan
menampilkan ritual-ritual keagamaan atau unsur
sufistik. Sastra Islam
lebih dari sekedar slogan atau simbol. Sang pengarang,
kehidupan,
Islam dan karyanya menjelma satu kesatuan.

Para sastrawan yang memiliki komitmen untuk
menghasilkan karya sastra
Islam, tidak mengarang semata-mata untuk menjelma
menjadi `macan
kertas’ dengan doktrin sastra untuk sastra. Juga bukan
tipikal
pengarang yang begitu mengagung-agungkan kebebasan
tanpa batas dalam
berkreasi dan menelan mentah-mentah perkataan Sartre:
Human reality
is free, basically and completely free.

Karya sastra tak dilihat sebagai sebuah karya sastra
an sich, seperti
Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus yang berkata
bahwa sastra tak
boleh memihak apa pun kecuali dirinya sendiri. Sastra
tentu saja
harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, pada
nilai-nilai Islam
tanpa harus kehilangan nilai estetikanya.

Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana menjadikan
sastra sebagai
sarana dakwah yang bukan saja memberikan pencerahan
fikriyah namun
juga pencerahan ruhiyah bagi para pembacanya. Di
sinilah peran sastra
yang sebenarnya diinginkan oleh Islam yaitu turut
mengambil ambil
bagian dalam mengatasi kerusakan akidah dan ahlak
masyarakatnya.

Maka dalam konsep Islam yang kaffah, sastra sebenarnya
adalah satu
kaki dari kaki dakwah lainnya. Dan sebagaimana yang
dikatakan para
ulama bahwa setiap kita adalah da’i “nahnu du’at
qobla syaiin” (kami
adalah penyeru sebelum menjadi sesuatu) maka tentu
saja para
sastrawan yang menulis sastra Islam tersebut terlebih
dahulu
memposisikan diri sebagai da’i sebelum sebagai yang
lain. Maka mereka
adalah da’iyah yang pengarang. Bukan pengarang yang
da’iyah.
Pengarang yang dapat menghasilkan karya sastra Islam
tentulah
pengarang yang mengetahui dan mengamalkan banyak hal
tentang Islam
sehinggga ia bisa mentransfer nilai-nilai, nuansa,
juga ruh keislaman
dalam karya-karyanya. Bahrum Rangkuti pernah berkata:
“Bila Anda
ingin menulis karya sastra Islam, Anda harus terlebih
dahulu menjadi
sastrawan yang beriman serta merealisasikan keimanan
dan keislamannya
melalui amaliyah yang nyata.” [10]

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sedikitnya ada
tiga syarat umum
sebuah karya sastra dapat dikatakan sebagai sastra
Islam.

Pertama, penulisnya adalah seorang muslim yang sadar
dan bertanggung
jawab akan kesucian agamanya. Ke dua, karya kreatif
yang dihasilkan
hendaknya sejalan dengan ajaran Islam dan tidak
bertentangan dengan
syariah. Ke tiga, karya tersebut mempunyai daya tarik
universal dan
dapat bermanfaat bagi masyarakat mana pun mengingat
Islam adalah
agama fitrah. [11]

Sastra Islam dan Sastra Bersumberkan Islam

Muhammad Pitchay Gani, pengamat sastra dari Singapura,
saat
menyampaikan makalahnya tentang sastra Islam dalam
Pertemuan
Sastrawan Nusantara ke XI Brunei Darussalam, Juli,
2001 lalu membagi
kesusastraan Islam dalam dua bagian, yaitu sastra
Islam dan sastra
yang bersumberkan Islam.

Menurutnya, sastra Islam adalah semua (bahan)
kesusastraan yang
dihasilkan oleh penulis yang beragama Islam dalam
menyadarkan
masyarakat pembaca tentang kebesaran Tuhan dan
tanggung jawab diri
sebagai khalifah Allah. Ini mengingatkan saya akan
pandangan serupa
dari A. Hasjmy dalam bukunya Apa Tugas Sastrawan
Sebagai Khalifah
Allah (1984). Sedangkan sastra yang bersumberkan Islam
merujuk pada
karya sastra yang mengetengahkan hal-hal yang berasal
dari ajaran
Islam. Penulisnya bisa siapa saja, tak harus orang
Islam.

