Sebuah Titik Balik: Penilaian dan Lisan

Beberapa waktu lalu, saya sangat sensitif dengan tabayyun atau lebih populer dengan konfirmasi. Ada sebuah kejadian di mana saya merasa berada dalam sebuah penghakiman. Tanpa bertanya apa alasannya, keperluannya, seberapa pentingnya. Saat itu hanya bermodal melihat saja dan dilakukan oleh orang terdekat.

Tentang Rumah Tangga (Saya)

Bagi saya, urusan yang berhubungan dengan rumah tangga tidak ada yang lebih tahu dan kenal kecuali pasangan menikah itu sendiri. Orang lain meski masih ada hubungan keluarga tidak akan pernah tahu detail tentang urusan domestik ini. Atas nama hati yang tidak ada seorang pun tahu, saya yakin setiap pasangan akan terus berusaha jujur dan terbuka. Begitu juga saya dan Mas Partner yang (mungkin) akan selalu terlihat kekurangannya. Anggaplah permisalannya begitu.

Atas nama peduli? Itu pun juga ada syarat dan ketentuannya *menurut saya…haha. Misal, si A menjadi teman curhat si C yang selalu menceritakan tentang rumah tangganya. Jika ada hal yang tidak sesuai menurut si A, bolehlah langsung menegur. Namun, ketika si A hanya kenal, tahu, dan (merasa) memahami tanpa ada cerita-cerita dari si C, maka si A hanyalah sedang menghakimi.

Dari situ saya menyadari, peduli dan ikut campur itu sangat tipis. Bolehlah belajar dari sana agar tidak gampang atau terlalu mudah memberi masukan tanpa tahu detail urusan rumah tangga orang lain atau urusan apa pun itu dan fokus memperbaiki kualitas rumah tangga sendiri serta melihat ke dalam diri.

Tentang Konfirmasi atau Tabayyun

Ini membuat saya sangat lebih berhati-hati. Berawal dari pengalaman sendiri yang langsung dihakimi atau dinilai begitu saja tanpa bertanya apa, bagaimana, mengapa, seperti apa, langsung ditodong di hadapan banyak orang. Malu? Iya, tapi bukan malu yang terpenting, tetapi kecewa. Tabayyun yang digadang-gadangkan, yang dipelajari ternyata tidak berlaku ketika ada orang-orang yang tidak memahami konsep tabayyun itu sendiri. Ketika tabayyun beririsan dengan budaya jawa yang ewuh pakewuh lantas menilai seseorang langsung dari apa yang dilihat tanpa ada pendekatan, udah langsung ‘telanjangi’ aja. Tabayyun dan lisan pun sangat dengat hubungannya. Lisan yang mengucapkan ‘penilaian’, lisan yang akan mendarat pertama kali di pendengaran, setelah itu (mungkin) nurani yang akan menghisab dirinya tentang salahkah atau benarkah penghakiman yang diterimanya.

Dari kejadian yang saya anggap paling pahit, saya belajar dan berproses untuk bisa melakukan pendekatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya, pengalaman tabayyun ini membuat saya lebih berhati-hati. Menjadi sebuah titik balik untuk lebih bisa menjaga lisan dan melakukan pendekatan demi diterimanya masukan.

 

Advertisements

2016 & ‘One’ Projects

Anggaplah bulan Februari ini rasa Januari di mana banyak orang menulis semua target-targetnya di tahun 2016. Bukan ngeles yaaa…*haha. Nah, tahun ini pun saya juga ingin menuliskan apa target saya atau biasanya yang disebut resolusi, karena tahun-tahun sebelumnya saya sangat malas dan (sedikit) menyepelekan mengapa target harus ditulis. Cukup diingat-ingat saja, sok-sokan kalau memori otak penuh dengan keterbatasan.

Target tahun 2016 ini, saya ingin memulainya dengan ‘One’ sebagai awal nama proyek-proyek pribadi atau sesuatu yang ingin saya capai.

