Sosok Di Balik Kepopuleran Jalan H.R Rasuna Said Jakarta

rasunasaid*sumber gambar di sini.*

Bagi saya, sebagai newcomer di Jakarta sebuah jalan bernama H.R Rasuna Said sudah cukup familiar di telinga, apalagi bagi warga Jakarta jalan H.R Rasuna Said tentu sudah tidak asing lagi, bahkan saya pikir sebagian besar warga Jakarta menghabiskan waktu untuk beraktifitas di kasawan H.R Rasuna Said yang memang terletak di jantung ibukota.

Jalan H.R Rasuna Said adalah salah satu jalan utama Jakarta sekaligus pusat bisnis dan perekonomian ibukota yang biasa dikenal sebagai Financial District  (Poros Sudirman-Thamrin-Kuningan), begitu kata seseorang yang saya tanyai saat berada dalam TransJakarta. Jalan ini membentang menghubungkan  Menteng, Jakarta Pusat ,Tendean hingga Mampang Prapatan Jakarta Selatan. *semoga saya benar nyatatnya saat mendengar jawaban yang saya dapat*haha 😀

Sebelum saya berstatus newcomer, saya pernah beberapa kali berkunjung ke sebuah kantor yang bertempat di Menara Jamsostek kawasan Sudirman dan di saat bersamaan kawasan H.R Rasuna Said juga disebut-sebut. Ternyata memang saling berdekatan. Kawasan H.R Rasuna Said akan banyak dijumpai banyak perantoran dan kantor-kantor kedutaan besar, di antaranya Kedutaan Polandia, Kedutaan Turki, Kedutaan Belanda, Kedutaan India, Kedutaan Singapura, Kedutaan Swiss, Kedutaan Hungaria, dkk.

Lalu, siapakah sosok di balik nama besar H.R Rasuna Said?

Awalnya, saya tebak-tebak (tanpa) berhadiah bahwa sosok di balik nama besar H.R Rasuna Said adalah seorang laki-laki. Namun, tebakan saya salah. Di balik nama besar H.R Rasuna Said adalah seorang wanita tangguh dan pemberani. Hal yang cukup menakjubkan bagi publik saat beberapa poster beredar di lini masa Facebook yang membagikan informasi tentang sosok H.R Rasuna Said.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang kemudian dikenal dengan nama H.R Rasuna Said adalah sosok wanita pemberani, berwawasan luas dan bekemauan keras. Sosok wanita yang dilahirkan di Maninjau, Agam, Sumatra Barat ini juga disebut sebagai srikandi kemerdekaan karena perjuangannya yang gigih melawan penjajahan Belanda serta ketika kependudukan Jepang, H.R Rasuna Said ikut berpartisipasi aktif sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang. Meskipun pada akhirnya organisasi yang didirikannya dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.

Dalam kesempatan yang lain, H.R Rasuna Said juga menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia. Di sisi lain, karena sikap tegas dan berpikir kritis itulah H.R Rasuna Said ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda sekaligus menjadi sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict yang dianggap menentang pemerintah Belanda.

Sebagai srikandi kemerdekaan, H.R Rasuna Said juga memiliki prestasi di dalam karir politinya di DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 hingga meninggal. Sosok kelahiran September 1910 ini juga memiliki amanah sebagai Sekretaris Cabang Sarekat Rakyat, Anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan Dewan Perwakilan Sumatera. Atas segala usaha yang beliau upayakan akhirnya sosok H.R Rasuna Said mendapat gelar pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Jadi, itulah sosok di balik nama besar Jalan H.R Rasuna Said. Sosok pemberani dan berwawasan luas yang akhirnya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di jantung ibukota kota. Sebuah nama jalan yang menurut saya memiliki nilai filosofis dan menyimpan harapan yang tinggi agar pemuda-pemudi generasi sekarang maupun mendatang mampu meneladani semangat juang meski di zaman yang berbeda dan dengan cara yang beragam pula. Tidak kalah penting, kita seharusnya sebagai generasi masa depan setidaknya menyisihkan ruang untuk mengingat pahlawan-pahlawan kita bukan untuk terjebak nostalgia kemenangan di masa lalu, tetapi juga untuk tidak mudah putus asa berjuang demi mimpi dan cita-cita.