Sastra bersumberkan Islam yang dimaksud Pitchay
dikatakan oleh
Kuswaidie Syafii, sastrawan muda yang berbasis
pesantren, sebagai
karya satra yang Islami. [12] Islami di sini berarti
memiliki sifat-
sifat yang sesuai dengan keislaman. Beberapa karya
Kahlil Gibran—
sastrawan beragama Kristen Maronit dari
Lebanon�misalnya, menurut
Kuswaidie sangat Islami. Bahkan lebih Islami daripada
yang ditulis
oleh sastrawan muslim kebanyakan. Namun ia juga
menolak kalau karya
semacam itu dimasukkan dalam kategori sastra Islam.

Bertolak dari konsep ini maka `sastra untuk
rakyat/masyarakat’
dan `sastra untuk sastra,’ selama ia mengusung
nilai-nilai universal
yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan
ajaran Islam, dapat
dikategorikan sebagai `sastra bersumberkan Islam.’

Dibandingkan dengan sastra Islam, sastra bersumberkan
Islam jauh
lebih banyak. Kita dapat dengan mudah menemukan sastra
jenis ini di
Indonesia, maupun di dunia pada umumnya. Tentu saja,
hal tersebut
cukup menggembirakan dan menjadi penyeimbang bagi
kehadiran
kesusastraan lain yang bertolak belakang atau bahkan
menghujat Islam.

Penutup

Akhirnya, sastra Islam dan sastra bersumberkan Islam,
adalah salah
satu alternatif dalam memperkaya khazanah kesusastraan
Indonesia.

Kita tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk
memeluk Islam. “Laa
ikraaha fiddiin (Tak ada paksaan dalam agama) .”
Begitu juga tak ada
paksaan bagi para sastrawan muslim sekali pun untuk
menulis dengan
pola yang sudah digariskan oleh Islam, berdasarkan
ketentuan-
ketentuan yang terdapat dalam Al Quran maupun sunnah
Rasulullah
Muhammad saw. Semuanya kembali pada pilihan
masing-masing. Sastrawan
yang memilih jalan sastra Islam boleh saja menghimbau
sastrawan lain
untuk mengikuti jejaknya, namun tak boleh memaksakan
kehendaknya,
seperti apa yang dilakukan para sastrawan yang dahulu
tergabung dalam
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para
sastrawan
Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka
sebagai dasar.

Sebaliknya, adalah sesuatu yang bijak, bila kita juga
menghargai dan
menghormati sebagian kalangan sastrawan muslim yang
telah memilih
sastra Islam sebagai sarana berekspresi sekaligus
sarana mereka dalam
ber-ammar ma’ruf nahyi mungkar sebagaimana yang
diperintahkan Allah.

Mengutip A. Teuw, bagaimana pun, konsep keindahan dan
estetika—
bukan hanya dalam bidang kesusastraan—amat berbeda
antara
kepercayaan Islam dengan kepercayaan Barat sekuler.
Sekuler menilai
keindahan sebagai freedom of expression, sementara
Islam menilai
keindahan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.
[13]

Allahu A’lam.
(HTR, dari: Segenggam Gumam, Penerbit Syaamil, 2003)

Daftar Pustaka

[1] A.A Navis, 2001: 105
[2] Abdul Hadi WM, 2000: 5
[3] Hamdy Salad, 2001: 167
[4] Al Qur’an, Surat 51; 56
[5] Mana Sikana, 1983
[6] Ismail Al Faruqi, 1986: 29
[7] Harun Daud, 1994: 51
[8] Shanon Ahmad, 1991: 20
[9] E. Ulrich Kratz, 2001 : 476
[10] Ali Audah, 1999:283
[11] Masuri SN, 2001: 1
[12] Kuswaidie Syafii, 2000: 23
[13] Teuw, 1995

Directions:
artikel ini di copy dari FLP Pusat, pengirim dennydbaonk@yahoo.com

Advertisements

SuRga ILmu…………


Madrasah Aliyah Program Khusus

Program Khusus Keagamaan (PK) MAN I Surakarta merupakan salah satu program yang ada pada MAN I Surakarta ( dulu bernama MAPK/MAKN ) yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik yang berakhlaqul karimah dan memiliki keahlian di bidang ilmu agama islam dan mampu mengembangkan diri sebagai ulama dan intelektual muslim yang berwawasan global.
Untuk itu kurikulum PK didesain 70% ilmu-ilmu agama dan 30% ilmu-ilmu umum. Setiap lulusan PK diharapkan memiliki kemampuan berbahasa Arab dan bahasa Inggris. Mampu membaca kitab kuning dan buku-buku teks berbahasa Arab dan Inggris.
Untuk tujuan tersebut maka pembelajaran di Program Khusus Keagamaan MAN I Surakarta diselenggarakan dengan sistem pondok pesantren ( Islamic Boarding School ) di bawah bimbingan para ustadz lulusan Timur Tengah.