One Day One Juz

Sebenarnya saya bergabung dalam komunitas ini sudah sangat lama, bisa dibilang ketika awal-awal group ini mulai diperkenalkan kepada khalayak. Parahnya, hanya bertahan satu saja karena member  group yang jarang konsisten lapor disebabkan banyak alasan hingga akhirnya saya ganti no WA dan ganti HP, totalitas sekali bukan?*hehe

Lalu, saya move on ke One Day One Page bersama teman-teman relawan rumah tahfidz PPPA Daqu Jogja. Takdir group ODOP juga tidak bertahan lama, kenapa? Alasannya tetap alasan klasik. Ya sudah, saya pasrah.

Ikhtiyar saya selanjutnya adalah tetap menjaga kekonsistenan tilawah dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa itu adalah sebuah kebutuhan bukan sekedar kewajiban lapor bahwa sudah selesai tilawah. Keberadaan group tilawah hanyalah sebagai penyemangat di luar diri sendiri. Ditambah doa semoga bisa berada dalam group tilawah yang anggotanya punya semangat luar biasa. Daaaaaaan, pada November 2015, saya ditawari kakak, sebut saja Mbak Lan begitu saya memanggilnya, menawari saya untuk masuk ke groupnya. Tanpa pikir-pikir dan jual mahal, saya iyakan.

Seperti dalam lagunya Opick, berkumpul dengan orang-orang saleh. Cieeeeeee…. Selain masuk group, saya juga membuat tabel ‘Absensi Pribadi’ dengan dua tabel: Mas Partner dan Dek Partner. Tujuannya, sebagai pengingat kebutuhan akan tilawah dan sebagai evaluasi bulanan seperti apa grafik tilawah masing-masing. Agar kebiasaan baik terbentuk, maka juga harus dibiasakan tiap hari dari sekarang. Karena surga bukan sekedar angan, tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Iya kan? Iya kan? 🙂

One Day One Post

Ini bagian dari proyek idealisme. (Masih) terlihat susah, tapi tetap akan diusahakan seserius mungkin. Selama ini alasan yang membuat blog ini sering kosong adalah rasa malas ‘ah, nanti aja.’ lalu tak terasa hari berganti dan ide pun pergi. It is not a big deal! Maka dari itu, saya pun bertekad untuk terus mengatur waktu agar bisa mewujudkan target yang satu ini. Semoga banjir ide daaaaaan nggak malas. Aamiin.

Menulis bersifat mengikat dan menebar manfaat. Ya, daripada gosip sana sini lebih baik nulis aja di blog. Iya kan? Kalau menulis adalah jalan menjemput rejeki ya itu bonus. Tulisan besar lahir dari tulisan-tulisan sederhana, serpihan-serpihan gitu. Menulis bagian dari skill yang butuh dilatih tiap hari. Perlu belajar tanpa henti.

One Week One Review

Nah, proyek yang satu ini sudah lamaaaaa sekali dalam angan. Lagi-lagi alasannya belum sempat *hiks. Semoga bulan ini, di minggu ini meski udah weekend, bisa dimulai dan benar-benar perpampang nyata. Punya blog review buku seperti punya Mbak Ziyy di sini yang udah jadi inspirasi dari dulu kala.

Proyek ini juga berarti bahwa setidaknya, dalam satu minggu harus baca minimal satu buku, ya novel gitu deh. Karena tidak mungkin ada review (punya sendiri) tanpa baca lebih dulu. Iqra! Iqra! Iqra!

One Month One Museum

Tahun lalu, saya punya ide untuk punya blog khusus tentang museum yang saya kunjungi sekaligus sebagai promosi atau ajakan bagi orang-orang khususnya kawula muda agar berminat dan semakin tertarik untuk mengenal dan berkunjung ke museum. Yah setidaknya, agar museum makin ramai pengunjung. Proyek ini saya namai Dolan Museum. Sementara ini masih sekedar foto-foto saja di akun pribadi instagram saya. Rasanya gatel ingin segera menuliskannya di blog, tetapi saya masih memiliki kebingungan dan masih krisis rasa percaya diri. Semoga bisa segera launching blog ‘Dolan Museum’.

One Year One Loving Cup

12654653_949522088463112_2766261436437902179_n

Tahun 2015 kemarin, saya tutup dengan satu piala, meskipun piala dan piagam penghargaannya diserahkan baru tanggal 1 Februari 2016. Desember 2015, keberuntungan dari Allah, nama saya masuk di barisan pemenang (hanya) Juara Harapan 1 Lomba Menulis Karya Tulis Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh KOWANI yang bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Piala, piagam, dan hadiah diserahkan langsung oleh Ibu Menteri, Yohana Yembise.

