Tentang Cinta Pagi Buta

Tentang cinta pagi buta yang hangat. Tentang cinta yang mampu berkompetisi dengan rasa dingin. Kecil tetapi membuat saya cukup hangat, lagi-lagi membuat saya jatuh cinta di pagi buta.

Pagi buta pukul 01.32, mungkin merupakan pelatihan observasi. Mengamati dunia di balik mikroskop memungkinkan kita menangkap detail tentang sunyi, dingin, kegelapan, kesendirian bahkan lolongan anjing sekalipun. Seketika saya bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Kemurnian rasa hangat yang didominasi rasa dingin khas di pagi buta.

Banyak hal yang membuat kita jatuh cinta pada hidup. Tanpa banyak kata. Tanpa banyak alasan, kita mampu mengaku bahwa kita sedang jatuh cinta. Ya, inilah rasa. Rasa yang mampu mendahului sabda. Maka, biarkanlah saya mengakuinya bahwa saya sedang jatuh cinta.

Dalam keadaan mabuk asmara, kita akan merasa lahir untuk seseorang yang kita cinta. Dalam keadaan terinspirasi, kita merasa lahir untuk berkarya dan mencipta. Seorang ibu, dalam puncak kebahagiaannya, akan merasa lahir untuk melahirkan buah hatinya. Untuk beragam alasan, kita jatuh hati pada hidup dan kehidupan. Cinta yang barangkali juga datang dan pergi sesuai dengan situasi yang terus berganti.

Rasa dingin dan suasana pagi buta ini sejenak menggerakkan saya untuk menelusuri cinta yang nyaris tak terganti, yang meski hidup kadang terasa membosankan dan menyebalkan, tetapi inilah kemurnian jiwa tanpa ada dusta di dalamnya.

Cinta pagi buta pada secangkir teh hangat.

Ada kemurnian yang selalu menjemput jiwa saya untuk sejenak berkelana meski di tengah kecemasan pada keadaan alam yang bergolak dengan berdekatan jarak tapi ada keindahan yang bergeming saat saya masih diizinkan untuk menikmati kehangatan cinta pagi buta dengan secangkir teh hangat. Sesekali ditemani riuh petir yang beradu dengan sunyi cukuplah dinikmati dengan penuh kesyukuran. Sederhana memang, sama halnya dengan semua penelusuran pelik yang biasanya berakhir pada penjelasan sederhana.

Sungguh saya tergoda berkata, secangkir teh hangat pagi buta ini adalah kekasih saya. Pacar gelap tapi tetap, yang dicumbu jiwa saya saat menjalin kasih dengan dunia materi dan sensasi ini. Bahkan rasa dingin tak mampu membendung cinta ini. Cinta pagi buta pada secangkir teh hangat.

Hujratii jannati, 28 Oktober 2010.
02.18

Advertisements

Satu Jam Saja

Satu jam saja,
aku bersemayam bersama ingatan dalam ranah yang kusebut keabadian. Kudekap, kuucap dan kucecap satu demi satu yang telah terlewat. Sebelum lautan cahaya melarutkanku dan waktu. Tanpa pernah tertukar bahkan tanpa pernah terlupa, aku menemukanmu dalam wujud yang satu.

Satu jam saja,
Aku dan kamu, mungkin kita. Kita yang menangis. Kita yang meregang di antara ruang. Mungkin juga, kita yang sedang tersesat di belantara masa.

Satu jam saja,
berjuta kaidah telah kita mainkan. Berjuta sabda telah kita ucapkan hanya untuk tahu dan merasakan jalinan rasa.
Tahukah,
meski tak terkira banyaknya masa dicipta. Meski tak terhingga rasa menjadi pembeda dan aku telah mencuri simpan dalam belantara yang kusebut kehidupan.