Sumber Bacaan:
*http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1934-orator-srikandi-kemerdekaan
*http://profil.merdeka.com/indonesia/r/rasuna-said/
*https://id.wikipedia.org/wiki/Rasuna_Said
*http://jualtasrajut.com/blog/biografi-singkat-hr-rasuna-said/
*http://www.kusuka.com/2015/11/11/sejarah-rasuna-said/

Catatan Penting (banget): Bertanya sana-sini saat berada di KRL maupun TJ “Mbak, udah lama di Jakarta? Asli Jakarta?”, jika suatu saat bertemu dengan Mbak-Mbak yang bertanya seperti itu, mungkin itu adalah saya…hahaha 😀

 

Advertisements

Sudah Sewindu

Sore ini ada banyak lagu yang berbaris rapi di playlist -now playing- mulai dari lagu-lagu dari Jay dan Gatra Wardaya, Maudy Ayunda, Frau, Ost. AADC hingga berlabuh pada lagu Tulus yang berjudul Sewindu yang akhirnya mengingatkan saya akan usia rumah aksara ini. Yap, Ruang (C)indi telah berusia 8 tahun. Namun, jika dilihat dari usianya yang sudah menuju matang, saya pun akhirnya malu sendiri karena belum maksimal merawat dan ‘membesarkannya’. Lagi-lagi, menjadi ‘ibu’ adalah proses di mana belajar tak mengenal kata henti.

Rumah aksara ini lahir di sebuah ruang di lantai dua MAN 1 Surakarta, ruang lab komputer. Rumah aksara ini lahir karena saya dan beberapa teman yang meminta ekstra waktu untuk menggunakan komputer beserta fasilitas internet pada seorang ustadz super kece di akhir kelas. Seorang ustadz yang dengan penjelasannya akhirnya saya penasaran apa itu blog, seberapa asyik memiliki blog, dan seberapa efektif untuk membuang uneg-uneg saat itu. Meski sudah di akhir masa putih abu-abu 😀

Seorang ustadz yang bahkan hingga kini masih selalu keep on touch pada saya dan teman-teman atau jika saling selo kami juga melempar candaan ringan secara langsung ataupun di dalam kolom komentar.*haha 😀 Seorang ustadz yang bahkan di setiap kunjungan ke UGM, beliau selalu menghubungi saya. Ustadz IT terkerenlah ya…

Sewindu yang berlalu dan rasa-rasanya teramat sayang dengan apa yang sudah berlalu tanpa saya memberikan yang spesial apa rumah aksara ini. Lebih mengenaskan lagi ketika 2015 hanya ada dua jari tulisan yang amat tidak penting bahkan seakan hanya untuk memenuhi ‘yang penting ada postingan’.

Rumah ini, dulunya dibangun di platform blogspot tetapi hanya sebentar dengan tagline ‘Secangkir Coklat Panas’ yang bermakna tentang harapan pada sebuah tempat di kawasan mediterania. Benar-benar rumah seorang pemimpi. Tepatnya tahun ke berapa saya lupa, akhirnya bermigrasi ke platform wordpress dan semoga bisa segera pindah dengan domain sendiri.

Sewindu berlalu dan tetap masih dalam rencana-rencana besar ‘to write’. Sudah sewindu, saya merawatnya dan di akhir 2015 yang lalu, saya memang sudah meniatkan untuk belajar tentang blog dan segala sesuatu yang akan mendukung pertumbuhannya. Sudah sewindu, akhirnya semua niatan dijawab Tuhan. Saya mengikuti seminar, workshop, komunitas, talkshow, teman-teman, dan buku tentang have fun blogging. Hakikatnya, segala sesuatu butuh ilmu dan saya memang ingin serius merawat rumah aksara ini sebagai salah satu wadah passion saya.

Sudah sewindu, akhirnya saya pun menemukan muara ke mana rumah aksara ini akan berlabuh, akan seperti apa dan semoga tidak berhenti pada sebuah niatan dan perencanaan. Semoga, semoga, semoga.

Selamat berlabuh di dermaga ‘Sewindu’. ^^

Serunya Kuliah Lapangan Ala #siAPP Jalan-Jalan

Sebagai seorang yang memiliki latar pendidikan yang jauh dari bidang teknik dan industri, betapa bahagia ketika mendapat ajakan dari seorang kawan yang saya anggap senior di bidang jurnalisme untuk jalan-jalan rasa ‘kuliah lapangan’ di kawasan industri hijau. Industri hijau yang akan dikunjungi berada di kawasan Karawang yang terkenal sebagai salah satu pusat kota industri. Lalu, mengapa saya menyebutnya sebagai industri hijau? Yuuuk, lanjutin bacanya, pelan-pelan saja. 😀

Selasa (19/4) adalah pengalaman pertama saya merasakan kuliah lapangan di sebuah industri hijau, PT. Pindo Deli Pulp and Paper yang terletak di kota Karawang, Bekasi Timur. Saya menyambut ajakan dan perjalanan dengan antusias. Awal pagi itu, mula-mula saya mulai dengan sebuah rasa syukur sebagai newcomer di Jakarta, saya memperoleh kesempatan langka ‘melihat’ sisi lain hiruk pikuk kota Jakarta. Kendaraan yang nyaring dengan klaksonnya dan ritme orang-orang yang akan memulai aktifitasnya.