Proyek ini saya adakan karena saya ingin menantang diri saya sendiri untuk mengalahkan bisikan-bisikan negatif dan ingin memberi yang terbaik untuk diri saya. Ingin lebih produktif lagi, lagi, dan lagi. Piala yang terkumpul nantinya ingin saya tunjukkan pada anak saya dan semoga bisa menjadi inspirasi sekaligus semangat bagi anak-anak. Hingga di titik ini, hal yang membuat saya semangat belajar dan mengumpulkan pengalaman adalah karena kalimat: kecerdasan seorang anak diturunkan langsung dari ibunya. *maap kalau gak nyambung…haha

Jadilah kalimat itu sebagai penyemangat saya dalam menjemput ilmu (berijazah maupun tak berijazah), menjadi ibu cekatan dan produktif.

 

Yap, itulah empat proyek besar saya (secara umum). Semoga bisa konsisten dan memenuhi komitmen pribadi. Semoga bisa jadi ide yang bermanfaat untuk ditiru dengan senang hati silakan. Semoga bermanfaat ^^

Long Time No See

*tarik nafas dalam-dalam daaaaaaaan….

Assalaamu’alaikum 🙂

Ternyata hampir satu tahun yang lalu postingan terakhir di blog ini *nangisdipojokan

Selama 10 bulan ini sebenarnya banyak hal keren yang terjadi, tapi betapa malasnya saya untuk merekamnya di blog ini. Saya menyadari betapa menulis membutuhkan sebuah komitmen yang luar biasa besar untuk terus memelihara keberlangsungannya dan keistiqomahannya. Semoga ke depannya bisa semakin lebih baik dan rutin untuk merekam setiap pelajaran (hidup) dan pengalaman agar bisa semakin bermanfaat.

Rampai Bahasa: (Tak) Ingin Dipanggil Ummi-Abii

Sebelum akhirnya saya memutuskan menulis catatan ini saya benar-benar berpikir apakah perlu menuliskannya. Iya nggak, iya nggak, iya nggak. Akhirnya, saya menyerah pada kegalauan saya, menyerah pada kerancauan di sistem memori kebahasaan saya. Saat memutuskan untuk menuliskannya pun saya mengalami kebingungan bagaimana cara saya berkata. Saya galau, teman-teman 😀

Mungkin, bagi sebagian besar pasangan di belahan bumi ini, “Abi/Ummi” adalah panggilan sayang yang luar biasa hebat. Bahkan kita sendiri tidak akan kesusahan untuk mendapati sapaan tersebut. Bicara tentang sapaan sayang ini adalah pilihan setiap pasangan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Walaupun membuat galau, saya pun tidak ingin naif untuk tidak ingin benar-benar dipanggil “Abi/Ummi”, saya ingin, dan teman hidup saya juga ingin. Tetapi saya membuat aturan khusus untuk panggilan yang spesial ini.

Sapaan Sayang “Abi/Ummi”

Setiap pasangan pasti memiliki sapaan sayang. Apa pun sapaannya, tentunya memiliki nilai sejarah sendiri-sendiri. Sekarang pun saya juga memiliki sapaan sayang yang mungkin berbeda dari yang lain. Prinsipnya, romantis adalah ketidak-romantisan itu sendiri 😀 Banyak cara mengekspresikan rasa cinta pada pasangan. Salah satunya adalah dengan menetapkan sapaan sayang.

Baiklah, begini, awalnya saya selalu rancu memahami sapaan “Abi/Ummi” saat saya mendengar dan saat saya membaca kiriman tulisan status di lini masa. Kerancuan itu muncul ketika, misal, ada seorang ibu yang bilang ‘Ummi kangen kamu, Nak’, ‘Asiiik, Abi libur. Bisa berkumpul bersama di rumah.’ dan banyak contoh yang lainnya. Sisi kebahasaan saya seketika itu akan langsung merujuk pada si kakek atau nenek si anak yang dimaksud. Dalam hati pun saya benar-benar bangga, “Wah, kakek neneknya sebegitu rindu sama si cucu.” Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika bercakap-cakap langsung lalu ada yang bilang ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” rasanya makin rancu pikiran saya. Saya gagal paham di banyak percakapan. Bahkan perlu beberapa detik untuk memahami apa maksud si penutur. Ini bukan lebay, ini hal serius yang memang perlu diseriusi, menurut saya.

