Para Tersangka Paling Kompak

Empat anak perempuan keluar kamar berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang sama “mau diapakan kita?” Terus berjalan melintasi koridor dan masih sempat-sempatnya bersay hello dengan yang lain. Ghurfah addluyub kosong tak ada konferensi kecil disana karena malam telah cukup larut. Mereka terus berjalan hingga melewati teras depan asrama.
“Huuhhh, aina na’li??” “Mafii kulluh!!!” seorang dari mereka yang teridentifikasi bernama zeinth memulai membuka percakapan.
An’ass jiddan….” ryan pun tak kalah dengan gerutuannya.
“Kholas yaa akhwati… Hayya bisur’ah!!!” Arrozi pun juga tak mau kalah untuk ikut berkomentar, hanya Fath alias si Bontot yang tak berkomentar karena dia satu-satunya anak dari mereka berempat yang sedang mengumpulkan nyawa untuk hidup. Akhirnya tak satupun sandal mereka temukan.
“Payah banget!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat aku gak pake bahasa”, ryan terus saja berceloteh ria dan tak sadar bahwa mereka berada dalam zona bahasa.
Tanpa alas kaki alias nyeker, tibalah mereka di ruang sidang–kamar ustadzah–
Setelah berucap salam, mereka berempat memasuki ruang sidang. Setelah bercakap-cakap tibalah pada inti permasalahan kenapa mereka dipanggil. Ustadzah hanya tersenyum dan berkata, “Kenapa kalian berempat sangat kompak, satu kamar tak ada yang tahfidz hari ini??”
dan mereka berempat menjawab serempak tanpa ada komando, “Kami ketiduran, Ustadzah dan kamar kami kunci dari dalam.”
“Besok jangan terulang lagi yaa…” kata ustadzah.
“Memang kita tukang tidur semua…”

Keesokan hari…
Jam dinding penjara suci berdentang menunjukkan pukul 21.00 ritual akan segera dimulai–mahkamah bahasa– setelah terdengar kata-kata yang tak asing lagi “nahnu min qismu lughoh….bla…bla….”. Faith berseru, “Show time ryan, kakak tuaku kali ini kau tak kan lolos dari mahmakah hehe….”
Hingga akhirnya disebutlah nama mereka berempat tentu saja seantero penjara suci mendengarnya.
Mereka keluar dari kamar melewati koridor–uiiih…serasa jadi artis haha…– teman-teman dari kamar lain berseru pelan ” Chayo… Cah Firdaus dari kemarin kok kompak banget…”
Tibalah mereka di ruang sidang alias di teras depan yang langsung menghadap makam.
Tanpa basa-basi langsung hakim membacakan kesalahan masingt-masing tersangka.
Hakim: “ukhti ryan, antum bilang Payah banget!!! Pada main kemana sich tu sandal-sandal?? Ups… Gawat!! Aku gak pake bahasa…”
Hakim: “ukhti Faith,Aku suka yang panjang…. Hey… buka aja pelan-pelan”
Hakim: ” ukhti Zeinth, dia tuch terlalu gede, pa gak da yang lain”
Hakim: ” ukhti arrozi, huuuhhh kalo habis makan diberesin donk!!!”
Hakim: Great!!! Your punishment…..
Make a story….dan selamat atas kekompakan kalian.

*Salam kompak untuk kalian…
Semua itu tak kan terulang…
Tapi kita akan tetap ingat apa yang pernah kita lakukan… It’s amazing…!!!
Untuk adek-adek jangan ditiru…
Maaf untuk semua…

Ket:
Ghurfah addluyub : ruang tamu
Aina na’li : dimana sandalku?
Mafii kulluh : Gak ada semuanya
An’ass jiddan : aku ngantuk banget
Kholas yaa akhwati, Hayya bisur’ah : Sudahlah… Ayo cepat!

Advertisements

Never Endingt Spirit

Masih ingatkah kalian dengan drama korea “One Litre of Tears” ? Disana diceritakan perjuangan seorang gadis yang terkena penyakit kelumpuhan total yang mempunyai semangat untuk terus membantu orang lain. Ketika seluruh tubuhnya lumpuh, dia kehilangan semangat. Namun, sang ibu memberi semangat bahwa semangat yang ditunjukkannya memberikan inspirasi bagi orang lain yang berada dalam kondisi terpuruk dan yang lebih penting, buku harian yang dituliskannya memberikan dorongan nyata tentang “Hidup harus diteruskan apa pun kondisinya.”

Jangan pernah beranggapan bahwa sudah terlambat mengarahkan kembali minat kita. Boleh jadi memang sudah terlambat tetapi selalu akan ada kesempatan selagi udara masih terhirup. Setiap orang memiliki kesempatan untuk kembali atau terlibat dengan apa yang menjadi impian. Tidak ada kata “Tidak” untuk tetap bertahan dalam keterpurukan. Teruslah melangkah dengan penuh keyakinan. Raih apa yang menjadi impian kita walaupun jalan yang kita tempuh berbeda. Tetap semangat…..!!!

Terimakasih untuk “Never Ending Spirit”nya….

“Saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai”


AKU ADA

Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku selain hatiku
Dan ombak berderu

Di pantai ini kau selalu sendiri
Tak ada jejakku disisimu
Namun saat kutiba
Suaraku memanggilmu
Akulah lautan
Kemana kau selalu pulang

Jingga dibahuku
Malam didepanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Kuterus berjalan
Kuterus melangkah
Kuingin kutahu
Engkau ada

Memandangimu saat senja
Berjalan dibatas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yangt lebih rindu
Selain hatiku
Andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku disisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi
Akulah lautan
Memeluik pantaimu erat

Jingga dibahumu
Malam dibahumu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Kutahu kau tahu
Aku ada

Dee “Rectoverso”
“Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta.”