Commuter Marriage, Siapa Takut?

Beberapa kali bahkan mendekati level sering, saya mendapat pertanyaan ‘Bagaimana menjalani LDR agar bisa tetap heppi?’, ‘Bagi tips menjalani LDR dong, Cind’, atau ‘Gimana biar LDR-ku semanis LDR-mu?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang berujung pada pertanyaan yang intinya sama, Commuter Marriage atau lebih sering dikenal sebagai Long Distance Relationship atau Long Distance Marriage bagi sebagian besar pasangan yang telah menikah adalah hal tidak mudah dijalani termasuk bagi saya sendiri. Terlebih lagi, saya heran ketika (ternyata) banyak dari teman-teman yang melihat saya tetap happy dengan commuter marriage yang saya jalani sekarang. Alhamdulillah.

Commuter marriage itu mudah diucapkan tapi susah dijalani (haha…iklan). Ya, memang tidak mudah. Bayangkan saja, baru saja menikah yang seharusnya hidup berdampingan, bahu membahu mengerjakan tugas rumah tangga, pacaran tiap malam minggu, makan bersama, pergi belanja berdua dan sederet rutinitas biasa berubah menjadi manis dan spesial (pakai telor), tiba-tiba menjalani rutinitas seperti biasa saat masih menjadi single fighter bahkan (mungkin) ada yang dibarengi dengan berandai-andai jika sang kekasih berada di sisinya. Karena tidak mudah menjalaninya, biasanya akan terlampiaskan di FB atau jejaring sosial lainnya. Ya, itu bentuk ekspresi.

Saya yakin, semua pasangan di dunia ini akan memilih hidup berdampingan tanpa berjauhan. Hidup bersama selayaknya suami istri, membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah dalam satu atap. Memelihara cinta kasih tanpa sejengkal jarak. Menanti buah hati dan menjalani tahap demi tahap kehidupan berumahtangga.

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya pun demikian, benar-benar menginginkan kehidupan yang ‘normal’, ingin mencecap manis pernikahan tanpa sejengkal jarak. ‘Jarak’ ini bukan tanpa alasan. ‘Jarak’ ini adalah pilihan dan saya salut pada kebesaran hati serta dukungan yang tak terbilang life-partner saya, kedua (pasang) orangtua saya sekaligus rasa syukur tak terhingga kepada Sang Maha. Alhamdulillah.

Hidup itu pilihan dan semua resiko dari sebuah keputusan harus tetap dihadapi bukan diratapi. Susah atau senang dalam menjalani commuter marriage itu berbeda-beda bagi setiap orang dan cara mengekspresikannya. Ada yang mengekspresikannya dengan update status ‘Kangen Abang yang di sana. Baru dua hari pisah serasa udah dua tahun lamanya’ dst. Ada yang lebih memilih memendamnya, menyendiri, atau mencatatnya dalam diary. Itu pilihan.

Saya menyikapi commuter marriage sebagai resiko dari sebuah pilihan. Saya yang diawal-awal juga sedih, tumbuh rasa iri kenapa memilih ‘jalan’ ini, dan rasa putus asa apakah bisa. Waktu mengantarkan saya belajar dan waktu membuat saya mengubah cara pandang dengan melihat commuter marriage dari sisi yang lain.

Pernikahan adalah dermaga tempat kita berhenti sejenak menjemput kawan seperjalanan. Kawan untuk saling mendukung dan menyemangati. Meski harus menyemai cinta kasih dalam jarak. Bahwa tak ada yang sia-sia dalam sebuah pilihan dan keputusan. Bahagia dan tidak bahagia tergantung pada seberapa besar rasa syukur yang hadir dan usaha nyata mensyukurinya. Bersyukur atas jarak yang membentang. Bersyukur atas waktu dan kesempatan yang menumbuhkan harapan-harapan. Saya bersyukur atas ‘bonus’ karena bisa memperpanjang kontrak tinggal di Jogja. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu-waktu dimana saya masih bisa belajar. Saya bersyukur atas kesempatan dan waktu untuk terus bertatap dengan sahabat-sahabat saya. Saya bersyukur atas waktu dan kesempatan untuk saya terus fokus menjemput takdir di kota ini. Saya bersyukur atas apa yang saya jalani. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Maka bersyukurlah dan engkau akan bahagia.