Mungkin akan banyak yang akan menilai saya “ribet banget sih, cuma panggilan.” Ya, mungkin saya ribet tapi saya hanya ingin mengaplikasikan teori yang saya pelajari. Itu saja. saat itu yang membuat saya rancu dan galau tingkat akhir adalah sepengetahuan saya “Abi/Ummi” artinya adalah Ayahku/Ibuku ada lekatan kepemilikan aku yang membuatnya bertambah spesial bukan kata yang general lagi “Ayah/Ibu”. Apalagi kalau sudah mendengar ‘Abinya-Abimu-Abiku-Ummimu-Ummiku-Umminya” saya akan lebih sangat rancu lagi.

Panggilan sayang “Abi/Ummi” saya pikir tidak melanggar syariat hanya saja bagi saya ini adalah prinsip ilmu. Ilmu bahasa: Bahasa Arab. Salah satu cara menghargai salah satu dari sekian banyak ilmu; bahasa adalah dengan menggunakan secara benar. Prinsip boleh beda. Saya akan memasang toleransi setinggi-tingginya. Tetapi kalau saya pribadi, saya tidak ingin serta merta menggunakan istilah bahasa asing tanpa ada landasan teorinya yang mungkin untuk mengikuti ‘gaya hidup islami’. Jadilah saya memiliki mimpi sepuluh besar. Untuk ini saya menuliskan mimpi saya bahwa kelak ketika saya dan teman hidup saya dipanggil “Abi/Ummi” oleh putra putri kami, mereka sudah tahu dan paham pada ilmu, dasar teorinya dan bagaimana menggunakan secara benar. Semoga terwujud ^^

Tentang Kelegaan Perizinan

image

Pelajaran di akhir pekan yang panjang kali ini adalah tentang kelegaan perizinan. Perasaan saya saat ini adalah rasa sedih, kecewa, insyaAllah masih ada rasa syukur di antara kedua rasa itu.

Life-partner (saya) memberi ruang gerak yang cukup bebas, cukup lega bukan berarti ia melepas dan memberbiakan tulang rusuknya begitu saja. Sosok life-partner si tulang rusuk itu tetap melindunginya seperti yang dilakukan para laki-laki terhadap wanitanya. Ia memutuskan untuk memberi kelegaan dalam hal perizinan untuk tulang rusuknya karena ingin tetap menghadirkan rasa nyaman bagi orang-orang yang dekat dengan tulang rusuknya. Ya, menghadirkan rasa nyaman pasca life-partner menjadikan wanita itu sebagai tulang rusuknya.
Sosok life-partner si tulang rusuk itu mungkin bukan ustadz atau seorang yang sempurna dalam memahami hukum-hukum agamanya. Life-partner si tulang rusuk itu hanya ingin menanamkan pada tulang rusuknya bahwa selama visi/misi/tujuan aktifitasnya diniatkan untuk Allah, Lillahi Ta’ala, maka tidak perlu ada hal yang dirisaukan, digelisahkan, atau dikhawatirkan karena Allah yang akan menjaga tulang rusuknya untuk dirinya. Si tulang rusuk hanya bertugas untuk terus meluruskan niatnya. Dengan begitu, orang-orang yang berhak atas tulang rusuknya dapat terpenuhi dan si tulang rusuknya tetap bisa memenuhi janjinya. Menghadirkan kenyamanan dalam sebuah hubungan yang sudah sah sekalipun tidak hanya ada aku dan kamu, tidak hanya ada kita tetapi juga ada mereka. Mereka yang juga menginginkan kenyamanan atas kehadiran kita, tidak hanya kenyamanan bagi kita saja.

Semua itu pada akhirnya akan bermuara pada diri masing-masing karena tidak ada satu pun keputusan diambil tanpa dasar. Lalu yang kita lakukan sebagai pihak yang merasakan keputusan itu adalah menghormati dan menerima. Sudah itu saja.