IMG-20160419-WA0000

Perjalanan dimulai di titik meeting point yang telah ditentukan di Sinar Mas Land Tower kawasan Thamrin. Saya tidak sendiri, ada banyak partner yang berada dalam perjalanan menuju Karawang. Saya bersama orang-orang hebat. Menurut saya, perjalanan yang menyenangkan itu tergantung partner perjalanannya, mengasyikkan atau membosankan. Betapa saya senang sekali bersama partner yang mengasyikkan.

IMG-20160419-WA0008

Perjalanan Jakarta-Karawang ditempuh kurang lebih 2 hingga 2,5 jam. Setelah keluar tol memasuki kawasan industri, sampailah kami di PT. Pindo Deli Pulp and Paper. Hal yang menakjubkan saat memasuki kawasan PT. Pindo Deli Pulp and Paper betapa mata dimanja dengan hijaunya pohon-pohon yang menjulang di kanan-kiri. Sensasinya semacam naik-naik ke puncak gunung.

IMG-20160419-WA0071

Tiba di kantor, kami disambut dengan sangat hangat oleh Bapak Andar Tarihoran -CSR dan Humas-. Sebelumnya, kami disambut oleh para bapak-bapak keamanan yang membagikan kartu VIP Visitor dan helm-helm putih, ini dilakukan sebagai SOP keamanan. Sambutan hangat berlanjut di ruang auditorium PT. Deli Pindo Pulp and Paper dengan kombinasi aroma kopi dan teh panas dengan ruangan yang sejuk, kami mengikuti sambutan Bapak Huang Hua Ching -Direktur- dilanjutkan dengan profil perusahaan berlanjut dengan inti materi how we look into paper making process.

Pernahkah kita memikirkan atau sedikit terlintas tentang proses lahirnya kertas yang ada di tangan kita? Apakah sesederhana saat kita menggunakannya? Nah, saya pun juga baru mengetahui bahwa kertas terlahir dengan proses yang tidak mudah dan panjang. Ada orang-orang hebat yang membidani kertas-kertas yang kita pakai. Ada mesin-mesin yang harus dipantau setiap detik dalam perputaran waktu 24 jam.

Di ruang auditorium, saya (kami) mendapat penjelsan yang rinci tahapan pembuatan kertas dan tisu. Namun, lagi-lagi saya mendapati banyak istilah-istilah yang asing di telinga, ya meskipun ada video yang diputar jadi sedikit membantu memberi gambaran. Setelah semua sesi dijelaskan dengan sangat bagus, Bapak Andar seakan menangkap antusias kami termasuk saya dengan tawaran yang akhirnya membawa saya melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri proses kelahiran para kertas putih berkualitas yang hadir di tengah-tengah kita.

DSC_0007.jpg

Yap, kuliah lapangan dimulai di Distrik PM 8. Sebelumnya, kami sudah dijelaskan tentang peraturan mengunjungi pabrik di mana segala proses pembuatan kertas dilakukan, di antaranya kami tidak boleh mengambil foto di sudut-sudut tertentu karena akan mengganggu sistem kerja mesin yang sangat sensitif dengan kilatan kamera. Proses yang panjang dan tidak sederhana terjadi di sini, mulai dari pembersihan bahan baku, pengolahan, hingga penggulungan menjadi jumbo roll paper yang nantinya masih harus dipotong menjadi ukuran A4 dkk. Rangkaian mesin diawasi selama 24 jam secara terus-menerus. Proses ini dibagi menjadi 2 shift kerja yang masing-masing terdiri dari 32 orang yang akan siap siaga menjaga.

DSC_0011(1)

Selain mereka para yang berperan dibalik layar melakukan pengawasan, ada juga yang memiliki peran di balik botol-botol eksperimen yang berada di laboratorium. Disinilah kualitas benar-benar dijaga yang akhirnya membuahkan hasil bahwa kertas milik PT. Pindo Deli Pulp and Paper diakui kehalalannya oleh MUI. Saya pikir ini adalah sebuah komitmen untuk melindungi hak konsumen. It is a big deal for using a good stuff in life.

DSC_0009(1).jpg

Selama berkeliling pabrik, akhirnya saya menyadari ada yang salah tentang apa yang saya pikirkan. Ketika masuk mata dimanja habis-habisan dengan dedaunan yang seakan melambai mesra yang itu saya pikir ‘ah, hanya di depan aja, coba nanti di belakang apakah seperti ini?’. Maafkan atas kacaunya prasangka saya ini, ternyata prasangka salah, dari kantor menuju distrik PM 8 pepohonan rindang di sisi kanan-kiri semacam hutan pinus, jika dilihat dari betapa rapi barisan pohon, maka memang sengaja dibuat sehijau mungkin lingkungan PT. Pindo Deli Pulp and Paper, meski ada beberapa bagian yang pepohonannya tidak beraturan, mungkin itu bagian yang alami yang sudah ada ketika pabrik mulai berdiri. Kawasan hijau dengan rindangnya pepohonan masih terus berlanjut menemani perjalanan dari distrik PM 8 hingga kembali lagi menuju pintu gerbang di depan.

