Entschuldigung

“Ingatkah kau, drama di bulan ini?”

Sebenarnya tak ada maksud untuk membuka luka lama. Sebenarnya aku pun tak ingin mengingatnya tapi aku harus tunduk pada permainan perasaan dan pikiran yang kemudian memainkan slide show dua tahun yang lalu. Bulan ini, Mei—entah hanya aku yang ingat atau kau dan mereka pun juga mengingatnya—genap dua tahun (tepatnya tanggal berapa aku lupa, yang kuingat itu terjadi di bulan Mei) perdamaian kita tanpa tahu apa masalahnya secara jelas. Kekanak-kanakkankah? Keegoisankah? Kesalahpahamankah? Entahlah. . . Kutahu kita saling menyakiti atau hanya aku yang menyiksa diri. Kau selalu sembunyi di balik senar gitar dan temaram malam. Aku tak tahu apakah kau merasa aku melukaimu hingga kau tak merasa tersakiti karena aku telah sering menanam luka itu dalam hatimu. Ya, kau telah terbiasa. Orang bilang padaku, kau bisa merajut senyum untuk mereka tapi mahalkah senyum itu untukku? Orang selalu memujimu tapi aku mengenalmu dengan versi yang kumau. Itulah masalahku.

***

Mei 2006

Malam memuram. Kita terdiam. Diamku, diammu, diam kita telah menyakiti udara membuat alam enggan bersuara. Kuyakin malam ini kau sedang bercumbu dengan sepotong kue kuning di angkasa sambil kau susutkan airmatamu. Aku tak pernah tahu bagaimana sakitmu karena kau tak pernah brontak padaku. Diammu adalah sangkar bagi peraasaanku karena aku tak pernah tahu apa yang kau rasa. Aku hanya bisa menebaknya. Inginku dalam diammu kudengar banyak suara karena kuyakin diammu adalah kata-kata. Namun lagi-lagi aku tak bisa. Malam ini aku tak melihatmu tapi tangisanmu yang tak terlihat telah merobek waktuku dan menghampiriku dengan caranya sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kata terlahir dari huruf yang berpasangan. Kita juga sama-sama tahu seindah apa pun kata terukir ia tak kan bermakna jika tanpa jeda. Kita pun sama-sama mengerti akan hal itu dan kita pun menyadari jeda di antara kita kian melebar. Kuputuskan datang menjengukmu ke tempat yang kau agung-agungkan sebagai singgasanamu. Kedatanganku ke singgasanamu kali ini bukan tanpa misi. Aku ingin kita sepakat menghapus beberapa jeda yang kita punya lalu menciptakan spasi secukupnya agar kita bisa bergerak untuk saling memahami dan menghargai. Itulah misiku.

Dalam raga kita ada hati, dalam hati masih ada satu ruang tak bernama. Ruang itu kecil, isinya sangat halus, lebih halus daripada serat sutera. Berkata dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh nurani. Harapanku, apa yang ada dalam genggamanku saat ini adalah kunci untuk membuka ruang tak bernama itu agar kutemukan serbuk-serbuk pengampunan darimu. Kunci itu adalah misiku yang kuat yang bisa menguatkanku hingga aku ada di hadapanmu. Seperti sekarang ini. Kita tak sendiri. Kita berdelapan. Ada enam belas bola mata yang menyaksikan termasuk mata kita yang sibuk mencari jawaban, sibuk mengumpulkan daya untuk sebuah pengakuan atas kejujuran. Kita tertunduk. Sibuk.

“Mulailah agar semua ini cepat berakhir”, batinku. Semua terdiam seolah biarlah kita bicara dengan hati. Bicaralah maka akan kita dengar tanpa kita perlu alat, tak perlu hadir hanya untuk bercakap.

“Ayolah…!!!”, seruku tapi tidak ada gelombang untuk menyuarakannya. Hening.

Aku masih diam sambil menunggu seseorang yang telah berjanji menemaniku untuk perdamaian ini. Dia teman seperjuangan dalam menyelesaikan kontrak kerja yang telah mengikat kami dalam satu tim.

“Maaf…maaf…aku terlambat”, teriaknya. Kutatap dia dan dalam tatapanku, kuingin dia melihat kelegaan dalam diriku.

“Akhirnya kau datang, kawan.”, seruku tapi masih tetap dalam kebisuanku.

“Kedatanganku kemari …”, itulah awal kata yang meluncur dari bibirku.