Satu jam saja…

*Diiringi “For The Rest of My Life” & “BarakaAllahu Lakumaa” by Maher Zain
Satu jam memasuki Hari Sumpah Pemuda

‘Salah Tempat’

Apa jadinya jika kita ‘Salah Tempat’? ‘Salah Tempat’ di sini akan bermakna sangat luas, bisa berarti salah menempatkan barang, salah situasi bahkan salah menempatkan diri. Salah menempatkan barang, kita pun akan kelabakan jika suatu saat kita membutuhkannya. Salah situasi dengan pakaian yang dikenakan? Hmm, bakal nanggung malu tuh… Begitu pula dalam penggunaan bahasa. Lebih-lebih bahasa asing alias bukan bahasa ibu kita. Memang akan terdengar hebat jika kita menggunakan bahasa asing terutama Bahasa Inggris atau Bahasa Arab disela-sela percakapan kita sehari-hari jika yang mendengar percakapan kita tidak paham dengan bahasa yang kita gunakan, akan tetapi kita akan menanggung malu tanpa kita sadari jika yang mendegar percakapan kita lebih mengerti daripada kita.

Saya mendengar dan saya mendapati kalimat seperti. “I am happy because I am your zaujaty and you are my rijal”, kata seorang istri kepada suaminya. Atau, “Ishbir yaa Ukhti…”, kata seorang cewek pada teman ceweknya.

Baiklah, jika mendengar kalimat pertama mungkin orang akan bergumam “Subhaanaallah, dua bahasa. Hebaaatttt…” akan tetapi saya justru geli saat mendengar dan mendapati kalimat itu. [Kok ada ya…?]. Setahu saya, your adalah sebuah penanda kepemilikan untuk kamu sedangkan zaujaty [bahasa arab] berarti istriku. Lalu, my adalah penanda kepemilikan untuk aku dan rijal [bahasa arab] merupakan bentuk jamak/plural dari kata rajulun yang artinya laki-laki. Meskipun, rajulun bisa diartikan orang atau dalam konteks kalimat tersebut diartikan sebagai suami. Tetapi, dalam bahasa arab suami juga punya terjemahan tersendiri bukan dengan kata rijaal ataupun rajulun karena kata itu akan menjadi umum dan sangat luas artinya.

Kalimat kedua, Ishbir yang bermakna bersabarlah juga punya ‘tempat’ khusus, khusus ditujukan untuk laki-laki. Jika ditujukan untuk cewek, silakan gunakan Ishbirii untuk mengungkapkannya.

‘Salah Tempat’ yang membuat telinga saya geli mendengarnya dan membuat mata saya juga ‘geli’ saat melihatnya. Pemahiran bahasa memang harus dilatih dengan cara latihan bicara secara terus menerus. Dalam latihan itu pun sering terjadi kesalahan-kesalahan tapi ya memang seperti itu latihan ‘try and error’. Bukan berarti kita bebas mencampuradukkan dua bahasa [yang tidak bersalah itu] menjadi tidak bermakna atau tidak pada ‘tempatnya’. Jikalau memang ingin menggunakan dua bahasa maka tuntaskan satu kalimat dengan satu bahasa [dengan benar] lalu disusul dengan bahasa lain pada kalimat selanjutnya agar enak didengar dan dimengerti maknanya.
Dan jangan lupa, diskusikan tentang pemakaian bahasa yang benar pada orang yang benar. Jangan asal comot sana sini lalu pakai seenaknya sendiri karena menggunakan bahasa asing dengan benar sama dengan kita belajar menghargai keragaman budaya yang ada.

Jangan ‘salah tempat’ lagi ya….. 😀

*Bersyukurlah kalian yang diberi kesempatan mempelajari bahasa arab maupun bahasa inggris. Teruslah belajar dan jangan cepat puas. Mengutip kata-kata Bapak Fatkurrahman, S.IP., M.Si., dosen Hubungan Internasional FISIP UGM, “Jika kau ingin menggenggam dunia maka kuasailah bahasa inggris. Jika kau ingin menggenggam dunia dan akhirat maka kuasailah bahasa arab”