Kado #1 ‘hanya lilin’


Tak ada kue tart, hanya lilin merah berdiri di atas gletser kesendirian, kilau apinya menantang, menerangi usia yang baru saja berganti. Usai nafas yang menghukum mati api, lilin tersungkur dan berganti tempat di dasar tempat sampah. Hangat nyalanya sebatas sumbu, dalam sekejap usailah sudah.

Sederet angka dan huruf bertuliskan namamu. Mengingatkanku pada hari spesialmu. Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku pada sensasi keabadian akan ingatan. Hanya fotomu yang mampu melakukannya. Rolex, Gucci dan kawan-kawannya tak mampu lakukan itu.

Aku tak mampu melewatkannya denganmu tahun ini. Kau merayakannya seorang diri. Kesendirian adalah kado yang hadir dalam setiap kesempatan, katamu. Jadi ‘Selamat Ulang Tahun’ hanya bisa terucap tanpa hadir bertatap. Hanya dengan perantara namun kau bahagia menerimanya.

Sederet doa tanpa api menghangatkanmu setiap hari. Meski kau bilang “aku sendiri” tapi doa-doa itu mampu jadi penghangat bagimu. Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Ada kalanya kesendirian adalah kado ulang tahun yang terbaik.

Bertambah nominal usia dan berkurangnya kesempatan tak menjadi jaminan kita paham segala-galanya. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Akan kuucapkan sekali lagi Selamat Ulang Tahun…
Semoga kita rasakan indah berulang tahun setiap hari….

Ngawi, 21 Juli 2009


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s