Tentang PT. Pindo Deli Pulps and Paper

Agar lebih bisa menghayati bagaimana bahagia yang saya rasa ketika jalan-jalan rasa kuliah lapangan, simak dulu video proses dibalik layar di sini.

Industri hijau adalah industri berwawasan lingkungan yang menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup melalui efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal ini terlihat setidaknya di lingkungan kawasan pabrik yang benar-benar hijau. Perjalanan PT. Pindo Deli Pulps and Paper mendapat gelar industri hijau tidak serta jatuh dari langit begitu saja. Namun, melalui berbagai proses dan tahapan melalui beberapa kriteria penilaiannya. Di antaranya didasarkan pada tiga hal utama, yakni proses produksi yang meliputi efisiensi produksi, penggunaan material input, energi, air, teknologi proses, sumber daya manusia dan lingkungan kerja di ruang proses produksi. Kemudian, kinerja pengelolaan limbah meliputi penurunan emisi CO2 (untuk industri besar), pemenuhan bahan baku mutu lingkungan (industri sedang), serta manajemen perusahaan. Semua kriteria penilaian tersebut didapat melalui proses dalam rangka meningkatkan kualitas.

Penghargaan industri hijau diberikan Kementerian Perindustrian dan diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada 2015 sekaligus hal ini menegaskan bahwa perusahaan telah menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Penganugerahan Penghargaan Industri Hijau dilaksanakan setelah melalui berbagai tahap seleksi dan verifikasi oleh Kementerian Perindustrian berdasarkan sistem yang dievaluasi secara berkala termasuk kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan.

Beberapa hasil produksi PT. Pindo Deli Pulps and Paper antara lain Bola Dunia, Buku Mirage, Gold Paper, Sinar Dunia, Paseo, dan Nice. Nama-nama (produk) yang sudah tidak asing lagi di kehidupan sehari-hari.

Nah, satu lagi yang membuat saya tertarik adalah sebuah obrolan singkat di antara deru mesin adalah bahwa PT. Pindo Deli Pulp and Paper juga mendaur ulang kertas sebagai komitmen dari gelar industri hijau yang telah disandangnya. Semoga pendengeran saya benar adanya di antara bising dalam menangkap info menyenangkan ini. Para punggawa dibalik layar pun dengan dedikasi tinggi menghadirkan sesuatu yang terbaik, maka kita generasi muda ini juga harus bangga dengan menggunakan produk dalam negeri.

Sampai ketemu kembali di jalan-jalan antimainstream rasa kuliah lapangan selanjutnya yaaa… *(bukan)kode 😀

IMG_20160419_192238.jpg

Disclaimer: foto-foto di HP saya semua masuk di galeri dan saya sendiri bingung mana jepretan saya sendiri dan mana yang berasal dari group WA. Bagi teman-teman yang merasa memiliki hak cipta, boleh meninggalkan komentar agar nantinya saya tambahkan keterangan di bawah foto. Terimakasih ^^

 

 

BloggerCrony Meets Up: ‘Branding You and Your Blog’ Bersama Dya Loretta & Forum Liputan6 SCTV

Pertama-tama, saya ingin mengheningkan cipta terlebih dahulu untuk sejenak bersyukur atas kesempatan yang saya terima melalui Blogger Crony Community. Kedua, mau sungkem dulu ke Mbak Wawa biar jadi anak yang berbakti *hehe* dan mengucap salam pada Mas Satto Raji karena ‘melirik’ saya hingga saya bisa punya kesempatan ‘main’ ke SCTV Tower.

DSC_0001 (1)*Dokumentasi Pribadi*

Di penghujung minggu kedua di bulan April ini, saya mendapat kesempatan untuk belajar tentang personal branding khususnya blog dengan judul ‘Branding You and Your Blog’ bersama Dya Loretta –Dosen Komunikasi dan Marketing Communication Expert di 5 universitas- & Forum Liputan6. Workshop hari ini adalah salah satu agenda program Capacity Building BloggerCrony untuk D’Cronys menambah softskill. 

DSC_0003*Dokumentasi Pribadi*

Blogger meets up dalam workshop ‘Branding You and Your Blog’ diselenggarakan di News Meeting Room lantai 14 SCTV Tower Senayan City. It was a great chance to me, betapa tidak, kapan lagi bisa masuk kantor SCTV dengan keamanan yang super oke *hahaha*. Acara di buka dari Forum Liputan6 SCTV tentang beberapa program Forum Liputan6 termasuk menjelaskan tema lomba Liputan6 tentang Kartini (Kekinian) serta sambutan hangat untuk para peserta.

