Makna Hidup dari Ngebut


Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan ketika seorang kawan dengan sangat ringan berkata, “naik motor aja”. Ringan sekali ketika tangan tak terkendali memacu pengendali hingga terlihat 80km/jam dan sesekali 90km/jam. Kecepatan yang standar, mungkin. Menikmati mulusnya jalan Jogja-Solo tanpa hambatan. Berempat berkompetisi di jalanan. Berhenti bersama ketika dihadang lampu merah. Menyalip satu per satu kendaraan di depan kami juga bersama-sama. Menyamakan kecepatan agar tak tertinggal. Namun, pada akhirnya satu diantara kami tertinggal karena mengurangi kecepatan dan terpaksa terhadang satu lampu merah ketika semua telah melaju. Yang lainnya terus melaju. Meski pada akhirnya karena satu pesan mampir di inbox kami “wooee, tungguin dong…!!!”, kami memilih menunggu agar bisa terus sejajar di jalanan itu atas nama rasa setia kawan.

Tiba-tiba teringat tentang satu kuliah saat seorang dosen berkata, “Belajar itu jangan menunggu yang lain belajar. Saat yang lain belajar, Anda santai. Saat yang lain santai, Anda juga ikut santai. Kapan Anda maju? Apa Anda bisa memastikan yang lainnya bersedia menunggu Anda? Anggap ini sebuah kompetisi!”

Ya, mungkin seperti itu. Hidup adalah kompetisi. Terus melaju dengan menambah kecepatan -minimal bertahan dengan kecepatan awal- agar terus sejajar atau mengurangi kecepatan lalu akan tertinggal. Ketika bertemu hambatan atau disapa ujian hanya akan ada dua pilihan, statis atau dinamis. Karena hidup adalah sebuah arena mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah kesulitan menjadi kemungkinan-kemungkinan, mengambil resiko dengan sepenuh konsekuensi dan keberanian. Tidak lemah, tidak putus asa, tidak gampang menyerah untuk hidup yang menyejarah.

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146)

Ditulis,
Yogyakarta, 15 Juni 2009

Terimakasih:: Iphe, Ni’mah, Dila untuk having fun di jalanan….

Advertisements

Primadona

google_protectAndRun(“ads_core.google_render_ad”, google_handleError, google_render_ad);
Kutahu suatu saat akan kuhapus semuanya
Kriteria emas yang selama ini membelengguku

Kutahu suatu saat kuakan benar-benar hidup
Dengan gaya dan aturan yang sudah teramat kudambakan

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Reff:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Kutahu suatu saat akan ada sebuah era baru
Di mana saatnya kuberbalik dan menertawakan teorimu
Kutahu suatu saat kita akan bertemu lagi
Dan seakan kau tak mengenalku tapi aku sudah tak peduli

Jadi tunggu saja pasang kelima panca inderamu
Camkan dengan pasti kuyakin kau akan

Chorus:
Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Berhenti menggelengkan kepalamu
Berhenti membangun pertahananmu
Kau akan sadar kau akan tahu
Bahwa kau bukan primadona

Chorus

Berhenti …

by Sherina Munaf

Let’s to be Green Generation

Selasa (1/12) ditengah-tengah kesibukan menunggu jam kuliah berikutnya, saya dan seorang sahabat memutuskan untuk berbelanja kebutuhan 1 bulan ke depan. Saya tahu saat itu bukan zona waktu luang untuk berbelanja. Akhirnya saya memutuskan untuk berbelanja di supermarket terdekat dari kampus.

Sesi memilih, mengambil dan seleksi terhadap barang-barang akhirnya selesai, lalu saya dan sahabat saya menuju kasir. Keramaian di pusat perbelanjaan adalah hal yang biasa bagi saya tetapi tiap kali mengantre, menunggu giliran untuk membuat ‘perhitungan’ dengan kasir selalu membuat saya miris. Teriris.

Pandangan saya tertuju pada asisten sang kasir yang sangat cekatan memasukkan barang demi barang ke dalam plastik berwarna putih, memisahkan barang demi barang di plastik yang berbeda sesuai jenis barangnya. Saya benar-benar miris melihatnya. Biasanya, saya akan membawa tas belanja, mencampur barang-barang belanjaan tanpa memisahkan antara sabun, makanan, buah-buahan dan kawan-kawannya. Berbarengan dengan pengumuman yang bergaung di seantero supermarket mengenai pemanasan global, saya mengamati bagaimana belanjaan demi belanjaan dimasukkan ke kantong-kantong kresek oleh tangan-tangan gesit yang sudah bergerak terampil bagai robot. Tak sampai penuh, bahkan kadang setengah pun tidak, mereka mengambili kantong plastik baru. Di kassa yang lain saya melihat yang belanja pun tenang-tenang saja menyaksikan. Kenapa tidak? Berapa pun kantong plastik yang dipakai, itu sepenuhnya terserah pihak supermarket. Gratisan pula. Karena hari itu saya tidak membawa tas belanja karena acara belanja hari itu di luar rencana saya, akhirnya saya pulang ke kost dengan menenteng kantong plastik lebih dari 1 buah.

Kembali teringat, sambil mengamati gerakan tangan gesit asisten kasir tadi, dalam hati saya bertanya: haruskah seboros itu? Barangkali memang kebijakan dari toko yang mengharuskan berbagai jenis barang untuk tidak digabung dalam satu kantong. Tapi kenyataannya, plastik-plastik itu hanyalah sebagai alat angkut dari kasir menuju bagasi kendaraan atau dari kasir langsung menuju rumah. Lalu apa wujud nyata dari pengumuman di supermarket tadi tentang pemanasan global? Sebatas pengumumankah?

