Dimana Toleransi Untuk si Lajang?

Sebelum saya menuliskan apa yang ada dalam benak saya selama ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini adalah hasil beberapa waktu dan beberapa kali bincang-bincang saya bersama life-partner saya dan sahabat saya dengan pengamatannya dan pengamatan saya.

Saya lupa tepatnya kapan, saya hanya ingat sebulan sebelum saya menggenapkan separuh agama, saya diwelingi oleh sahabat saya, beberapa sahabat saya agar tidak terlena pada euforia pasca pernikahan. Agar saya tidak mengumbar kemesraan di status akun lini masa yang saya punya, mengunggah foto berdua secara close-up dempet-dempetan dan kawan-kawannya. Saat itu, saya iyakan. Saya berusaha pegang dan jalankan. Ternyata setelah pasca pernikahan, harapan dari sahabat-sahabat saya pun diuji. Ternyata tidak mudah. Ya, bayangkan saja seperti anak kecil yang punya mainan baru. Dia akan berusaha agar semua teman-temannya tahu kalau dia punya mainan baru. Alhamdulillah, lelaki yang menjadikan saya tulang rusuknya memiliki tekad seperti amanah yang dititipkan sahabat saya. Akhirnya, pilihan kami ambil dan lahirlah kesepakatan yang hanya memasang relationship with di akun ruang publik yang kami miliki tanpa foto, tanpa kata mesra, tanpa kiriman apapun yang sifatnya hanya kami berdua yang tahu.

Saya dirundung rasa penasaran, saya mulai mengamati, bertanya untuk sekedar konfirmasi, berbincang dengan sahabat maupun life-partner saya tentang euforia pasca pernikahan. Saya pun menemukan fenomena itu.

Hidup itu pilihan. Seperti halnya pilihan untuk jadi high quality single sebelum pernikahan. Sangat begitu menjaga bahkan untuk urusan foto profil dan status di lini masa. Foto profil animasi, bunga, tokoh kartun, buku favorit, foto keponakan, dan kawan-kawannya, yang jelas bukan foto dirinya. Statusnya pun berisi kata-kata penuh hikmah, inspirasi, motivasi, ayat-ayat al quran, maupun hadits. Sangat menginspirasi dan sangat menjaga.

Lalu fenomena yang saya sebut euforia cinta pasca pernikahan pun saya dapati. Dimana yang dulunya begitu menjaga foto profil dan statusnya berubah setelah pernikahan. Berkata sayang, foto berdua, dan banyak hal ajaib lainnya. Hingga suatu ketika sahabat saya bilang bahwa ada metamorfosis untuk hal-hal itu. Ketika masih lajang: fotonya memakai tokoh kartun, bunga, dkk–setelah menikah: foto berdua atau foto pasangan–setelah ada anak: foto anak, foto anak bersama ayah atau ibunya. Begitu juga dengan statusnya, meskipun nggak selalu tetapi status berbau mesra yang mendominasi. Saya katakan, yaitu lagi-lagi adalah pilihan. Kita bebas menentukan pilihan dan keputusan.

Katanya, hidup ini pilihan. Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Entah itu keputusan, pemikiran, keyakinan, semua didominasi dengan pilihan. Termasuk pilihan untuk sikap. Dalam setiap pilihan ada sebuah konsekuensi besar dimana kita memang harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Benar kan? Begitu juga pilihan untuk tetap istiqomah menjaga atau norak pasca pernikahan. Itu pilihan.

Saya hanya berfikir ketika mendapati fenomena itu bahwa pernikahan adalah sebuah keputusan besar dimana keputusan itu tidak bisa kita mengambilnya sepihak saja. Pasti akan melibatkan orangtua dan keluarga. Tidak semua saudara-saudara kita yang memilih untuk menjadi high quality single sebelum adanya perjanjian agung bisa seperti kita yang diberi anugerah untuk segera menggenapkan agama. Mereka dihadapkan pada banyak pertimbangan. Ada yang sudah benar-benar ingin tetapi ada kakak (perempuan) yang belum menikah dan akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang kakak. Ada yang memutuskan untuk melanjutkan study karena ingin mewujudkan keinginan orangtua. Ada yang sudah ingin tetapi belum berkemampuan untuk menafkahi secara materi. Ada yang harus membiayai atau membantu meringankan beban orangtua untuk menyekolahkan adik-adiknya. Lalu banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang ada, yang membuat mereka menentukan prioritas pilihan.

Jikalau memang belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sebagai benteng. Jikalau sudah berusaha untuk berpuasa akan tetapi kita yang sudah menikah mengumbar mesra di ruang publik meskipun di dunia maya, bukankah itu juga bisa menjadi godaan? Meski secuil pasti ada rasa ingin dan membayangkan ‘wah, enak ya kalau udah nikah.’
Waahh, pengalaman 😀

Bagi saya, di sanalah ada sesuatu yang saya sebut toleransi. Toleransi untuk menjaga diri sendiri ataupun ikut berpartisipasi membantu menjaga ‘benteng pertahanan’ saudara atau sahabat-sahabat kita. Katakan saja, misal kita ingin jadi ‘kompor’ untuk mereka tetapi ada hal yang harus kita ingat bahwa posisi kita tidak selama sama dengan orang lain dan lagi-lagi tentang pilihan serta keputusan. Jikalau memang itu adalah sebuah pemberitahuan pada khalayak secukupnya saja, bisa dengan cukup menyampaikannya dengan married with atau relationship with atau status yang mengabarkan ‘alhamdulillah saya sudah menikah mohon doanya bla…bla…bla.’ bagi saya itu cukup. Karena di sana ada sebuah toleransi antara kita (yang sudah dan belum menikah). Lagi-lagi, ini masalah keputusan dan pilihan. Ini bukan ghibah atau membicarakan orang. Ini tentang fakta. Tentang fenomena yang mana menurut saya ada sebuah toleransi yang harus dijaga meskipun ada yang bilang bahwa mengunggah ‘kemanisan’ rumah tangga di dunia maya adalah salah satu cara mewujudkan sakinah.
Lalu, jika sudah seperti itu dimana toleransi untuk si lajang?

nb: karena belum menemukan gambar yang pas, jadi untuk sementara tanpa gambar dulu ya 😀

Advertisements