DSC_0013*Dokumentasi Pribadi*

Sesi selanjutnya materi personal branding disampaikan oleh Mbak Dya Loretta yang diawali dengan sebuah kisah inspiratif seorang gadis cilik yang akrab disapa Icha, dia adalah salah satu gadis cilik yang sukses membangun personal branding di usia 7 tahun, usia yang masih sangat muda. Mbak Dya Loretta menurut saya sangatlah bagus menyampaikan setiap poin materi sehingga saya khususnya sebagai salah satu peserta mampu menyerap dengan baik sambil flashback kejadian atau peristiwa yang pernah saya lalui, lihat, ataupun saya dengar yang memiliki kemiripan atau sama persis dengan apa yang disampaikan MbaDya Loretta.

DSC_0011*Dokumentasi Pribadi*

Suksesnya membangun personal branding akan sangat berpengaruh kepada blog yang sudah kita bangun. Ketika kita semakin memahami konsep diri kita maka akan semakin puas dan merasa nyaman dengan diri kita di mana kita akan menemukan ciri khas dari diri kita yang akan jadi kekuatan kita dalam rangka self promotion jika kita sebagai blogger maupun sebagai entrepreneur. Ada beberapa elemen personal brand identity yaitu, attribute, personality, value and benefit, uniqueness, outlook, dan consistence. Personal Branding berangkat dari soul (jiwa) yang ada dalam diri.

DSC_0014*Dokumentasi Pribadi*

Setelah kita mampu mengenali siapa diri kita dan mampu membangun sebuah personal branding, maka tahap selanjutnya adalah menentukan elemen media sebagai media komunikasi yang akan mendukung kita. Mbak Dya Loretta membaginya dalam 5 hal yaitu, lingkungan, makna, simbol, proses, dan sosial.

DSC_0009*Dokumentasi Pribadi*

Sekarang ini, saya benar-benar mengakui bahwa dunia media digital sangatlah mengalami kemajuan bahkan hampir-hampir tak terbentung. Kemajuan itulah yang seharusnya kita mampu menangkap peluang untuk dimanfaatkan sebagai media online kita memperkenalkan diri kita. Beberapa media digital yang familiar telah kita kenal, seperti Facebook, Twitter, Periscope, Linkedin, Instagram, blog dengan berbagai platform, dan kawan-kawannya. Semua media online itu bisa kita jadikan sebagai media promosi yang menampilkan image tentang diri kita.

DSC_0012*Dokumentasi Pribadi*

DSC_0016*Dokumentasi Pribadi*

Lalu, apa tahap selanjutnya? Tahap selanjutnya adalah memahami dan menentukan target pembaca. Misalnya, beauty blogger memberikan tips make up dan review produk kecantikan dengan target pembaca usia 18-25, make up untuk ke kantor, make up untuk hang out, dan seterusnya.

Setelah semua dilakukan, hal yang paling terakhir adalah harus konsistensi dan fokus. Fokus meningkatkan branding yang sudah dibangun di media sosial yang kita gunakan serta konsisten mengunggah tulisan kita sebagai komitmen dari sebuah konsistensi.

DSC_0019*Dokumentasi Pribadi*

Daaaan, you can say proudly, “Yes, it’s me!”

DSC_0017*Dokumentasi Pribadi*

Nah, tibalah saatnya saya cuap-cuap tentang workshop yang telah menyalakan semangat saya untuk terus bisa meng-upgrade kualitas diri saya di dunia per-blogging-an, konsisten, dan fokus. Poin-poin yang susah-susah gampang.

Saya teringat bahwa ‘rumah’ aksara saya ini telah saya bangun sejak April 2008. Yap, telah berusia satu windu. Namun, usia dan kualitas yang saya hasilkan belumlah sebanding. Dari workshop “Branding You and Your Blog” akhirnya saya mensyukuri bahwa saya memiliki ilmu dan pengalaman sebagai bekal ‘mau dibawa ke mana blog ini’ *sambil dinyanyiin* Saya pun seharusnya sudah harus memulai untuk mengurangi segala macam pembenaran yang membuat saya menunda untuk menulis. Sayang banget kan, ilmu ada, para coaches yang hebat ada, dan teman-teman yang saling menularkan semangat ‘ayo menulis’ pun ada. Selain tentang menulis, pengalaman hari ini telah membawa saya ‘melihat’ Jakarta melalui passion sekaligus sama bisa belajar tentang public speaking dari Mbak Dya Loretta dan seni berkomunikasi dengan teman-teman yang baru saya temui. Ah, this happiness is unspoken conclusion.

