Cobalah Mengerti

‘Abiku, abimu, abinya’ saat saya mendengar kata-kata itu diucapkan maka saya akan benar-benar berteriak meneruskan “abi kita semua”. Sama halnya saat saya dengar, ‘umiku, umimu, uminya’ maka saya pun akan berteriak “umi kita semua”. Dan saat itu mood pun akan terjun bebas ke titik paling bawah.

Cobalah mengerti, ‘abi’ yang berarti ayahku, yang telah memiliki tanda  kepemilikan -ku, mengapa harus ditambah lekatan kepemilikan -ku, -mu, -nya?  Begitu juga dengan ‘umi’, kenapa? Saat saya bertanya kenapa, di suatu hari seorang dosen muda sekaligus teman berbincang menyarankan saya untuk membaca sebuah thesis. Jika saya bertanya lagi, maka akan saya dapati sebuah senyuman. Hmm, dan itu belum cukup karena saya masih punya banyak tanya tentang hal ini. Bahkan saya menjadikan fenomena ini sebagai judul tugas akhir mata kuliah Metode Penelitian Bahasa.

Cobalah mengerti, bisik pada diri, tentang fenomena ini.
Cobalah mengerti, mungkin ini sarana untuk lebih bersyukur karena Allah memberi kesempatan untuk saya belajar bahasa Arab selama empat tahun ini.

Cobalah mengerti, bahwa ini semua berarti sebagai pembelajaran. Kesabaran menerima sesuatu yang menjadi lazim meskipun itu tidak tepat jika dilihat dari struktur kebahasaan.

Cobalah mengerti, cobalah memahami. Dan tulisan ini hanyalah tulisan untuk menghibur diri.