Happy weekend 🙂

*backsong: Let it go by Demi Lovato

Klub ‘Pertama Kali’

Dia tak pernah mendeklarasikan secara resmi keberadaan klub ini sebelumnya karena memang tak pasti kapan ia ada. Hanya saja, klub ini menyimpan semua member ‘Pertama Kali’. Jika sebuah klub yang wajar beranggotakan fisik bernyawa maka member dalam klub ini adalah kebalikannya. Para member saling bertemu. Saling menyapa. Saling berkenalan. Saling bercerita apa yang disimpannya. Memamerkan satu sama lain betapa berharganya ia untuk mendapat tempat paling depan dan paling sering diingat. 

Ya, para member klub ini sangat berharga. Alur, latar, dan siapa yang sedang bersamanya. Dia tak lagi peduli karena setiap member yang datang, saat itulah dia melihat dunia. Begitu dekat di matanya. Begitu sangat nyata di hadapannya. Sejak saat itu, saat dunia lebih hangat, klub ini punya alasan untuk hadir dan ada.

 

Image

Pertama Kali: Darat, Laut, Udara

 

Image

 

Penerbangan: menuju cakrawala, memandang semua di atas ketinggian.

 

Image

Sunrise di atas kerajaan Neptunus

 

Image

Sunset di Istiqlal

 

Image

Malam yang sama dan tempat yang sama, Istiqlal

 

Dia pun masih sibuk menanti member klub ‘Pertama Kali’, saat ini, besok, besok, dan besok.

Recall: Personal Taste

Image

Di setiap cerita akan akan sisipan curhat colongan, begitu kata seorang teman 😀

Ya, kali ini saya mau curhat “Recall: Personal Taste”.

Hmm, saya lupa tepatnya kapan, saya mulai suka menonton KDrama, sepertinya sejak 2006. Ada 2 KDrama yang berkesan dalam hidup saya. Masing-masing memiliki cerita dan kenangan. “Princess Hour” yang saya tonton dengan diam-diam kabur dari acara asrama di hari minggu. Kedua, Kdrama ini yang saya tahu dari ibu saya yang juga gemar mengikuti setiap KDrama. Bahkan saya ingat, saat saya pulang dari kantor LPPM untuk mengurus administrasi KKN yang bermasalah, saya tiba di kos dengan menangis, pipi saya basah dan mata yang memerah. Malu? ya, saat itu saya tidak malu lagi menangis dari Balairung hingga kos, tepatnya sampai kamar saya. Saat itu terjadi, ibu saya sedang menonton Kdrama “Playfull Kiss” dan melihat saya yang “hancur” saat itu, ia memeluk dan berkata “Kuatlah, seperti Oh Hani”. Itulah alasan kenapa saya menyukai “Playfull Kiss”. Kuat seperti Oh Hani. Stay cool seperti Baek Seung Jo (yang ini saya gagal :-D) dan berharap saya menjadi nerd. 😀

KDrama yang ketiga yang berkesan adalah ini, “Personal Taste”. Ini saya nonton berdasarkan rekomendasi dari kakak saya karena tidak semua drama atau film saya nonton. Saya cenderung suka mengulang-ulang film yang sama bahkan hingga saya hafal percakapannya. Saya tonton berdua, tapi lebih sering sendiri. Drama ini terdiri dari 16 episode. Saya diminta untuk menontonnya dengan serius, bukan sekedar untuk membuang jenuh atau sekedar hiburan. Bukan. Saya menemukan jauh lebih besar dari sekedar hiburan. Drama ini mengingatkan saya pada banyak hal. Sebelumnya, Kamsahamnida 🙂

Overall, saya menyukainya. Bicara tentang kehidupan pasti tak akan ada habisnya. Kita akan dihadapkan pada bermacam-macam hal bahkan masalah. Tergantung bagaimana kita mengubah sudut pandang dalam melihat karena itu akan mempengaruhi gerak dan setiap keputusan yang akan kita ambil. Ada banyak tokoh dalam drama ini, hanya saya terfokus pada sepasang tokoh “Jeon Jin Ho” dan “Park Gae In”.