Commuter marriage ini tak menyisakan ruang kosong yang tak terisi dengan rindu. Setiap detiknya rindu itu tumbuh dan saya hanya bisa menjaganya, menitipkan pada dekapan Tuhan karena Dia adalah sebaik-baik penjaga dan pemberi. Jika rindu sudah overload dan butuh tempat untuk mengekspresikannya saya lebih memilih untuk sendiri, mendekap cinta saya dengan doa-doa. Memeluknya dalam sujud panjang bukan status di jejaring sosial. Sebanyak apapun saya ‘nyampah’ berkata ‘aku merindukanmu’ itu tidak akan memampatkan jarak yang jauh menjadi dekat. Sebanyak apapun kata rindu terucap tidak akan menjadi pintu doraemon yang mengantarkan saya datang di hadapan cinta saya di seberang sana. Rindu-rindu itu teruntai dalam doa yang berulang-ulang. Jika harus menangis masih ada lantai yang akan dengan lapang menerima bulir-bulir hangat. Mendekap cinta dengan doa. Pada saatnya nanti, akan ada buah yang teramat manis, sebuah hikmah yang luar biasa manis. Saya hanya perlu percaya dengan sebaik-baik keyakinan. Berharap, mungkin jarak ini adalah ‘warming up’ untuk jarak-jarak yang tak disangka di depan sana. Semoga Alloh menjaga kami. Menjaga diri dan hati kami. Semoga selalu ada bahagia dan sakinah dalam jarak. Semoga saya dan life-partner diberi kesabaran hingga nanti kami disatukan tanpa jarak. Semoga ini adalah kesempatan dalam rangka mempersiapkan kedatangan kakak kecil dan adik-adiknya ^^
Tetap optimis dan selalu berprasangka baik kepada Sang Maha, Ia tak akan menetapkan kesia-siaan pada hamba-Nya termasuk dalam menjalani commuter marriage.

Yap, itu sikap saya. Bagaimana sikapmu yang sedang menjalani commuter marriage seperti saya?

Advertisements

Abang, Romantis Itu Apa?

Perempuan muda itu nampak sedikit lebih sibuk di akhir pekan ini yang kata orang-orang adalah long weekend. Ya, perempuan muda itu akan sibuk memilih dan memilah baju yang akan ia kenakan untuk menyambut seorang laki-laki yang hampir enam bulan ini ia panggil Abang. Tak hanya itu, perempuan muda itu akan tambah sibuk memakai topeng seperti tepung di wajahnya selama beberapa menit. Berharap penyambutan yang sempurna.

Tiba di hari yang di nanti maka perempuan muda itu tak mudah untuk move on dari HP ungu mungilnya. Berkali-kali mengirim pesan pada Abang, untuk bertanya jam berapa berangkat, posisi di mana, bla..bla..bla… sampai pertanyaan sampai Jogja jam berapa.

“Aku sampai Jogja jam 3 pagi.” begitu pesan Abang yang mampir di HP-nya.

Pesan itu memiliki kekuatan ajaib yang membuat perempuan muda itu kian sibuk dan bungah. Membayangkan senyum Abang di awal harinya. Seakan semua penjuru kota mendengar teriakannya “I am coming Abaaaaaaaaang.” Pukul menunjukkan 05.30, dia bergegas menuju stasiun kota Jogja. Menunggu di depan pintu utara sambil sibuk memainkan HP-nya.
“Abang, aku udah di stasiun. Abang di mana?” sambil tengok kanan kiri mencari laki-laki yang menjadi life partner-nya.

“Masih ngopi di cafe shop, udah terlanjur pesen.”