Daaaan, terimakasih BloggerCrony Community ^^

13006734_1128087470566669_7245607578012198827_n*Foto dari Fatiha Fathan Fara*

“Bring Your Best” With Your Color by Indonesiana & Tempo Institute

12986956_10153995063742347_3484114641469099021_n*Foto dari Almazia*

Pertama-tama, saya perlu sekali bersyukur mendapat kesempatan sebagai salah satu peserta yang dilirik. Kedua, saya perlu bersyukur menjadi bagian dari Blogger Perempuan.

Secara kodrati khususnya bagi seorang wanita yang diciptakan lengkap dengan kecantikan yang dimiliki masing-masing, pasti ingin berpenampilan menarik, di luar rumah ataupun minimal di rumah, di depan suami dan anak-anak. Penampilan, bagaimana pun akan memengaruhi penilaian awal orang lain terhadap diri kita. Diakui atau tidak, sebenarnya penampilan kita itu bisa menambah kepercayaan diri.

Sebelum saya berbagi tentang materi workshop kemarin, saya mendapat sebuah warming up sebelum acara dimulai, hal yang saya dapat itu tentang personal branding. Singkat cerita, kemarin itu akhirnya saya kopi darat dengan teman-teman Blogger Perempuan. Saat saling sapa antara saya dan Mbak Desy -tepatnya setelah saya menyebut nama-, tanggapan Mbak Desy adalah “Oh Cindi ya? Yang profilnya pakai foto kaki” *hahahaha* Yes, I got it. Itulah branding/image (mungkin) diingat teman-teman di dunia maya tentang seorang Cindi. Saya pun akhirnya bisa mempunyai jawaban ketika ada yang berkomentar ‘ganti dong foto profilnya’.

Oke, back to workshop, 

Workshop Personal Branding bertajuk Bring Your Best diselenggarakan oleh Indonesiana dan Tempo Institute bertempat di Gedung Tempo Lantai 7 Jalan. Palmerah Barat no. 8 pada hari Selasa, 12 April 2016. Workshop dibuka oleh Mbak Isti dari Indonesiana yang super charming dan enerjik. Workshop ini mengundang dua narasumber yang expert dan telah berpengalaman di bidangnya yaitu, Debora Amelia Santoso (peraih penghargaan Top 5 PR Indonesia) dan Fitria Carolina Adiwibowo ( Make Up Artist dari Australia dan manager editor majalah fashion Australia). Selama menyampaikan materi, kedua narasumber sangat ramah dan supel. Rasanya sangat nyaman belajar dari beliau berdua.

Secara garis besar, -bagi saya- workshop tersebut membuka kesadaran saya akan pentingnya warna untuk menggambarkan bagaimana dan seperti apa diri kita terutama saat pandangan pertama. Nah, karena ada narasumber jadi akan ada dua materi yang akan saya bagi yaitu, memilih warna baju yang sesuai dan warna untuk tata rias yang kita gunakan.

Which palette is your color?

Personal Branding adalah sebuah gambaran atau penilaian mengenai apa yang orang lain/masyarakat pikirkan tentang kita. Sederhananya, personal branding merupakan sesuatu/ ciri khas yang melekat pada diri kita yang diingat oleh orang lain. Membangun personal branding juga tidak bisa dibilang gampang, pun juga tidak bisa dibilang susah. Hal terpenting saat membangun personal branding adalah kita mengenal siapa diri kita dan mau dibawa ke mana penilaian orang lain kepada kita, maksudnya kesan yang baik atau yang buruk. Then, how to build our personal branding? Menurut Mbak Amel ada tiga cara yaitu, visual appearance, non-verbal communication dan verbal communication.

Visual Appearance

12963829_10153995075007347_5122938512759342675_n*foto dari Almazia, Blogger Perempuan.

Segala sesuatu yang nampak pada diri kita terutama apa warna yang kita pakai sekaligus cocok pada diri kita. Kita harus mengetahui skin-tone agar bisa memilih warna pakaian yang bisa memberi efek bright dan aura kita bisa terpancar *secerah terik matahari…hahaha* Ada dua kategori yaitu warm dan cool yang nantinya menentukan aksesoris yang paling cocok dikenakan gold atau silver.  Setelah itu kita bisa menentukan warna yang sesuai agar wajah kita terlihat lebih bersinar.

13012621_10153995090787347_1895619200382552371_n.jpg*Foto dari Almazia, Blogger Perempuan. (Penampakan Pallete)

*13015516_10153995092062347_6064113985826943577_n*Foto dari Almazia, Blogger Perempuan. (Penampakan Palette)

Tips untuk menentukan skin-tone dan warna palette dari Mbak Amel adalah dengan menggunakan kain berwarna silver atau gold yang mengkilap dipakai secara bergantian dengan difoto. Hasilnya dilihat dari hasil jepretan, wajah kita brighter saat memakai kain berwarna silver atau gold. Nah, setalah itu kita bisa ke tahap selanjutnya, menentukan warna palette.