“Jeon Jin Ho”

Seorang arsitek yang sedang mempertahankan perusahaannya. Seorang yang cool. Seorang yang memperjuangkan mimpi-mimpinya demi orang-orang di sekitarnya. Seorang yang berani mengakui kesalahan dan berani memperbaikinya. Di cerita itu, ia berusaha keras membuat original design untuk sebuah proyek yang awalnya ia ingin meniru design seorang professor. Yang tak kalah berkesan, bahkan sangat berkesan bagi saya adalah saat ia berani mengakui perasaannya 🙂

Segala sesuatu, apa pun itu harus diperjuangkan!

“Park Gae In”

Seorang perempuan yang ceria dan bersemangat. Seorang desainer interior. Putri seorang professor terkenal. Mudah memaafkan. Mudah mempercayai orang. Pekerja keras. Polos. Sederhana. Perempuan yang beruntung mendapat perhatian khusus dari si arsitek, menurut saya.

Im just going to choose to trust. Im just going to trust you.

Hmm, sebenarnya drama ini seharusnya ditonton oleh mereka yang sudah menikah :-D. Karena ada beberapa adegan yang memang itu adegan dewasa. Setelah menontonnya memberi banyak dampak. Dampak positif tentunya. Saya bisa belajar ketika kita memutuskan untuk saling mencintai maka kita harus bisa peduli satu sama lain, saling memahami dalam banyak hal, saling menerima, saling melengkapi, saling menjaga, saling memercayai, dan saling, saling, saling yang lain. Saya bisa belajar memahami jenis laki-laki yang memang dia sedikit bicara dan cool. Tipe seperti ini memang lebih banyak mendengar dan menyatakan perasaannya dengan sikap bukan kata-kata manis yang berlimpah. Seorang yang spesial ini tidak akan bisa kita memaksanya untuk banyak bercerita, ia akan bercerita secukupnya, sangat secukupnya. Sikapnya yang menginginkan sesuatu tidak akan secara langsung menyatakan keinginannya tetapi dengan sikap, dengan kode yang memang kita harus peka dan pintar menerjemahkannya. Lalu, apakah saya mengalaminya? Ya 😀

Saat melihat sosok “Jeon Jin Ho”, justru mengingatkan saya pada lelaki langit yang di seberang sana. Lelaki langit yang di suatu kesempatan berkata, “Wujudkan mimpimu. Aku sebagai lelaki berkewajiban untuk mendukung wanitaku.” Di depannya saya biasa saja saat itu. Tapi akhir-akhir ini justru kata-katanya membuat saya cengeng bukan berarti saya down justru membuat saya kuat. Bertahan dan berjuang. Saya egois? Mungkin, justru itu tertepis dengan “Buat aku bangga”, kata-kata sederhana tapi wah untuk saya.

Tiba di episode 16 di mana “Jeon Jin Ho” sakit. Setelah “Park gae In” menemuinya, ia segera sembuh. Ya, tiba di cerita itu saya teringat beberapa hari lalu, lelaki langit saya bilang kalau sedang tidak enak badan. Mungkin kecapekan, tapi lebih mungkin lagi karena rindu. Kata kakak saya yang menemani nonton di episode 16 mengatakan seperti itu. Rindu. Ketika ia bilang tidak enak badan, saya tidak menanyai apakah sebabnya karena rindu. Itu pertanyaan retoris, kita sama-sama tahu jawabannya. Doa yang lebih banyak dan lebih sering saya panjatkan adalah cara saya memeluknya dari jauh.

Saya di sini berharap akan semakin lebih baik, lebih keras lagi berjuang menjemput takdir saya. Semoga langkah kami diridlai. Semoga pundak kami dikuatkan. Semoga rindu kami dipertemukan sesegera mungkin meski nanti akan menuai rindu lagi, lagi, dan lagi. Semoga dengan ‘perjanjian suci’ yang terucap dan disaksikan ribuan malaikat akan membuat kami saling menjaga, membuka banyak pintu kemudahan, pintu kesempatan, pintu keberkahan, dan pintu-pintu kebaikan yang lain. Semoga semua ini mendewasakan. Segala puji bagi-Mu yang telah menakdirkan ia sebagai lelaki langit untuk saya.

Akhirnya, kerinduan ini terucap mengalir. Thanks for your patience. This distance is too difficult but i’ll run in your way, into your arms. Stay over there. Dont go anywhere. I’ll stay by your side.

Ayo kita hidup ‘bebas’ dengan saling mengikat hati 🙂