Tepi Waktu

Kuibaratkan sebuah padang lapang, tempat yang pantas untuk menepi atau lebih tepatnya ditepikan, menyingkir atau lebih tepatnya disingkirkan dan tersingkir. Menepi-ditepikan, menyingkir-disingkirkan/te

rsingkir, hanya persoalan halusnya kata pada penerimaan maknanya, tetapi esensinya tetaplah sama. Sendiri. Diacuhkan. Kesepian. Seberapaun usaha dan rangkaian kata-kata indah singgah tetap saja beberapa detik kemudian aku akan diacuhkan. Sendirian saja. Bersabarlah!!! Itu harta berharga yang kupunya.

Jika ingin ‘hidup’ di belantara ini, yang harus kumiliki adalah menebalkan esensi rasa percaya. Jika perlu, tiap mili sekon dari waktu yang ada, akan kugunakan untuk memeriksa rasa percayaku, menebal atau menipis?

Ada yang bilang jika sendiri itu sebuah keindahan dan aku takkan pernah menyangkal itu tetapi aku juga takkan mengingkari bahwa semua itu takkan berarti jika kesendirian itu datang tidak tepat pada waktunya. Saat aku ingin ditemani dan didengar, lantas aku mendapati diriku hanya sendiri, ditepikan di salah satu sudut waktu dengan berbagai alasan sebagai pembenaran. Lalu, yang kulakukan hanyalah menerima dan melogika. Merangkainya lalu merasakan dan akhirnya akan kutelan, kubunuh waktuku dengan sendirianku. Rasakanlah, betapa menyedihkan keadaan itu!!! Meski suatu saat nanti, saat aku mati, aku akan juga sendiri. Saat itu, aku tak kan meminta siapa pun untuk menemaniku. Tak seorangpun, meski itu adalah orang yang menjadikanku rusuk kanannya.

“Walau raga kita terpisah jauh, Namun hati kitaselalu dekat Bila kau rindu, pejamkan matamu dan rasakan aku Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh Terhapus ruang dan waktu Percayakan kesetiaan ini pada ketulusan aishiteru”

*Nb: Sebuah pesan cantik [menurutku] dari potongan sebuah lagu singgah di wall-ku, pesan yang dikirim oleh seorang sahabat karibku, memang tiba di saat yang [sangat] tepat, saat di mana aku harus menebalkan esensi rasa percaya diantara semakin tebalnya rasa rindu.

Malam minggu ‘terindah’,
semarak kota Never Ending Asia, 10 Juli 2010

Advertisements

Menyederhana Cinta


Cinta…

Aku kehilangan kata di hadapan cinta tapi aku tak kehilangan makna di hadapannya.
Aku meninggi dan dimulya.

Cinta membekukan suara saat aku di hadapnya tapi cinta mampu mengejawantah pada rasa. Rasa jujur dan apa adanya. Senang terurai pada senyum simpul tak berkesudahan dan kecewa bereaksi pada kemarahan. Itulah cinta yang menyederhana. Bahkan kecewa, yang tanpa cinta tak mampu aku memilikinya. Cinta bertahta dan kuasa pada apa pun juga bahkan logika pun akan tunduk pada mulya cinta.

Menyederhana cinta.
Sesederhana cinta dan aku yang memilikinya…

@wohnung,

Ngawi, 27 Mei 2010