Sangat berbeda keadaannya ketika saya berbelanja di supermarket yang cukup besar dan terkenal, Carrefour — Itulah kali pertama saya mengunjunginya bersama mbak kost– dan tak lepas dari pengamatan saya, lewat pengeras suara beberapa kali terdengar imbauan untuk mengurangi sampah plastik, bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, dan sudah tersedianya kantong belanja ramah lingkungan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau (ada dua pilihan: dua ribu perak berbahan plastik daur ulang dan sepuluh ribu perak untuk yang berbahan polyethylene).

Lalu di dekat kasir, tertempel sebuah stiker yang bunyinya kira-kira begini: petugas kasir diharuskan untuk menawarkan isi ulang pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan pada para pembeli. Saya memperhatikan kiri-kanan, termasuk pada saat giliran saya membayar tiba. Memang betul saya ditawari pulsa dan kantong belanja ramah lingkungan. Saya memilih kantong harga sepuluh ribu perak dengan diskon 20%, hingga sekarang itulah tas belanja saya meskipun tak selalu belanja di supermarket dimana saya mendapatkannya.

Lain lagi ketika saya berbelanja di Superindo. Superindo punya kebijakan yang selangkah lebih mending. Jika belanjaan kita cukup banyak maka petugas di kasir akan menawarkan pemakaian kardus. Dan sudah ada kardus-kardus yang disediakan dalam jangkauan, hingga tak perlu tunggu lama untuk cari-cari ke gudang. Dua kali saya mengantre di kasir Superindo, saya menemukan banyak pembeli yang menolak pakai kardus meski belanjaan mereka banyak. Entah apa alasannya. Mungkin menurut mereka kurang praktis. Atau tidak terbiasa. Seperti Carrefour, Superindo juga menjual green bag, kantong belanja yang bisa dipakai berkali-kali. Green bag tersebut pun bisa didapat dengan gratis. Caranya? Mengumpulkan 70 stiker. Satu stiker didapat dengan belanja 10 ribu, dan stiker berikutnya di kelipatan 50 ribu. Jadi belanjalah dulu 10 ribu sebanyak 70 kali, atau belanja 3,5 juta untuk mendapatkan tas itu secara cuma-cuma atau dengan membeli seharga dua puluh ribu rupiah maka Anda akan mendapatkan green bag.

Memang, dibandingkan beberapa tahun yang lalu, inisiatif dari pihak supermarket/hipermarket sudah jauh lebih baik dan kreatif. Namun, apakah tidak bisa kita bergerak lebih cepat, lebih tajam, dan lebih langsung? Dan, mungkinkah perspektif yang digunakan pun sebetulnya terbalik? Jika benar-benar ingin mengurangi sampah plastik, kenapa justru pembeli yang tidak ingin menggunakan kantong kresek malah menjadi pihak yang harus mengeluarkan biaya ekstra dan tidak mendapat insentif apa pun? Sementara yang pakai kantong kresek tetap melenggang kangkung tanpa sanksi apa-apa? Tidakkah ini jadi mengimplikasikan bahwa gerakan go-green itu ‘lebih mahal’ dan ‘repot’, sementara yang sebaliknya justru ‘gratis’ dan ‘praktis’? Di mata saya, penjualan kantong-kantong ramah lingkungan tersebut pun, selama masih menggunakan bahan baku baru dan bukan hasil daur ulang, akhirnya cuma jadi komoditas biasa. Seperti halnya jualan sabun atau sayur. Sementara yang paling penting adalah BERHENTI memproduksi barang baru dan menggunakan ulang apa yang ada. Yang paling penting bukanlah mencetak tulisan “Selamatkan Bumi” di selembar kain kanvas atau di kain polyethylene lalu menjudulinya tas ramah lingkungan, melainkan membuat kebijakan yang benar-benar realistis dan berpihak pada lingkungan.

Menurut survei yang dilakukan oleh kakak kost saya, Adibah Sayyidati dalam rangka hibah penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Departement Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada menyatakan bahwa mayoritas ibu-ibu rumah tangga khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta lebih memilih menggunakan plastik saat belanja karena faktor ekonomis dan plastik bisa digunakan untuk membungkus sampah rumah tangga. Selain itu, mereka mengaku belum mengerti fungsi dan manfaat green bag itu sendiri.

Menurut saya, akan lebih baik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk penggunaan kardus atau green bag untuk semua supermarket/hipermarket dan mengadakan sanksi bagi kedua belah pihak –antara pengelola supermarket dan konsumen– yang tidak mematuhi kebijakannya serta mempermudah dalam mendapatkan green bag, —meniru kebijakan pemerintah Taiwan, Hongkong dan Jepang–. Hal terpenting adalah mengadakan sosialisasi pada masyarakat betapa pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memprioritaskan pemakaian green bag saat belanja.

Bumi kita telah tercekik plastik. Lalu apakah kita hanya akan berteriak ‘ Save our environment’, ‘Stop Global Warming’, ‘Go Green’ dsb tanpa berbuat sesuatu? Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi ini salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik.

Keep fighting spirit to save the world . . . !!!

Ditulis di,
Kandang Eksekutif Muda, 3 Desember 2009

Posting,
Rumah penuh cinta, 11 Desember 2009


Terimakasih untuk,
Mbak Diba, Mbak Munche dan Aull atas partisipasi kalian dalam menghidupkan nuansa ‘intelektualitas’ di kandang beruang

Mbak Dewi untuk senantiasa membimbingku untuk terus bisa produktif dan selalu menghargai waktu terutama waktu salat.


Rata Tengah