Ada Budaya Dalam Tumpukan Sampah

Manusia hidup dalam suatu komunitas yang dapat menghasilkan berbagai budaya. Budaya dapat berwujud materi dan non materi. Salah satu hasil budaya berwujud materi adalah sampah. Sampah adalah salah satu hasil dari budaya itu sendiri. Seringkali sampah hanya dipandang sebelah mata bahkan ada yang menganggapnya barang yang tak berguna. Banyak orang menganggap sampah hanyalah perusak keindahan, pembuat polusi udara dengan baunya yang tidak sedap dan sumber penyakit. Dengan keadaan seperti itu, sampah yang seringkali membuat orang tidak merasa nyaman pada kenyataannya ternyata masih ada orang-orang yang hidup dari sampah, memunguti barang-barang yang masih bisa memberi mereka penghidupan seperti sampah plastik, botol air mineral dan sampah anorganik lainnya.

Sampah-sampah tanpa kita sadari adalah hasil dari budaya kita. Sampah-sampah yang terbuang tanpa kita berpikir ulang bagaimana memberdayakan lagi hasil budaya yang telah terbuang. Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk daur ulang pada sampah-sampah itu yang pada akhirnya bisa kita manfaatkan lagi keberadaannya. Seperti pemanfaatan sampah plastik terutama kemasan-kemasan detergen dan kemasan makanan ringan menjadi tas-tas sederhana, penutup meja, karpet atau layar untuk menjemur padi (ini bisa ditemui di daerah pedesaan dan telah menjadi barang yang biasa digunakan dan dicari keberadaannya). Akhir-akhir ini, banyak kita temui slogan ‘go green’ sebagai wujud peduli pada lingkungan dan beberapa supermarket –terutama wilyah Yogyakarta– telah menggunakan tas-tas belanja yang bisa digunakan berkali-kali pakai. Selain itu, botol-botol mineral pun bisa didaur ulang untuk hiasan-hiasan rumah tangga seperti tudung saji bahkan botol-botol air mineral itu mulai digunakan untuk membuat alat musik tradisional berupa angklung. Tidak hanya plastik, buah duwet (bentuknya bulat kecil, berwarna ungu gelap, bisa ditemukan di ujung Jalan Sosio Humaniora, dekat bunderan dan tumbuh di halaman Fakultas Filsafat) serngkali terbuang bahkan terinjak tak berguna, akan tetapi buah itu bisa digunakan sebagai pewarna batik alami dan hasilnya tidak kalah bagus dengan pewarna kimia.

Banyak usaha yang bisa kita lakukan untuk menjadikan sampah yang berupa hasil budaya menjadi sebuah budaya baru yang lebih bermanfaat dan bernilai seni. Mari kita ciptakan suasana cinta budaya sendiri dengan ‘bahan mentah’ yang kita miliki sekalipun itu adalah sampah.

DIY, 31 Oktober 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s