“Jangan katakan apa pun!”, perintahnya. “Sebelum kau terima tisu ini, aku tak ingin airmatamu keluar sia-sia. Aku terlambat karena membeli ini.”, lanjutnya dengan gaya slengekannya. Itu sangat menghiburku di saat seperti ini.

“Terimakasih…” Aku jawab dengan sebuah anggukan.

“Di saat kritis seperti ini kau masih sempat bercanda?”, pikirku. Kubalas slengekannya, “Apa kau cuci dulu tisu ini sebelum kau memberikannya padaku? Baunya seperti deterjen. Bau Rinso.” Dia tertawa dan aku semakin lega akan kehadirannya. “Terimakasih kawan, ini sangat harum.”

Ku mulai merajut kata. Semua diam. Semua menunggu mutiara yang akan terlahir dalam perdamaian ini. Akhirnya selesai juga rajutan itu. Aku memulai negoisasi itu.

“Kedatanganku kali ini, yang pertama untuk menyambung persaudaraan di antara kita. Kita tahu apa yang terjadi tanpa perlu ditutupi lagi. Aku ingin meminta kerelaanmu untuk memaafkanku atas semua sikap dan keegoisanku. Jika boleh, ijinkan aku memintamu agar kau tak pergi dari kontrak yang telah kita sepakati bersama. Kita semua saling membutuhkan untuk saling melengkapi. Maukah kau menerima permintaanku?”

“Tak pantas kau meminta itu padaku. Aku tak pantas menerimanya. Justru aku yang harus meminta maaf atas semua ini. Aku hanyalah sehelai benang yang cacat yang hadir dalam selembar kain yang kau sulam sangat sempurna. Maka buanglah benang cacat itu agar kainmu tetap indah. Aku rela jika…”

“Dalam sulamanku tak ada benang yang cacat karena aku telah memilihnya dengan teliti. Aku mohon, kembalilah bekerja dan sempurnakan keberadaan kami. Cobalah…!!!”

Kulihat kau tak menolak dan kau pun juga tak mengiyakannya. Biarlah, kali ini kubiarkan kau berfikir. Kubiarkan kau berdiskusi dengan pikiran dan nuranimu sendiri tanpa perlu aku menerobos masuk ke dalam untuk mengetahui proses yang sedang kau jalani. Berakhir sudah negoisasi perdamaian ini walau terkesan menggantung. Masih saja, aku membiarkan nuraniku berharap padamu agar pintu untuk memasuki ruang itu terbuka lebar. Agar spasi yang telah hadir terhapus hingga tercipta jeda yang wajar. Bukalah dirimu karena membuka diri berbeda dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Tak lelah aku berharap agar aku menjadi tamu dan duduk di teras itu sebagai sahabatmu. Salah satu sahabat dari sekian banyak sahabat yang kau miliki. Sulit sekali mengatakannya. Akhirnya terkatakan juga, “Entschuldigung”.

***

Lamunanku pun selesai bersama bulir-bulir peluh langit yang jatuh karena lelah berarak . Teater singkat yang menjebak pada masa lalu itu telah menutup layarnya tanda drama singkat itu usai. Andai kutahu kemana peluh-peluh langit itu bermuara maka akan kutitipkan pesan singkat itu untukmu. Andai pesan itu sampai maka akan kau dapati aku berucap, “Entschuldigung…Entschuldigung…Entschuldigung…!!!”

Teater yang kuciptakan terasa amat sempurna karena sayup-sayup terdengar sebuah lagu merdu dan kubiarkan lagu itu melintas hingga tertangkap oleh pendengaranku.

Pertengkaran Kecil

Sedih bila kuingat pertengkaran itu

Membuat jarak antara kita

Resah tiada menentu

Hilang canda tawamu

Tak ingin aku begini

Tak ingin begini

Sobat rangkaian masa yang telah terlewat

Buat batinku menangis

Mungkin karena egoku

Mungkin karena egomu

Maaf aku buat begini

Maaf aku begini

Bila ingat kembali janji persahabatan kita

Tak kan mau berpisah karena ini

Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah

Karena aku ingin tetap sahabatmu

By: Edcoustic

Dengarkanlah…Rasakanlah…!!! Kisah ini teramat indah untuk disia-siakan…

Kota Berhati Nyaman, Mei 2009

 

“Terimakasih telah mengajariku berkisah”

“Senyum dan airmata akan terasa indah bila tepat pada waktunya”

Note: “Entschuldigung” di ambil dari bahasa jerman yang berarti “Maafkan aku.”

Advertisements

2 thoughts on “Entschuldigung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s