12957563_10153995092317347_5484431457963995233_o*Foto dari Almazia, dengan model Mbak Desy ^^*

Setelah tahap mengenal apa warna kita, selanjutnya mengenal jenis tata rias yang kita pakai. Riasan harus selalu disesuaikan dengan acara dan suasana. Misal, kita ke kampus gak mungkin dengan riasan kita jadi pengantin kan? Mungkin ada, tapi pasti jarang banget. *hahaha

Materi make over session disampaikan oleh Mbak Fitria dengan praktek langsung sambil memberikan tips bagaimana berias untuk sehari-hari atau riasan simpel. Bagaimana memilih warna lipstik, perawatan wajah, hingga membahas make up yang simpel dengan BB Cream (tanpa menyebut merk ya).

12985466_10153995087877347_3840602830655530191_n.jpg*Foto dari Almazia*

12968091_10153995069747347_1456050975197056876_o*Foto dari Almazia-BP-** (Mbak Fitri dan Mbak Isti)

12987121_10153995089672347_1441146384846759519_n*Foto dari Almazia -BP-* Make over session by Mbak Fitria.

Saya juga sempat ngobrol dengan Mbak Desy dari Blogger Perempuan dan saya mendapat banyak saran dari beliau. Tipe seperti saya memang cocok dengan riasan yang simple, pakai bedak ditambah celak dan sedikit lipstik dengan warna soft pink juga sudah cukup, itu untuk ke acara-acara yang fomal-semi formal-santai hingga suatu saat nanti saya perlu menghadiri sebuah wawancara agar lebih PD dan ‘ini lho saya layak mendapatkan kesempatan’. It was a great conversation.

12472317_10153995944357347_8655503619066166873_n*Foto dari Almazia-BP-* Yap, inilah saya bagian dari Blogger Perempuan dengan para senior. ^^

Workshop “Bring Your Best” meninggalkan kesan luar biasa bagi diri saya pribadi. Bagaimana tidak, saya ini termasuk cuek soal penampilan dan riasan wajah (mentang-mentang udah laku) tapi sebaiknya memang jangan meniru saya yak. Saya termasuk moody juga dalam hal penampilan. Suka pakai yang itu-itu saja *memang yang dimiliki cuma itu*hahaha*becanda*, lebih karena alasan biar simple. Biar cepet. Pokoknya cuek, yang penting nyaman. Nah, ternyata dalam berpenampilan bukan hanya tentang simple dan nyaman untuk diri, tapi juga membuat nyaman bagi yang memandang. Saya, sebagai istri juga harus menjaga kenyamanan pandangan Mas Partner. Saat di luar, pun saya juga harus menjaga kenyamanan pandangan orang lain terhadap saya. Bukan dengan berias yang menor dan berlebihan tapi demi menghadirkan rasa nyaman. Minimal baju yang rapi dan (mungkin) warna yang sesuai dengan diri kita karena setiap warna memiliki makna filosofi sendiri-sendiri. Tetap sederhana, nyaman dan terutama dapat persetujuan dari suami, kalau saya itu prinsip.

Selain materi, saya jadi nambah teman di perantauan. Jadi punya teman diskusi tentang banyak hal yang menyajikan banyak sudut pandang. Berbagi dan bertukar info, ilmu, pengalaman bahkan jika hanya candaan. Di sisi lain yang tak kalah penting, saya semakin memiliki development security attachment pada banyak orang terlebih orang-orang yang saya temui selama perjalanan dan tempat-tempat baru (bagi saya) yang ada di tiap sisi ibukota. Akhirnya, saya sadar mengapa Mas Partner ‘melepas’ saya pergi sendirian, tapi dengan memastikan kesiapan saya jika pergi sendiri, memastikan tempat tujuan yang mudah dijangkau via google map, mengirim sms atau telp sekedar bertanya di mana, sampai mana, dan seterusnya yang tidak sampai level overprotective. Semoga development security attachment dalam dukungan kelegaan perijinan bisa jadi ‘bekal’ jika suatu saat nanti LDR lagi karena salah satu dari kami harus melanjutkan pendidikan. Tidak ada yang salah dengan sebuah persiapan bukan? ^^

Nah, itu oleh-oleh dari workshop kemarin. Jika ada pertanyaan atau penasaran tentang personal branding, silakan drop pertanyaan teman-teman di kolom komentar. Silakan, drop kritik dan saran juga boleh lhooo… ^^

Asyiknya Tukar Poin Telkomsel di Gramedia

Sebelum tutup kalender bulan Maret kemarin, Mas Partner (yang jika benar tebakan saya) sedang iseng daftar tukar poin telkomselnya dan berhasil mendapat voucher Rp 50.000,00 untuk belanja di Gramedia. Reaksi saya saat itu? Heboh banget dan lebay *hahaha, iyalah Gramedia? Meja kasir yang saya selalu kalah dan khilaf menahan kartu debit. Bookstore is always interesting for me. Balik lagi, lalu saya nyodorin HP ‘punyaku dong…punyaku.’ Dalam bayangan saya saat itu adalah betapa sangat lumayan jika dapat dua voucher :D. Namun, Allah Maha Mengetahui bahwa hamba-Nya tidak diperbolehkan serakah, jadi no Telkomsel saya tidak dapat voucher karena poin yang tidak mencukupi. Benar-benar iseng yang membahagiakan karena sebelumnya cuek (banget) dengan beginian.

