Pandangan #2: Memandang Rumput Tetangga

Hal sawang-sinawang atau yang biasa dikenal dengan pandang-memandang ini seakan terlihat sangat remeh, tetapi tidak bisa dipungkiri hal yang remeh ini sering mengikis dan mendatangkan ujian bagi hati. Di mana hati akan diuji untuk melihat ‘ke atas’ atau melirik hal-hal yang menawarkan kenikmatan, kemudian akan datang bisikan-bisikan yang membandingkan antara keadaan diri dan kenikmatan yang hadir dalam pandangan yang (mungkin) sekejap.

Ada yang terlihat bahagia menikmati jalan-jalan ke luar negeri dengan senyum-senyum sumringah di setiap jepretan kamera. Namun, siapa yang tahu di balik senyum sumringah itu ada usaha yang berdarah-darah untuk mewujudkan sebuah perjalanan ke luar negeri. Ada yang mengunggah foto anak-anak yang lucu dan menggemaskan yang jika dipandang mengundang rasa iri atau rasa ingin memiliki, tapi siapa yang tahu, di balik senyum lucu dan manis bayi-bayi itu ada perjuangan berat para ibu, sedangkan penikmat foto bayi-bayi itu hanya tahu senyum yang terukir di wajah ceria sang bayi. Ada yang memiliki pekerjaan bagus dan mentereng, bisa memiliki apa yang diinginkan dengan gaji yang diterima tiap bulan. Di sisi lain, siapa yang tahu bahwa mereka dibebani pekerjaan yang banyak, kurang porsi tidur bahkan berkurang untuk quality time dengan orang-orang tercinta. Ada seorang single yang memandang bahwa pasangan yang menikah itu selalu bahagia karena ada partner untuk berbagi ketika foto-foto perjalanan berdua terunggah di akun-akun media sosial. Ya, itu hanya sekelumit kisah tentang memandang.

Dunia ini dipenuhi dengan tipu daya yang juga ditimpali dengan debu-debu halus yang berterbangan di mana-mana. Oleh karena itu, jika tak punya alat bantu untuk penglihatan, tidak ada yang menjamin jika nantinya akan tersesat atau terperangkap. Maka agar bisa terhindar dari itu, dibutuhkan pelindung mata agar bisa tetap melihat, berhati-hati dalam melangkah dan menghindari jebakan.

Alat bantu itu bukan sekedar kacamata biasa, kacamata biasa pun ketika ada goresan-goresan di lensa, maka lensa pun perlu diganti, perlu di-upgrade. Begitu juga alat bantu untuk memandang hal-hal yang bersifat filosofis dalam hidup. Alat bantu itu adalah iman, ilmu dan amal. Ibnul Jauzi berkata, “Aku merenungi dunia dan akhirat. Aku menyadari bahwa peristiwa-peristiwa yang menyangkut dunia sungguh nyata dan alami, sedangkan peristiwa akhirat hanya dapat dilihat dengan kacamata iman dan keyakinan. Yang nyata lebih kuat daya tariknya bagi mereka yang lemah iman.”

Peristiwa-peristiwa yang menipu pandangan akan selalu ada dengan berbagai penyebabnya. Bisa karena pergaulan, melihat hal-hal yang menarik hati yang menderung membawa pada kecintaan duniawi. Lalu bagaimana? Menyediakan sedikit waktu untuk berdzikir, merenung, berpikir, serta menambah porsi ilmu dan pengetahuan tentang agama, karena merenung dan tafakur akan menghindarkan dari pikiran-pikiran negatif sedangkan ilmu, pengetahuan yang selalu ditadabburi adalah obat yang sangat menenangkan.

Jadi, tidak hanya ponsel pintar saja yang di-upgrade tetapi alat bantu memandang yang kita miliki juga perlu diperbaiki agar dengan alat bantu yang jernih bisa membantu kita mengarungi hingar-bingar dunia serta mata yang tertutupi oleh debu-debu yang akan menyulitkan setiap langkah yang akan kita ambil dan jalani.

 

nb: related post

Advertisements

5 thoughts on “Pandangan #2: Memandang Rumput Tetangga

  1. bener. urip ki mung sawang sinawang. lek ga nyawang wong liyo sukses yo kadang kita ga termotivasi. ya kira2 begitulah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s