Abaaaaaaaaaaang -_-

***

Mungkin, bagi sebagian besar orang yang telah menikah kemudian menjalani commuter marriage bukanlah hal yang mudah termasuk untukku yang menjalaninya demi menjemput takdir yang lain. Abang menitipkan mimpi-mimpi yang besar padaku dan mimpiku selama ini adalah mimpi Abang juga. Banyak yang tak percaya. Banyak juga yang tak menyangka bagaimana bisa kami memutuskan menjalaninya. Kenapa aku tak langsung ikut Abang, mendampinginya, menjalankan tugasku sebagai full wife, lalu bersiap menyambut kakak kecil, lalu jadi ibu seperti orang-orang? Kata Abang, yang namanya investasi pasti susah di awal, begitu juga dengan investasi ilmu. Itu kata-kata ajaib yang membuatku kuat.

Aku selalu iri melihat orang bergegas malam mingguan dengan pacar-pacarnya apa lagi di kos tiap malam minggu selalu sepi. Jika sudah bosan baca buku, corat-coret kertas, nempel pernak-pernik di dinding, bosan belajar menyulam maka sms dan berharap ngobrol dengan Abang adalah hal yang mengasyikkan.

“Abang ngapain?”

1 menit berlalu. 3 menit berlalu. 5 menit berlalu, dan…

“Abaaaaaaaaaaaaaaang….”

“Nge-game”

Weekend selanjutnya, kali spesial karena Abang lebih dulu mengirim pesan.

“Udah baca The Jacatra Secret?”

“Belum” jawabku. “Ceritanya gimana Bang?”

“Besok baca sendiri”

“Abang, aku tanya gitu biar ada obrolan. Kalau kaya gini, habislah sudah bahan obrolan.”

Weekend selanjutnya,

“Abang kapan terakhir menelponku?”

“Lupa”

“Mbak kosku aja, tiap hari ketemu masih sempat ditelpon pacarnya tuh. Masa kita udah nikah, udah sah pacaran, Abang nggak nelpon-nelpon sih…”

“Lebay”

“Besok telpon aku ya…” kirim pesan berharap dengan sangat.

Keesokan paginya, pukul 5 berlalu, pukul 6 berlalu, pukul 7 berlalu, pukul 8 berlalu, pukul 9 berlalu.

“Berharap HP-ku bunyi, akhirnya harus move on dr HP. Abang jaga hati, jaga diri, dan jaga kesehatan ya… “

***

Suatu malam saat berkumpul dengan penghuni kos, ada pesan masuk di HP Mbak kos dengan pesan panggilan sayang dari pacarnya. Aku pun ke kamar, mengambil HP dan mengirim pesan.

“Abang, Mbak kosku manggil pake sayang-sayang sama pacarnya. Kita gitu ya…”

“:-p”

“Nggak romantis”

Hari-hari berikutnya dengan obrolan via WA ataupun sms,

“Abang, kalau bilang apa-apa dikasih buntut “Yang” atau “Dek” gt loh. Biar romantis.”

Tanpa respon dan pesan terkirim begitu saja hingga kami menjalani commuter marriage hampir 6 bulan.

***

“Abaaaaaang” perempuan muda itu sedikit berteriak sambil melambaikan tangan. Berharap Abang melakukan hal yang serupa tapi yang terjadi justru Abang tetap diam dan bersikap cool menghampirinya.

“Gandeng tanganku” pintanya

Lalu keduanya bergegas menuju tempat makan yang menjual Gudeg dan menikmatinya di depan rektorat kampus biru, di sebuah kursi yang menghadap hutan mini yang dihiasi pohon-pohon tinggi berhias sarang burung di setiap ujung dahannya. Menikmati sarapan di antara hangat matahari yang mulai meninggi. Di sela-sela kunyahannya, perempuan muda itu bertanya,

“Abang, romantis itu apa?”

“Romantis adalah ketidakromantisan itu sendiri.”

Sambil menguyah, perempuan muda itu terus berfikir dan mengingat lalu tersenyum, “Iya ya, tidak romantis adalah romantis itu sendiri. Abang banget.” 😀