DSC_0004

Kemarin, tanggal 7 April adalah hari terakhir tukar poin. Sesampainya di Gramedia pakai bingung mau beli novel apa. Ya, karena bulan ini sedang tidak memungkinkan untuk baca novel, harus fokus untuk belajar *tiba-tiba mual*. Setelah keliling, akhirnya memutuskan untuk mengambil novel terbaru karya Mas Eka Kurniawan yang kemarin dapat penghargaan internasional, yang ramai dibicarakan di twitter, yang sedang hits di web UGM karena beliau adalah salah satu Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), yang novel-novel sebelumnya sudah ada dijajaran lemari buku di rumah. Novel bernuansa sastra filsafat.

Proses penukaran voucher di Gramedia ini sangat mudah. Setelah menentukan buku apa yang akan dibeli lalu bawa ke kasir dan tunjukkan sms dari Telkomsel. Nanti akan diproses oleh kasir Gramedia. Kalau saya kemarin, novel O harganya Rp 99.000,00 dipotong voucher Rp 50.000,00 jadi saya hanya membayar Rp 49.000,00. Namun, sayang, kemarin saya lupa untuk tambah poin Gramedia :D.

Nah, ada yang tertarik? Kepoin no Telkomsel masing-masing ya… 😀

Memulai Kembali

Setelah berhari-hari absen dari One day one Post yang itu berarti saya menumpuk hutang tulisan, akhirnya saya memulai kembali aktifitas menulis ini. Aktifitas menulis yang saya pun belum bisa menjamin akan One Day One Post atau lagi-lagi saya kan menumpuk hutang tulisan. Saya pikir, hal yang paling susah dilakukan adalah memulai yang sebelumnya adalah mengumpulkan niat. Setelah niat terkumpul, sudah memulai, ada hal sulit lain yang ada di hadapan yaitu konsistensi.

Oke, untuk banyak hari yang sudah terlewat, saya telah memiliki niat, saya memulai kemudian saya coba konsisten yang berujung dengan kegagalan terhadap konsisten itu sendiri. Beberapa hal yang membuat saya gagal dalam konsisten yang saya upayakan adalah manajemen pikiran yang saya miliki masih kurang. Banyak hari di belakang dan banyak hari di depan di mana saya sedang sangat fokus mempersiapkan sesuatu yang menjadi tujuan penting yang ingin saya capai. Semakin fokus merayu Allah, meski (mungkin) lebih banyak memaksakan. Maafkan saya ya Allah. Di sisi lain, saya memang sedang fokus dalam ikhtiar maksimal doa optimal, agar apa yang menjadi tujuan saya itu juga Allah ridla terhadapnya. Agar nantinya tidak sia-sia. Itu saja.

Di sela-sela hari di mana saya tidak menulis di blog, sebenarnya banyak ide yang berkeliaran dan datang silih berganti. Tangan gatel pengen ketak-ketik di keyboard laptop. Namun, apa daya, saya seakan menjelma seperti emak-emak yang tak rela melewatkan diskonan atau super sale di pusat perbelanjaan. Akhirnya, saya memilih untuk berkutat pada personal statement yang tak kunjung usai, essai rencana belajar dan pasca belajar, dan pengajuan proposal calon penelitian hingga beberapa deadline yang sudah naik level jadi harga mati. Bagi saya yang hanya butiran milo ini, ada sebuah tes yang memang harus diulang karena hasil yang tidak memuaskan yang disebabkan saat tes saya diare stadium parah dan saya belum sempat makan. Bagi saya, itu kombinasi sempurna yang membuat saya benar-benar seperti butiran milo yang larut dalam sekali seduh. *tears 😥

Namanya juga hidup yang kata orang berisi perjuangan. Punya mimpi dan target. Namun, jalan untuk meraihnya tak melulu lurus, lempeng, dan mulus. Ada kejutan yang tak terduga, yang akan mengukur seberapa besar tekad atas keinginan itu. Karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil. I do believe it.

Hingga sekarang, saat ini, ketika saya memutuskan untuk kembali, saya masih berada di medan juang kok :D. Semoga tekad untuk memulai kembali bisa benar-benar terealisasi. Bisa semakin cerdas mengelola pikiran dan mood diri. Oke, ijinkan aku kembali ya teman-teman One Day One Post. ^^